
“Kalian bertujuh saya hukum hormat ke tiang bendera sampai jam istirahat pertama! Awas kalian melanggar saya akan tambah hukuman kalian!” ancam pak Joko kepada tujuh siswanya yang membolos.
“Tunggu apa lagi? Cepat hormat!” perintah tegas pak Joko membuat mereka bertujuh langsung mengangkat tangannya untuk hormat ke bendera. Pak Joko mengawasi mereka sikatar lima belas menit sebelum beranjak untuk mencari siswa bandel yang lain.
“Niken haus, pengin minum!” seru Niken sambil mengusap keringat di wajahnya, mereka sudah menjalankan hukuman selama dua puluh menit, terhitung dari perginya pak Joko lima menit lalu.
“Minum aja keringat lo!” suruh Dewi.
“Ih jorok Dew!” tolak Niken yang di balas gumaman acuh dari Dewi, sedangkan Jennie sudah tertawa kencang sampai mengeluarkan air mata.
“Jen! Lo harus minum obat deh! Gue takut!” kata Mocha yang tak menghentikan tawa Jennie.
Drrtt…
Mocha mengambil ponsel yang di taruhnya di saku rok, dia mengucek kedua matanya untuk kembali mengecek nama penelpon di ponselnya, dia tidak salah baca kan? kenapa mamanya menelponya jam segini? Beliau tidak akan menelponnya kalau tidak ada hal penting, oleh sebab itu Mocha langsung mengangkat panggilan tersebut.
‘Hallo, aku di sini!’ sapa Mocha membuat ke tiga targetnya mengernyit bingung dengan apa yang di ucapkan Mocha.
‘Kamu di hukum? Gara-gara bolos pelajaran?’ tanya mama Mocha langsung membuat Mocha gelagapan dan menampar pelan pipinya.
‘Enggak kok! Kata siapa?’ elak Mocha.
‘Alah, gak usah bohongi Mama! Mama tahu kamu sedang hormat ke tiang bendera sudah dua puluh menit,’
‘Enggak kok!’ Mocha tetap mengelaknya dan mamanya di sebrang sana tertawa menakutkan, sungguh Mocha merinding mendengar suara menggelagar mamanya.
__ADS_1
‘Lihat foto yang Mama kirim!’ Mocha langsung melihat pesan dari mamanya yang berupa foto dirinya yang hormat ke tiang bendera.
‘Mau ngelak lagi?’
‘Sekali ini aja, janji kok!’ mohon Mocha kepada mamanya.
‘Janji terus! Mama bosan dengan janji palsumu, nanti malam sidang, bye!’
Mocha menatap ponselnya yang sudah mati, kemudian dia mencak-mencak dan merosot duduk di lantai lapangan, dia sudah bodo amat dengan hukuman tambahan yang akan di beri pak Joko nantinya kalau dia sampai ketahuan melanggar hukuman yang di terimanya.
“Heh! Kok lo malah enak-enak duduk di situ!” seru Vernon kepada Mocha, ketiga target mereka adalah Noah si lebah madu, Vernon si kalajengking dan Daniel si koala.
“Bodo amat!” balas Mochadan mengacuhkan omelan Vernon yang di anggapnya laset rusak yang tak berguna. Mocha lebih memilih mengutak-atik ponselnya dan berdeham sebelum mengucapkan sebuh kalimat kepada ponselnya.
“Cara menjadi buah-buahan!” ucap Mocha kepada ponselnya membuat mereka yang ada di sana melongo.
“Makanya gue cari tutorialnya bego!” balas Mocha tak mau kalah dengan emosinya yang seakan ingin meledak.
“Gak usah bawa-bawa goblok terus!” seru Daniel dengan nada tak terima.
“Kenapa?” tanya Mocha sambil mengerutkan alisnya menatap bingung Daniel.
“Itu nama gue!” jawab Daniel membuat Mocha menggangguk.
“Ya sudah bego aja,” ucap Mocha.
__ADS_1
“Itu nama gue juga!” titah Daniel.
“Lah?”
“Nama gue goblok bin bego,” jawab Daniel.
“Memangnya ada nama kayak gitu?” tanya Niken.
“Adalah… buktinya gue!” ucap bangga Daniel.
“Bukannya nama kamu Daniel?” tanya Niken lagi membuat Mocha waspada, Jennie terus tertawa dan Dewi hanya mengamati mereka dalam diam. Noah hanya mengerjap dan Vernon mengikuti Mocha yang duduk.
“Niken pernah berenang di sumur samping kolam lele gak?” tanya Mocha kepada Niken yang terus menanyakan nama Daniel sebenarnya.
“Belum, tapi Niken mau berenang di sana! Mocha kapan-kapan ajak Niken ya! Pasti seru,” pekik bahagia Niken membuat Mocha mengelus dada.
“Sabar gak boleh menghujat, hujatannya harus sopan. ANJINGLAH,” pekik frustasi Mocha membuat tawa Jennie semakin menjadi dan Dewi mengusap pelang bahu Mocha, Niken menggaruk telinganya yang terasa gatal. Daniel ikut tertawa saat mengetahui kepolosan Niken, Vernon mulai tertarik dengan perdebatan Niken dan Mocah, sedangkan Noah hanya tertawa kecil.
“Eh Ucup! Kurang ajar lo ya! Pasti lo yang ngirim foto gue ke Mama! Awas lo!” Mocha beranjak dan langsung berlari ke arah pohon mangga besar dekat lapangan di mana orang dia teriaki tadi berada. Mocha terus mengejar Ucup dengan bantuan Jennie dan Niken.
“Jawab lo pasti kan biangnya!” tuduh Mocha setelah berhasil menangkap Ucup dan di sidang di tengah lapangan.
“Bukan!” jawab Ucup membuat Mocha melotot.
“Gue gak percaya! Mana ponsel lo!” Mocha terus memaksa Ucup untuk jujur, namun Ucup terus bilang bukan dia yang melakukannya.
__ADS_1
“Sudah, biarkan dia! Bukan dia pelakunya!” seru Noah membuat Mocha mengalihkan pandangannya ke arah Noah, tumben dia bersuara. Apalagi suara yang mengalun indah itu membuat hati Mocha tenang, Mocha tak sengaja menatap ke arah manik indah mata Noah dan pandangannya terkunci.