
Hari Ini Jonathan menemani istrinya untuk memeriksakan kandungannya. Suasana rumah sakit masih sepi, karena Jonathan berangkat sangat pagi untuk menghindari antrian yang bisa membuat istrinya kelelahan. Benar-benar suami yang sangat perhatian bukan.
Tapi mana ada dokter kandungan yang datang sepagi ini, yang bahkan jam pelayanan belum dibuka. Tidak perlu heran ternyata Jonathan sudah punya kartu As untuk memaksa temannya berangkat pagi.
"Mas, aku nggak sabar lihat wajah adek bayi, nanti dia mirip aku apa kamu ya." Ucap Ayana sembari terus mengelus perutnya.
Jonathan terkekeh.
"Masih lama Ay, untuk bisa lihat wajahnya, pasti dia masih belum terbentuk sempurna, dan aku yakin anak kita pasti akan mirip denganku." Kelakarnya sombong.
"Mana ada, Ayana yang capek-cspek membawanya sembilan bulan masa nggak kebagian apa-apa."
Hahhaaha
"Bagus dong, itu tandanya kamu sangat mencintai Mas."
Ehem
Suara deheman menghentikan obrolan mereka.
Jonathan membolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang mengganggu dirinya ternyata si dokter bunga, teman kuliahnya.
"Aku tungguin dari tadi nggak masuk-masuk malah bermesraan disini.". Bunga ngedumel, bagaimana tidak kesal, temannya yang satu ini memaksanya untuk ke rumah sakit pagi-pagi karena ingin memeriksa kandungan istrinya. Dan saat dia sudah menunggu lama di dalam. Pasangan ini malah asyik bermesaraan.
Ayana hanya tersenyum malu,
"Kalian jadi periksa tidak?" Tanyanya dengan judes.
"Jadi." Jawab Jonathan dengan nada datar.
Bunga mendengus sebal, temannya yang satu ini hanya bisa bersikap ramah kepada istrinya. Astaga,
Bunga masuk ke dalam ruangan lalu diikuti oleh pasangan itu.
"Mas, jadi yang periksa Adek, dokter Bunga?" Tanya Ayana. Dia masih mengingat bahwa wanita itulah yang memeriksanya dulu, saat dia pingsan, walaupun tidak bertemu secara langsung hanya mendengar dari cerita Jonathan.
"Kenapa, Mas sengaja pilih Bunga karena dia perempuan, Mas nggak mau ya kamu dapat dokter kandungan laki-laki."
Ayana mendengus kecil, mulai lagi sifat cemburu Jonathan. Mana ada laki-laki yang tertarik pada perempuan hamil seperti dirinya.
"Pantas saja, tadi aku mikir mana ada dokter yang datang pagi, ternyata dokter Bunga orangnya, jangan-jangan Mas Nathan memaksa dia."
Tuduh Ayana tepat sasaran.
__ADS_1
Jonathan hanya meringis kecil, sekali-kali menggunakan relasi tidak masalah bukan. Masalahnya dia tidak ingin Ayana lama mengantri, bisa-bisa istrinya kelelahan.
"Jo, masih mau periksa tidak."
Panggil Bunga Sarkas, dan hal itu membuat kedua pasangan tersebut segera bergegas masuk ruangan.
"Ada keluhan Ayana?" Tanyanya ketika Ayana sudah duduk di depannya.
Bunga memang memanggil Ayana dengan namanya bukan dengan sebutan Bu, karena dia tahu dari Jonathan bahwa perempuan di depannya tidak senang dipanggil dengan sebutan itu.
"Emm, nggak ada Dok, hanya saja saya...."
Ayana malu untuk mengungkapkannya.
"Istriku seringkali mengalami perubahan mood dan dia menjadi lebih sering ngidam." Lanjut Jonathan.
Pipi Ayana langsung merona malu, dia malu mengakuinya, karena tidakĀ ingin dianggap lucu oleh Dokter Bunga.
Bunga tersenyum kecil
"Itu wajar untuk ibu Hamil, sering mengalami perubahan mood, sedikit-dikit sedih, ngambek, ketawa, dan marah, kamu harus sabar Jo."
Tepat.
Apa yang dikatakan dokter Bunga persis seperti apa yang dia alami.
"Hey, kamu tidak usah malu, seperti yang dikatakan dokter Bunga hal itu wajar dialami oleh Ibu Hamil, Lagi pula sekarang kau sedang mengandung anakku."
Jonathan berucap lembut kepada istrinya yang tengah menunduk. Dia sangat paham bahwa saat ini istrinya pasti sangat malu.
Dokter bunga tersenyum geli, nah kan benar tebakan dia, Jonathan hanya akan bersikap seperti itu pada istrinya. Dan dia tak malu jika seluruh dunia tahu bahwa lelaki itu sangat mencintai istrinya.
"Sekarang kita periksa dengan USG."
Dokter Bunga menyibak tirai lalu mempersiapkan Ayana untuk berbaring di ranjang periksa. Kemudian dia mencoba menyingkap baju atasan Ayana. Namun tangannya di tahan oleh wanita itu.
Mata coklat itu melirik ke arah Jonathan yang masih mengamati mereka.
"Tidak apa-apa Ayana, biarkan Jonathan melihat perkembangan bayi kalian."
Wanita itu mengangguk kecil, entahlah dia masih teramat malu jika dilihat oleh Jonathan seperti itu.
Dokter Bunga meneruskan gerakan tangannya untuk menyingkap baju atasan itu, kemudian mengoleskan gel di permukaan perutnya.
Ayana tersentak karena merasa dingin, jantungnya berdebar menantikan kondisi janinnya. Wanita berjas putih itu kemudian menempelkan sebuah alat di perutnya dan menggerakkannya pelan.
__ADS_1
"Perkembangan bayi sangat bagus, beratnya pun normal. Bisa dilihat kaki-kakinya mulai terbentuk. Untuk jenis kelamin belum bisa terlihat, mungkin bisa terlihat bulan depan saat usia kandungan Ayana sudah memasuki lima bulan."
Kedua calon orang tua itu mendengarkan dengan seksama. Ada rasa haru di dalam hati mereka saat menyadari bahwa mereka sebentar lagi akan menjadi orang tua.
Bunga meletakkan alat kembali dan membersihkan gel di perut Ayana. Dia kembali ke mejanya.
Jonathan membantu Ayana untuk bangkit dan menggandengnya untuk kembali duduk di hadapan Bunga.
"Ini Foto USG, bisa kalian simpan."
Ayana memandangnya dengan sinar bahagia. Dia mengucapkan terima kasih dengan pelan.
"Boleh minta kirimkan ke Handphone Bunga." Pinta Jonathan.
Bunga mengangguk, dia lalu mengirimkannya kepada lelaki itu.
"Apakah ada pantangan Dok untuk Ayana?" Tanya Jonathan.
Panggilan itu lagi, Jonathan memang tidak bisa bersikap santai padanya.
"Pantangan tidak ada, karena berat tubuh sang Ibu dan Bayi normal, istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi. Untuk sang Ayah sebisa mungkin selalu berada di dekat istri, karena sang ibu lebih banyak membutuhkan perhatian."
Ayana mengangguk setuju mendengar itu, apalagi dia memang tak bisa jauh dari suaminya. Dan Alhamdulillah, Jonathan pun seperti memahami keinginannya.
"Hanya saja saya ingin memberi tahu bahwa Ayana tidak bisa melahirkan secara normal."Lanjutnya
Deg
Ayana tersentak kaget. Kenapa, padahal dia sangat ingin merasakan persalinan normal kenapa dokter melarangnya apakah terjadi suatu masalah.
"Ayana bermata minus, mengejan saat proses kelahiran ditakutkan akan meningkatkan tekanan pada bola mata yang berpotensi merusak struktur mata di beberapa kasus dapat membuat saraf mata di mata terputus hingga menyebabkan kebutaan, untuk itu lebih baik sang ibu melahirkan dengan cara caesar."
Hening, Ayana sangat sedih mendengar hal itu.
"Tapi saya ingin melahirkan secara normal dok." Kekeh Ayana.
Dokter Bunga menghela napas kecil, dia sudah sering menghadapi calon ibu seperti Ayana. Sebagai dokter dia sudah menunaikan kewajibannya untuk memberitahu resiko kepada pasien. Dan semua itu kembali kepada pilihan pasiennya masing-masing.
"Mengertilah Ayana, semua ini demi kebaikan kalian berdua." Dokter Bunga mencoba memberikan pengertian kepada Ayana.
Jonathan hanya diam saja, tapi kedua tangannya mengenggam erat tangan Ayana.
Apa pun akan dia lakukan demi keselamatan istri dan anaknya.
****
__ADS_1