After Tomorrow

After Tomorrow
Masa Kecil


__ADS_3

*Flashback On


“Ma, Nathan nggak usah ikut ke sana ya.”


Nathan yang waktu masih berumur 12 tahun merengek kepada Ibunya untuk tidak ikut pergi ke rumah sahabat Mamanya.


“Loh kenapa, dulu saja kamu sangat semangat kalau ke sana.”


Grace memandang heran kepada anak semata wayangya yang kini memberengut lucu.


“Soalnya adik kecil sekarang cengeng sekali Maa, masak dikit-dikit menangis nggak asyik."


Wanita dewasa itu menggeleng kecil tak habis pikir dengan pengakuan Nathan, bagaimana gadis kecil itu tidak menangis kalau anak kecil di depannya ini tidak berhenti mengganggunya. Padahal masih ia ingat dengan jelas, kalau Nathan sangat menanti-nanti kehadiran gadis kecil itu namun sekarang lihatlah Nathan terlihat enggan.


“Dasar kamu ini, salah siapa kamu suka menyembunyikan bonekanya.” Balas Grace.


“Bukannya gitu Ma, masak dia mainan boneka sih kayak anak kecil, Nathan saja tidak pernah bermain boneka.”


Aduh boleh nggak sih, anak kecil ini dia buang ke laut saja, eh jangan gimana pun dia anaknya.” Batin Grace gemas.


Sebenarnya Jonathan menurun siapa sih punya sifat seperti ini yang pasti bukan dari dirinya pasti gen dominan berasal dari suaminya, Lucas yang super duper irit bicara. Namun sekalinya menyukai seseorang ia akan sangat memepdulikannya dan mencintainya. Contohnya seperti yang ia alami saat ini. Meskipun Lucas terihat dingin tapi kalau dengan keluarga ia akan bersikap sangat hangat.


“Nathan dengar, Ana itu masih berumur 4 tahun jadi dia masih masuk kategori anak kecil, dan kenapa dia main boneka karena dia perempuan sayang. Kamu dulu waktu kecil juga main mobil-mobilan dan itu wajar sayang.” Jelasnya dengan hati-hati.


“Tapi kan aku nggak main boneka Ma.” Anaknya masih mencoba mengelak.


Astaga, ya jelas kalau Jonathan main boneka sudah ia pakaikan rok.


“Begini Sayang, dengarkan Mama ya, kenapa Ana suka main boneka, seperti kata Mama tadi dia kan perempuan jadi wajar main boneka, kalau kamu dulu waktu kecil kan juga suka main mobil-mobilan karena kamu laki-laki, begitu.”


“Ma, main mobil-mobilan bukan hanya untuk laki-laki buktinya banyak itu pembalap yang perempuan, kan sekarang jamannya emansipasi wanita Ma.”


Tunggu ini anaknya sebenarnya umurnya berapa sih kenapa malah ngomong seperti ini. Iyain aja deh daripada pusing-pusing.


“Iya kan mggak semuanya suka mobil-mobilan, adik kecil lebih suka main boneka, jadi kamu harus menerimanya, kan Mama sudah bilang kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukai apa yang kita suka begitu pula sebaliknya. Sudah jam segini, sebaiknya kita bergegas kesana.


Akhirnya mau tak mau Jonathan ikut ibunya untk ke rumah sahabatnya.


****


“Huwaaaaaaa, Ibu hiks hiksss, Kak Nathan jahat.”


Suara teriakan menggema dari rumah kecil itu.

__ADS_1


Kedua wanita dewasa itu hanya bisa menghela napas kecil, pasti pelakunya adalah Jonathan. 


 Grace jadi malu sendiri karena kelakuan anaknya, padahal dia sudah memberi peringatan kepada Jonathan untuk mengganggu Ana. 


Langkah kaki kecil mendekat dan segera memeluk ibunya, menyembunyikan tangisannya. 


"Ibu, nggak mau sama kak Nathan dia ngilangin boneka Ana." ujarnya di sela-sela tangisannya. 


Sang Ibu hanya bisa tersenyum lembut dan mengusap puncak kepalanya. 


"Nathan nggak bermaksud seperti itu sayang."


Kali ini Grace mencoba menghibur anak kecil itu, namun tangisannya malah semakin menjadi-jadi. 


"Enggak tante, boneka Ana dilempar ke pohon, dan Ana tidak bisa mengambilnya,hiks,hiks."


Grace menepuk jidatnya lelah, astaga Nathan minta dikurung, dia memandang sahabatnya sebagai isyarat kata maaf. Beruntung tidak ada raut marah dari Santi. 


"Nathan……" Teriak Grace. 


Lalu muncul anak laki-laki dengan takut-takut mendekati mereka, walaupun sejauh yang Grace lihat tidak ada raut rasa bersalah sedikit pun dari wajahnya. 


"Iya ada apa Ma?" Tanyanya, pandangannya mengarah ke arah Ana, saat Ana melihatnya dia malah menjulurkan lidahnya, alhasil tangisan anak kecil itu semakin menjadi-jadi. 


"Arghhhh aduh Ma, ampun Ma." Keluhnya kesakitan. 


"Mama kan sudah bilang jangan ganggu Ana, masih saja kamu nakal, mau Mama laporin papa."


Mendengar kata Papa membuat Nathan begidik ngeri, kalau sampai ayahnya tahu bisa-bisa dia dikurung di dalam gudang atau tidak membersihkan kolam. Ayahnya memang sosok yang sangat luar biasa baginya, tapi sekali ia membuat kesalahan maka ada hukuman menanti. 


"Ma, jangan Ma, Nathan kan tadi niatnya ikutan main sama adik kecil, tapi sayangnya bonekanya nggak sengaja kelempar ke atas pohon." ujarnya. 


Grace tentu saja tidak langsung percaya dengan ucapan Nathan, kemudian dia beralih ke Ana yang masih menangis sesunggukkan. 


" Benar itu Ana?" Tanyanya dengan nada lembut. 


" Bohong Tante, Kak Nathan tadi tiba-tiba melempar boneka Ana waktu Ana asyik main sama bonekanya."


Nah kan putranya pasti berbohong, sekarang Nathan menundukkan kepalanya. 


"Sekarang minta maaf sama Ana, ingat kalau sedang berbuat salah, kita harus apa Nathan?" Pancing Grace. 


"Harus minta maaf Ma." Balasnya lesu. 

__ADS_1


"Maafkan aku Ana, aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Nggak mau Kak Nathan Jahat, Ana tidak mau main sama kak Nathan lagi, hiksss hikss hikss." Gadis itu memilih membuang muka. 


"Ayana, kalau ada orang minta maaf, kita harus memaafkan oke, Allah saja Maha Pemaaf masa kita sebagai hambanya tidak?" Sang ibu mencoba memberikan pengertian, namun Ana masih diam bergeming. 


"Sudahlah Santi, wajar memang bila Ayana marah."


"Hahhh, semoga nanti mereka berbaikan lagi, sepi sebenarnya kalau tidak ada suara mereka saat bermain." balas Santi. 


Ayana yang berada di gendongannya kini malah jatuh tertidur. 


"Anak ini, kalau habis menangis pasti tidur, aku bawa ke dalam kamar dulu ya, Nathan kamu mau ikut?" Tanya Santi ketika melihat Nathan yang kini malah diam. 


"Emang boleh Tante?" Tanyanya takut-takut. 


"Boleh kok, nanti jaga Ana tidur ya, kalau-kalau terbangun."


"Siap Tante."


Jonathan mengikuti langkah Santi menuju kamar si gadis kecil. Kamar itu terletak di lantai satu dengan nuansa warna pink khas anak perempuan. Banyak boneka terletak di tempat tidur. Kemudian buku bacaan di rak yang terletak di sudut ruangan. 


" Nah, Nathan sekarang jaga Ayana ya, nanti kalau terbangun panggil Tante, disini ada banyak buku kalau kamu bosan."


Jonathan memgangguk kecil tanda mengerti. 


Santi memiliki alasan tersendiri kenapa meminta anak sahabatnya itu untuk menunggu Ayana. Hal itu dikarenakan, ia ingin mereka berbaikan. Ia paham Nathan sebenarnya tidak berniat mengganggu Ana, ia hanya ingin bermain saja. Namun sayangnya anak lelaki itu kurang bisa menarik perhatian Ana, sehingga memilih untuk mengganggunya. 


"Nathan, kamu tahu tidak boneka yang kamu lempar tadi dari siapa?" 


Nathan menggeleng, dia tidak tahu. 


"Nathan lupa ya, kalau pernah memberi Ayana boneka sebelum Nathan pergi ke rumah kakek."


Pikiran Nathan mengelana saat ia liburan ke rumah kakek, ia terpaksa meninggalkan Ayana dalam waktu lama untuk itulah dia memberikan boneka sebagai pengganti dirinya. 


"Boneka itu pemberian Nathan, kenapa Ana menangis, karena dia sangat suka sekali dengan boneka itu, boneka itu kan pemberian dari kakak tersayangnya."


Rasa menyesal langsung hingga di benak Nathan, ternyata Ana bukannya tidak menggubrisnya. Ia kemudian menunduk lesu. 


" Sudah ya, Tante tinggal dulu, jaga Ana ya."


Sekarang tinggal Nathan yang termenung sendirian. Tiba-tiba dia punya sebuah rencana yang akan membuat Ana memaafkannya*. 

__ADS_1


****


__ADS_2