Agen Mochi

Agen Mochi
23


__ADS_3

Jam dinding di kamar Mocha sudah menunjukkan pukul satu malam lebih, tapi mata Mocha masih tetap terjaga. Dia menatap layar laptop di hadapannya, sudah dari jam sembilan malam dan sampai sekarang sudah terhitung empat jam lamanya dia mencari informasi tentang lencana yang berada di sebelah laptopnya. Dia masih belum menemukan titik  terang akan lencana tersebut. Mocha memejamkan matanya yang terasa begitu panas, karena menatap layar laptop begitu lama.


“Ini sebenarnya lencana apa? Bahkan gue tanya ke toko kelontong mereka malah ingin membelinya, kesel banget gue,” kesal Mocha saat mengingat beberapa waktu lalu saat dia menanyakan tentang lencana itu, tapi sang pemilik toko malah mengejarnya dan ingin membeli lencana itu dengan harga yang cukup menarik. Dia bisa jajan enak selama satu bulan dengan uang itu, tapi dia tersadar kalau lencana tersebut memang bukan sembarang lencana.


“Kalau gue tidur sama aja, gue gak akan bisa. Jatuhnya akan kepikiran dan susah tidur,” gumam Mocha saat menatap jam dinding, dia memilih melangkah ke arah balkon kamarnya. Mocha membuka pintu balkon dan hal pertama yang di lihatnya adalah jalanan sepi dan angin malam langsung menerpa wajahnya, dingin dan membuatnya merasa cukup tenang.


“Indah, sunyi dan tenang,” ujar Mocha sambil memejamkan matanya menikmati angin malam yang cukup kencang, dia tidak sadar kalau ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan. Orang itu tersenyum melihat wajah Mocha, ternyata firasat orang tersebut benar. Mocha belum tidur.


“Ternyata lo belum tidur juga,” senyum di bibir orang itu mengembang dengan sendirinya, sudah lebih dari sepekan dia terus memperhatikan Mocha dari kejauhan dan setiap malam dia akan pergi ke rumah Mocha untuk melihat kamar Mocha, dia berharap melihat wajah Mocha sebelum dia tertidur. Seperti malam ini, malam yang begitu indah baginya.


Mocha masih tidak menyadari kalau dia di awasi, Mocha masih menikmati angin malam dengan duduk santai di kursi rotan yang ada di balkon kamarnya. Dia menyumpal telinganya menggunakan earphone mendengarkan musik kesukaannya. Pikirannya sangat penuh dan dia butuh peralihan, dengan mendengarkan musik pikirannya mulai kembali tenang dan energinya terasa terisi kembali.


“Kok gue ngerasa ada yang ngawasin gue,” gumam Mocha yang mulai merasakan kalau ada yang terus memperhatikan dirinya. Mocha membuka lebar kedua matanya, dia menatap ke segala arah dan tidak menemukan siapa pun. Tapi, dia merasa kalau orang itu masih di sini dan masih terus melihat ke arahnya. Mocha mulai merasa merinding, dia mengusap lehernya yang mulai merasakan dingin. Dengan cepat Mocha berlari masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu balkonnya.

__ADS_1


“Serem juga, ini artinya gue harus tidur!” seru Mocha dan menaikki ranjangnya, dia menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut tebal. Dia menutup seluruh tubuhnya dan memeluk erat guling kesayangannya, dia benar-benar ketakutan sekarang.


“Sangat menggemaskan,” gumam orang tadi yang melihat Mocha, orang itu bersembunyi di balik pohon yang cukup besar dan itu sangat berguna baginya.


“Oke, sekarang waktunya pulang dan beristirahat!” seru orang itu melangkah ke arah mobilnya yang di parkirkan secara sengaja cukup jauh dari tempatnya melihat Mocha tadi. Dia sangat senang bisa melihat wajah Mocha sebelum terlelap dan dia berharap akan memimpikan wajah Mocha yang sangat menggemaskan itu, Mocha sudah membuat hatinya tidak karuan dan itu mengganggu dirinya.


***


“Gak bisa tidur gue, sekarang aja masih ngantuk,” jelas Mocha yang mulai menguap lebar, dia menaruh kepalanya di atas meja kantin. Dia ingin tidur sebentar saja, matanya sangat panas dan dia merasakan ada lem yang sangat lengket di bawah matanya.


“Yah, malah tidur nih anak,” Jennie menggelengkan kepalanya dan memilih memainkan ponselnya, dia tidak makan, karena berat badannya naik seperempat kilo dan itu membuatnya cukup stress. Dia harus kembali menjaga pola makannya.


“Si Mocha tidur lagi?” tanya Dewi yang baru datang membawa makanannya bersama Niken.

__ADS_1


“Hooh!” balas Jennie yang masih fokus dengan ponsel yang di genggamnya.


“Oh,” sahut Dewi cuek sebelum melahap makanannya, Dewi menatap ke arah Mocha yang terlihat begitu lelah. Dia tahu pasti Mocha bekerja ekstra untuk menyelesaikan misi mereka yang memang sangat susah ini. Dewi akui target mereka sekarang ini begitu susah dan sangat tidak mudah untuk mendapatkan informasi tentang mereka, apalagi dengan identitas orang tua mereka yang harus di rahasiakan. Itu membuktikan kalau mereka memang bukan sembarang orang sesuai dengan dugaan Mocha, targetnya ini bukan orang biasa yang mudah mereka dapatkan informasi pribadinya.


“Cha! Balik ke kelas yuk! Bel masuknya sudah berbunyi dari tadi!” seru Jennie yang mencoba membangunkan Mocha yang masih terlelap di kantin.


“Hah? Sudah pulang?” tanya Mocha dengan suara puraunya, dia merasakan tenggorokannya sakit dan badannya mulai terasa panas. Sepertinya dia demam, pantas saja saat dia bangun tidur tadi pagi dia merasakan tubuhnya sakit semua dan badannya cukup panas.


“Lo pucet! Ya ampun, badan lo panas banget!” seru heboh Jennie saat memegang dahi Mocha, Mocha tidak sepenuhnya mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Jennie. Dia merasakan pening di kepalanya, dia tidak bisa melihat dengan jelas. Semua yang ada di hadapannya seperti sedang berputar-putar. Mocha mencoba menghilangkan rasa pening itu dengan memejamkan matanya, suara heboh yang keluar dari mulut Jennie dan Niken membuatnya kepalanya semakin pusing.


“Kita ke UKS aja ya,” bisik Dewi yang di angguki Mocha, Dewi membantu Mocha untuk berdiri. Kaki Mocha sudah tidak kuat untuk menopang beban tubuhnya, dia begitu lemas. Jennie membantu Dewi menopang tubuh lemas Mocha, mereka melangkah keluar dari kantin yang sudah sepi, karena semua siswa sudah masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Mereka menyusuri koridor sekolah menuju ke UKS, Mocha sudah tidak kuat lagi untuk berjalan.


“Gue gak kuat,” lirih Mocha membuat mereka menghentikan langkahnya dan menaruh Mocha di kursi dekat kelas IPA. Mocha rasa sebentar lagi dia akan pingsan dan dalam hitungan detik, dia sudah tidak sadarkan diri. Suara heboh ketiganya membuat siswa-siswi yang berada di dalam kelas keluar dan melihat ke arah mereka, salah satu dari siswa di kelas itu langsung membopong tubuh Mocha dalam gendongannya, dia membawa Mocha ke UKS.

__ADS_1


__ADS_2