After Tomorrow

After Tomorrow
Rumah Mertua


__ADS_3

Wanita itu membuka album foto seseorang. Di dalam foto itu terlihat sosok anak kecil yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Potret itu menggambarkan sisi suaminya yang belum diceritakan kepada dirinya. Meskipun setiap sebelum tidur melakukan night to talk untuk saling mengenal, nampaknya masih ada hal yang belum mereka saling tahu. Mengingat waktu perkenalan dan proses menuju pernikahan yang teramat singkat.


Terlebih jati diri manusia dibagi menjadi beberapa bagian. Zona yang ditunjukkan kepada semua orang, semua orang bisa melihatnya dan mengenalinya dengan mudah. Zona yang ditunjukkan kepada orang terdekat saja seperti sahabat dan keluarga. Kemudian zona yang hanya untuk diri kita sendiri, bisa keburukan maupun kebaikan. Namun sebagai umat beragama kita harus selalu berbuat baik baik dilihat oleh orang lain maupun dalam keadaan sendiri. Karena tindakan maksiat yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi akan menghancurkan semua amal perbaikan yang telah dilakukan.


Sesekali dia mengelus perutnya yang sudah membuncit, barangkali anak mereka akan sama menggemaskannya dengan potret itu. Kalau perempuan pasti akan cantik sekali, namun jika laki-laki tentu akan sangat tampan seperti suaminya. Oh apakah, dia baru menyebut bahwa suaminya sangatlah tampan.


Ya walaupun dia jarang mengungkapkannnya, dalam diam dia sering mengagumi suaminya. Hidungnya bangir, dengan netra coklat yang sering membiusnya. Namun bukan fisik yang membuat dia menerima pasangannya itu melainkan karena hal lain yaitu kepercayaan bahwa laki-laki itu akan selalu melindunginya dan tidak akan menyakitinya. Sayangnya sekarang dia sedikit sangsi mengingat sosok wanita itu.


Tok tok tok


“Ayana, kamu masih lama kah, maukah bantu Mama memasak?” Terdengar suara dari luar.


Tadi Ayana memang pamit sebentar untuk ke kamar mandi, mertuanya menunjuk ke kamar milik Jonathan. Tangannya gatal saat melihat sebuah album alhasil dia membukanya.


“Sebentar Ma.” Jawabnya.


Ceklek.


Akhirnya mama mertuanya masuk ke dalam ruangan itu, saat mendapati Ayana yang tengah asyik mengamati potret anaknya di album foto, ia tersenyum kecil.


“Kamu lihat apa Ayana?” Tanyanya sekedar basa-basi.


“Lihat fotonya Mas Nathan Ma, lucu soalnya hehe, sampai lupa waktu, apakah Mama lama menungguku?”


Tanyanya memandang ibu mertuanya yang tengah tersenyum lembut.


“Enggak kok, Mama malah khawatir kamu kenapa-napa karena nggak balik-balik ternyata malah asyik lihat foto si Nathan.” Mertuanya kini duduk di sampingnya, ia ikut melihat album tersebut.


“kamu jangan tertipu dengan foto lucu ini, waktu kecil dia sangat nakal, dia suka mengerjai temannya dan tidak pernah bisa diam bahkan Nathan pernah menaruh katak di loker temannya, astaga anak itu Mama jadi sering datang ke sekolah karena kebandelannya, beruntung saat bertemu denganmu dia jadi jinak dan tidak pernah nakal lagi.” ujarnya menceritakan masa kecil anaknya.


“Hah, Mas Nathan kan ketemu aku waktu SMA Ma?” Tanya Ayana bingung.


“Dasar, anak itu pasti belum bercerita ya, sudahlah biarkan anak itu yang bercerita sendiri, tapi kamu tentu tahu kan kalau Mama adalah sahabat Mamamu?”


Walau masih bingung dengan perkataan mertuanya, Ayana menganggukan kepalanya. Karena setahunya Mama Grace dan Om Lucas adalah sahabat ibunya, selain itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Mengingat waktu kecil, ia sering berpindah-pindah tempat.


“Kamu pasti bingung ya, sudahlah lebih baik kita ke dapur, hari ini kita masak banyak kebetulan Papa Lucas baru pulang dari luar kota.” Ajak mertuanya.

__ADS_1


“Eh tapi nanti kamu kalau capek bilang ya, mama nggak mau kamu kecapekan bisa-bisa Mama diomelin sama suamimu itu.” Tambahnya.


“Iya Ma, mama tenang saja, hehe.” Balasnya dengan senyum lebar.


“Ngomong-ngomong kamu sudah mengabari Nathan kan kalau di sini?”


“udah Ma.” Jawab Ayana bohong.


Dia terpaksa melakukannya karena tak ingin mertuanya khawatir.


“Baiklah ayo kita masak.”


****


Dapur itu sangat luas dengan peralatan kitchen yang sangat lengkap selengkap dapur yang ada di tempat Ayana. Bedanya dapur ini lebih luas dan lagi disana sudah ada beberapa pelayan yang siap membantu.


Mama Grace memang mempekerjakan beberapa pelayan untuk membantu mengurusi rumah dan memasak, hanya saja untuk urusan memasak. Ia lebih sering turun sendiri, selain hobi hal itu ia lakukan karena suaminya, Lucas lebih suka memakan masakannya.


“Kamu mau makan apa Ayana?” Tanya mertuanya.


“Dia memarahimu karena dia perhatian padamu sayang, Nathan itu juga sering mewanti-wanti Mama untuk memberikan makanan yang boleh kamu makan. Tidak boleh pedas, asam, terlalu banyak santan, dan asam.” Balas mertuanya tersenyum kecil saat mengingat kelakuan anaknya yang berulang kali memberi tahu akan hal itu.


“Astaga Mas Nathan, aku jadi malu.”


“Tidak usah malu Nak, itu tandanya dia sangat peduli padamu, kamu kan punya asam lambung jadi makanannya harus dijaga nggak boleh sembarangan, kalau kamu sakit bisa bikin anak Mama panic setengah mati, kamu ingat nggak waktu kamu pingsan waktu itu?”


Ayana mengingatnya saat itu Mas Nathan sedang marah dengannya alhasil dia tidak makan semalaman yang membuat dia jatuh pingsan ditambah morning sickness yang dialaminya.


“Nathan waktu itu nelpon Mama dengan nada yang terdengar panik, Mama bahkan seperti mendengar suara tangis, kalau tentang kamu dia memang begitu, hahaha.”


“Mama bisa saja.”


Tapi Ma, anak Mama sudah menyembunyikan sesuatu yaitu perempuan lain,lanjutnya dalam hati.


Mengingat itu langsung membuat moodnya anjlok.


“Lohhh kok malah cemberut gini, senyum dong sayang, sebentar lagi kita masak nih, biar hasil masakannya enak, yang memasak pun harus dalam kondisi bahagia, Mama siapkan bahannya dulu ya, sepertinya masak sop Ayam dan ayam goreng saja, tapi tadi Papa Lucas minta dibuatkan rending. Ayahmu itu meski wajahnya bule tapi lidahnya Indonesia sekali,” ujarnya sembari tertawa.

__ADS_1


“Ayana bantu siapin ya Ma, hehe.”


Akhirnya mereka memasak bersama, tak lupa Mama Grace juga menyiapkan lalapan berupa selada dan timun, kemudian dia juga menyiapkan sambal hijau untuk pendamping rendang. Untuk dessertnya dia membuat puding susu.


“Em Ma, Ayana boleh Tanya tidak?” Tanya Ayana ragu-ragu.


Dia sedang menggoreng ayam di wajan.


“Boleh saja sayang, tanyalah apapun selama Mama bisa menjawab. . . .Bi tolong tuang pudding ini di cetakan lalu di taruh ke dalam kulkas ya.” Balasnya sembari memberikan instruksi kepada maid.


“Baik Nyonya.” Sahut mereka.


“jadi apa yang menantu mama ini tanyakan?”


“Emmm itu Ma, tapi Ayana malu.” Akunya,


“Masa dia Tanya tentang Clarissa ke Mama mertunya?” batinnya


“Memang apa yang mau kamu tanyakan kok sampai malu segala, Mama jadi curiga nih jangan-jangan kemesuman Papa Lucas memang menurun ke Nathan ya.”


Nah lo kok malah bahas ini? Begitu pikir Ayana.


Walaupun dia mengakui kalau kemesuman Jonathan memang berada di tingkat akut.


“Bukan Maaaa.” Ujarnya dan terdengar seperti rengekan.


“Pipi kamu merah gitu pasti sedang bayangin yang iya-iya kan, hehe.” Goda Mama Grace.


“Mama ihhh, malu tahu bukan itu.” Jawab Ayana dengan pipi merona merah.


“Iya-iya terus menantu mama ini mau Tanya apa?”


****



__ADS_1


__ADS_2