After Tomorrow

After Tomorrow
Ngidam Lagi Part 1


__ADS_3

"Mas akan kabulkan permintaanmu yang lain asal jangan yang itu ya."


Jonathan sedari tadi mencoba membujuk Ayana, tapi istrinya tetap kekeh dengan pendiriannya.


Bahkan sekarang matanya mulai berkaca-kaca.


Lelaki itu mengacak rambutnya frustrasi, bingung mau membujuk dengan cara lain.


Semua ini gara-gara si bocah kecil itu.


****


Tadi pagi


Ayana terbangun dalam dekapan suaminya, dia memandang lekat wajah Jonathan yang menurutnya semakin hari semakin tampan. Tangannya gatal untuk menulusuri pahatan sempurna itu.


Hidungnya mancung, dengan bibir tebal yang berwarna merah. Alisnya tebal. Wajah ini sering menampilkan raut wajah datar di depan orang lain. Berbeda saat di hadapannya, raut wajahnya berubah riang dan Mesum.


Mengingat kata mesum membuat pipi Ayana bersemu merah, kemarin malam mereka bercinta. Ya bercinta dengan sangat gila, dan banyak posisi baru.


Kata suaminya, posisi-posisi itu yang nyaman dilakukan oleh posisi hamil, dan Ayana paling suka saat suaminya mendekapnya dari belakang, sembari mencium punggungnya.


Astaga


Kenapa pagi-pagi dia mulai berpikiran mesum, sepertinya virus mesum sudah menular.


Ayana melihat lagi bibir tebal suaminya yang sangat menggoda untuk dikecup.


Ia menggerakkan tangannya di depan wajah Jonathan. Dan sepertinya suaminya memang masih tertidur nyenyak.


Cup.*


*Akhirnya Ayana mengecup bibir itu. Namun saat akan menarik wajahnya, sebuah tangan menahannya.


Dia merasakan kecupan di bibirnya dengan lumatan yang menggebu.


"Stoppp Mass." ujarnya terengah-engah karena kewalahan mengimbangi ciuman suaminya.


"Hukuman untuk pencuri sepertimu." ucapnya dengan mata yang masih terpejam.


Ayana tergagap, apakah dia ketahuan.


"Sejak kapan Mas Nathan bangun."


"Sejak istri cantikku meraba wajahku, kau sudah membangunkan yang di bawah, istriku."


Kepala Ayana rasanya panas, Suaminya kenapa suka sekali mengerjainya.


"Mas Nathan Jahat, sebel." dia memukul kecil ke tubuh Jonathan.


"Hahahaha, maafkan aku Dik."


Tangannya menahan pukulan kecil istrinya. Ia perlahan membuka matanya, netra coklatnya menatap Ayana penuh cinta.


"Nggak mau." balasnya dengan memalingkan muka.


Jonathan mendesakmh kecil. Setelah Hamil, Ayana memang suka merajuk. Pandangannya teralih ke perut Ayana yang masih terlihat rata.


Dia mendekatkan wajahnya ke perut Ayana, dengan terlebih dahulu menyingkap pakaian tidur Ayana.


Perutnya masih terlihat rata, dengan beberapa warna merah di Beberapa sisi. Bukti dari keganasan ya semalam. Melihat itu seketika membangkitkan hasrat Jonathan.


"Hai, Baby Mochi, maafkan Ayah ya yang sudah membuat bundamu marah, bilang ke Bunda ya jangan marah sama Ayah, nanti Ayah sedih." Setelah itu dia memberikan kecupan lembut di sana.


Ayana yang mendengar itu terkekeh geli, dia tidak bisa lama-lama marah dengan suaminya.


Tangannya mengeluh sayang rambut Jonathan.


Lelaki ini banyak memberikan kebahagiaan untuknya.


"Adek maafin Mas kan?" tanya ya saat menyadari Ayana sudah tidak merajuk lagi.


"He'em." Ia berdehem kecil.


Wajah Jonathan langsung sumringah.


"Berarti boleh nambah lagi kan?"


"Hah, Mas habis Shubuh tadi sudah, aku tidak mau mandi lagi." keluhnya.


"Tenang nanti Mas yang akan memandikanmu oke."


Segala protes Ayana berhasil dibungkam oleh Jonathan. Dan pagi itu mereka mengulanginya lagi.


****


Semuanya baik-baik saja sebenarnya tadi bagi. Tapi setelah kejadian itu.


"Mas, mau sarapan apa?" Tanya Ayana.

__ADS_1


Jonathan sedang menyiapkan diri sebelum ke kantor. Dia memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Ayana. Kemeja navy yang dipadankan dengan celana hitam, tak lupa dasi hitam bergaris yang bertengger di lehernya.


"Apa saja Ay, Mas bisa makan lauk kemarin, kasihan kamu kelelahan kalau harus menyiapkan sarapan untuk Mas."


Ujarnya sembari fokus melihat cermin, tangannya mencoba memasang dasi, namun berkali-kali gagal.


Kelelahan yang dimaksud tentu saja karena kegiatan mereka semalam ditambah tadi pagi.


"Sini Mas aku bantuin, dari dulu memang nggak pernah bisa pasang dasi."


Ayana mendekat ke arah Jonathan lalu mengambil alih dasi yang berada di tangan suaminya. Ia memasangkannya dengan sangat telaten.


"Bukannya nggak bisa Ay, tapi Mas pengen dipakaikan sama Istri Mas." Jawabnya ngeles.


Ayana memutar bola matanya jengah.


"Alasan." Bibirnya mencebik lucu,


Membuat Jonathan mencuri kecupan kecil dari benda kenyal itu.


"Mas, ihhh, nggak boleh macam-macam." kesalnya


"Cuma satu macam, sayang." ujarnya.


Ayana hanya mendengus sebal. Dia lalu bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Ayans tunggu di meja makan ya Mas."


"Siap Bunda."


****


"Nggak papa Mas sarapan ini?" tanya ya ragu.


"Iya, Mas bisa makan apa saja kok." Balasnya,


"Ini diminum dulu susunya."


Jonathan memberikan segelas susu hamil kepada Ayana.


Hal yang selalu menjadi Rutinitasnya setiap hari semenjak tahu istrinya hamil adalah membuatkan susu.


Setelah memastikan Ayana menghabiskan susunya, ia mulai meyuapkan makanan ke mulutnya.


Jonathan terlihat sangat menikmati makanannya.


Ayana menggeleng, dia tidak berselera makan.


"Kamu harus makan, kasihan anak kita kelaparan." bujuk Jonathan.


Dia mencoba menyuapi istrinya, namun dibalas dengan gelengan.


"Adek, mau makan apa?"


"Emmmm."


Ayana berpikir keras, memikirkan makanan yang bisa membuatnya berselera makan.


Lalu pandangannya mengarah ke lemper berisi sambal yang dimasak oleh Airi.


"Mau itu." Tunjukknya dengan senyuman kecil.


"Tidak." Seru Jonathan, ia tidak akan membiarkan Istrinya memakan makanan pedas, mengingat Ayana tidak tahan pedas. Makan pedas bisa membuat perutnya sakit.


"Tapi, pengen itu Mas, kemarin sepertinya Mr. Alvaro sangat suka, aku pengen nyoba."


Jonathan mendesah kecil.


"Makanan yang lain aja bagaimana, asal jangan makanan pedas." Jonathan mencoba bernegoisasi.


"Baiklah, kalau nggak boleh makan itu, Ayana mau masakan yang dimasak langsung oleh Airi."


DUARRR


ini lebih sulit lagi, kalau minta tolong Airi pasti imbalannya ribet sekali. Gadis itu nggak pernah mau rugi.


"Yang lain aja gimana, kasihan kan dia kerja, kalau kita suruh masak nanti dia kecapaian." Jonathan mencoba memberikan alasan.


"Nggak mau, maunya itu."


Matanya mulai berkaca-kaca, Ayana sudah siap mengeluarkan air matanya.


"Jangan Nangis Ay."


Jonathan mendekap tubuh Istrinya.


"Mas Nathan jahat."


Exhale Inhale

__ADS_1


Jonathan menarik napasnya, dia harus bersabar menghadapi mood Istrinya yang sering berubah-ubah.


"Baiklah, Mas akan minta tolong Airi untuk memasak makanan untukmu, tapi sebelum itu kamu makan dulu ya, belum tentu juga Airi memasak ya hari ini."


"Siap Ayah."Balasnya dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.


Jonathan mencium kening Ayana, sebelum menyuapinya makanan.*


*****


Sekarang Jonathan sedang menimbang-bimbang untuk meminta tolong gadis itu.


" Kenapa Jo?" Tanya Anggit penasaran.


Dia heran mendapati wajah temannya yang mengerut dalam.


"Apa semua wanita hamil memang seperti itu ya?"


Jonathan malah bertanya.


Anggit menggerutu dalam hati.


"Memangnya ada apa dengan Ayana, dia mengalami morning sickness?"


"Tidak, dia malah tidak mengalami hal itu, hanya saja Sifatnya sekarang menjadi berubah total." Jawabnya


"Berubah manja, pemarah, suka merajuk, mood berubah-rubah." sahut Anggit.


"Kok kamu tahu Nggit."


"Astaga, lo kan tahu Istri gue juga lagi hamil, jadi gue juga mgalamin itu."


"Alhamdulillah, punya teman."


"Dasar." hardik Anggit.


"Awalnya gue kesel sih sama sifat istri gue, tapi lama-kelamaan gue Enjoy jalaninnya, momen-momen seperti ini belum tentu terulang lagi, jadi sebisa mungkin, gue turutin semua permintaannya, meski badan gue capek sekalipun."


"Tumben, kamu bisa ngomong gitu."


"Gini-gini, gue barisan bapak penyayang istri tahu."


"Kita harus lebihsharingmasalah kehamilan istri kita nih." Usul Jonathan.


"Siap Sob, oh ya ada satu hal lagi yang paling gue suka waktu istri gue hamil, dia suka minta duluan."


"Yang itu nggak usah dibahas, rahasia rumah tangga."


Anggit hanya terkekeh geli.


"Lalalalala, selamat pagi kakak-kakak."


Terdengar suara sambutan yang riang, siapa lagi kalau bukan dari Airi.


"Pagi, bocah kecil." Ledek Anggit.


"Wekkk." Balas Airi.


Dia mulai duduk di kubikel yang dulu ditempati Ayana. Sementara Jonathan kini duduk di depan Anggit.


Lalu di depan Airi, masih berupa kunikel kosong. Nantinya kubikel itu akan ditempati staff baru.


Airi menyalakan komputernya lalu mengambil berkas yang ada di lemari belakangnya.


Saat berbalik dia terpekik kaget ketika mendapati Jonathan sudah ada di depannya.


"Airi, ini permintaan istri saya. Ayana ingin kamu memasakkan makanan Untuknya."


"Nah loo, ini nggak salah apa ya?" Batin Airi.


*****



****


Tbc


Update Airiyasuko, jadi saat upload cerita, masih harus direview ya sahabat😊


Terima kasih atas dukungannya,


Minta tolong kasih VOTE, COMMENT, VOTE, FAVORIT, dan TIP kalau berkenan


Suapaya Airi semakin semangat untuk nulis, maafkan lama menghilang. Akhir tahun sedang banyak mutasi, dan kerjaan sedang banyak-banyaknya plus Lembur.


Terima kasih sahabat atas dukungannya, nantikan selalu cerita mereka😍


__ADS_1


__ADS_2