After Tomorrow

After Tomorrow
Katak


__ADS_3

Masih Flashback


"Ma, bantuin Nathan biar bisa main lagi dengan Ana."


Pintanya merengek-rengek.


Grace saat ini sedang menyiapkan sarapan di dapur. Ia sudah bosan mendengar rengekan anaknya, ada masalah apa lagi ia dengan Ana. Terakhir bukannya Nathan melempar bonekanya hingga tersangkut di atas pohon. 


"Maaa, dengar Nathan kan?"  


Wanita dewasa itu akhirnya memandang ke arah Nathan kemudian berujar.


"Nathan, memang kamu bikin ulah apa lagi?" Tanyanya, berharap tidak ada kenakalan lainnya.


Yang ditanya hanya bisa menyengir kuda. 


Perasaan tak enak langsung menggelayuti Grace.


"Kemarin, Nathan menaruh katak di sepatu Ayana." Jawabnya jujur.


What tunggu, ini bener Nathan yang ngomong astaga, kok bisa-bisanya.


"Ya Tuhan, Nathan kemarin kan kamu sudah janji untuk tidak mengganggu Ana lagi, kenapa malah berbuat seperti itu."


Nathan hanya meringis kecil, dia memang belum bisa memegang janji.


"Kupikir, adik kecil suka katak Ma, soalnya ada buku pangeran kodok di raknya." elaknya, setahunya Ana memang sangat menyukai cerita pangeran kodok. Padahal tidak ada bagus-bagusnya menurut dia. Namun Nathan tetap mencarikan katak untuk diletakkan di sepatu Ana sebagai hadiah.


"Astaga naga, Mama pusing mikirin kelakuan kamu, biar saja Ana nggak mau main lagi denganmu."


Final, Grace sudah kesal dengan kelakuan anaknya yang tak kunjung berubah. Mau ditaruh dimana mukanya kalau ketemu Santi lagi. 


"Yahhh, Maaaa bantuin Nathan." rengeknya lagi karena mamanya tidak kunjung merespon.


"Ada apa?" 


Sebuah suara berat tiba-tiba muncul, yang tak lain adalah Papa Lucas, ayah Nathan. Rambutnya yang coklat terlihat basah karena keringat, Lucas baru saja selesai berolahraga di ruang Gtm pribadi mereka. Hari ini memang hari libur, jadi mereka bisa berkumpul bersama 


Nathan langsung terdiam karena tidak ingin dimarahin oleh Ayahnya. Dia menatap mamanya dengan pandangan memohon agar tidak melaporkan kelakuannya. Namun sepertinya Grace kali ini tidak mau berpihak lagi kepadanya. 


"Itu Pa, anakmu satu-satunya, bakal banget sih, masak dia ngaruh katak di sepatu Ayana, terus ya kemarin dia juga udah lempar boneka Ana di pohon." ujarnya sembari mendekat ke arah suaminya dan memeluk lengannya. 


Lucas hanya terdiam belum menanggapi laporan istrinya. Netra birunya menatap tajam anaknya yang kini menunduk.

__ADS_1


"Benar yang dikatakan Mamamu, Nathan?" Tanyanya dengan nada datar. 


"Iya Pa, Maaf tapi Nathan tidak bermaksud." Balasnya, alasan yang sama dengan yang di ucapkan kepada ibunya. 


Grace memutar bola matanya malas saat mendengar hal itu, anaknya pintar sekali mengelak.


"Kenapa kamu melakukannya?" Lucas kembali bertanya, kemudian dia duduk di meja makan, dan mengisyaratkan Nathan untuk ikut duduk. 


Anak laki-laki itu masih bungkam dan belum mau menjawab. 


"Jawab dengan jujur, Papa sama sekali tidak suka dengan kebohongan." Lanjutnya dengan suara yang lebih tegas. 


Grace sampai berhengkit mendengar nada bentakan suaminya, ia kemudian mengelus lengan Lucas untuk menenangkannya. 


"Alamak, bisa perang dunia ini."Ringisnya dalam hati.


"Emmm,." Nathan memandang ke arah Ayahnya kemudian ibunya, lalu menjawab. 


"Sebenarnya, Nathan cuman ingin Ana bermain dengan Nathan saja bukan dengan boneka, karena saat bermain dengan boneka itu, Ana seperti melupakan keberadaan Nathan, dan tentang katak itu sebagai hadiah buat Ana, karena Ana suka cerita pangeran kodok."


Grace memijit kepalanya saat mendengar pengakuan Nathan hampir sama dengan apa yang diucapkan Santi tempo hari, bahwa Nathan sebenarnya hanya ingin dilihat oleh Ana. Bagaimana anak sekecil itu bisa punya pikiran seperti itu. Matanya memandang ke arah suaminya, oke jelas dia tahu kalau Nathan itu sifat dan rupanya plek ketiplek dengan suaminya. Lucas dulu saat mengejar cintanya memang antimainstream dan sering membuat dia salah paham kalau Lucas tengah membencinya padahal kebalikannya.


Kenapa Nathan bisa seperti Lucas sih? gerutunya, coba kalau menurun dia pasti bisa bersikap sopan, manis dan penurut.


Seulas senyuman tipis muncul di bibir Lucas namun hanya sebentar. 


Ia melihat anaknya yang masih menunduk tak berani memandang wajahnya. Dalam hati dia berpikir bahwa Nathan persis seperti dirinya dulu, ia tipe yang dominan sekali menyukai sesuatu maka ia akan bertekad mendapatkannya. Termasuk salah satunya Grace, wanita yang sangat dia perjuangkan. Jadi untuk mengatasi Nathan hanyalah membiarkannya saja sembari mengarahkan hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak. Karena kalau salah langkah bisa-bisa Ana malah lari pergi. Walaupun Nathan masih kecil, dia merasa kalau putranya itu terkadang mempunyai pikiran yang lebih dewasa dari usianya. 


"Terus, sekarang kamu sama Ana bagaimana?"  Tanyanya lagi dengan tangan bersidekap.


"Ana nggak mau bermain sama Nathan lagi Pa." Jawabnya lesu. 


"Kamu tahu kan, kalau perbuatanmu itu salah apa pun alasannya?" 


"Iya Pa." Balasnya lemah, ia sudah membayangkan hukuman yang tidak-tidak dan yang paling tidak ia sukai adalah kalau disuruh membersihkan kolam renang


"Apa yang harus dilakukan seseorang ketika berbuat salah?" tanya Lucas.


"Harus minta maaf Pa, itu sudah Nathan lakukan, tapi Ayana masih tidak mau memaafkan Nathan Pa."


Nathan memang sudah meminta maaf kepada Ana tempo hari, namun gadis kecil itu mengacuhkannya.


"Kalau begitu, Papa minta kamu terus minta maaf sampai Ana mau memaafkanmu ingat jangan buat dia menangis lagi."

__ADS_1


Nathan melihat ke arah ayahnya yang raut wajahnya tidak sedatar tadi. Karena ada senyuman yang terbit di bibir itu. 


"Beneran Pa?" Tanyanya memastikan. 


"Iya."


Grace terhenyak mendengar ucapan suaminya, nah lo kok nggak dihukum malah dibiarkan saja. 


"Pa, kok Nathan malah dibiarkan sih?" gerutunya sebal,karena ia sudah lelah dengan kenakalan Nathan. 


"Kan sudah Papa hukum Ma." Jawab suaminya. 


"Ihh, males Ah sebel sama Papa, Papa dan Anak sama saja." kesalnya. 


"Ma, listen to Me, Nathan itu mirip sekali dengan Papa, dan Papa pernah mengalaminya, jadi Insya Allah, Papa tahu mana cara yang terbaik untuk menangani dia."


"Terserahlah, pokoknya kalau nanti Ana menangis lagi, Nathan nggak boleh ketemu sama Ana lagi selamanya, sudahlah Mama mau ambil sarapan kalian dulu di dapur."


Grace kemudian berlalu meninggalkan Ayah dan anak itu. 


"Nathan, kamu dengar kan apa kata Mama, janji tidak membuatnya menangis lagi." 


Nathan mengangguk tegas. 


"Tos dulu dong sama Papa."


Tos,


Lucas mengangkat tangannya dan melakukan gerakan tos dengan Nathan. 


"Pintar anak Papa." Kelakarnya bangga. 


"Bagus Ya, Papa sama Nathan bersengkokol."


Grace yang mendapati mereka melakukan gerakan Tos malah salah paham dan itu membuat Lucas ketar ketir. Karena kalau istrinya marah bisa-bisa. 


"MALAM INI AYAH TIDUR DENGAN NATHAN."


Nah kan, baru saja dibilangin. 


Nasib-nasib**. 


****

__ADS_1



__ADS_2