Agen Mochi

Agen Mochi
30


__ADS_3

“Mochi-mochi! Mochi empat di sini!” Niken memberi sinyal.


“Mochi dua,” sambung Dewi.


“Mochi satu!” lanjut Mocha.


 “Mochi tiga. Eh tapi kita kan bersebelahan untuk apa kita lakuin ini?” tanya Jennie membuat Mocha memukul kepalanya dengan bungkus tisu.


“Ini kita lagi pengetesan sebelum memulai misi!” kesal Mocha yang di balas Jennie cengiran.


“Bilang dong! Gue kan gak paham,” sahut Jennie membuat Mocha memutar bola matanya jengah, dia sudah memberitahunya tadi. Tapi, Jennie tidak mendengarkannya.


“Kita langsung mencar! Dan ingat kalian harus hati-hati jangan sampai ketahuan, misi kita adalah mencari tahu kenapa mereka bisa nongkrong di tempat begituan pasti ada alasannya dan juga kita harus mencari tahu apa benar lencana itu milik mereka atau salah satu dari mereka. Mengerti!” seru Mocha kepada ketiganya, mereka berkumpul di meja kantin dan mereka sedang berbisik-bisik.

__ADS_1


“MENGERTI!” sahut semangat mereka bertiga membuat Mocha terkejut dan hampir terjungkal ke belakang. Mereka berteriak di depan wajahnya dan seisi kantin sekarang memusatkan perhatiannya kepada mereka, tapi itu hanya sebentar saja.


“Sudah sana berpencar!” perintah Mocha membuat satu-persatu dari mereka mulai keluar meninggalkan kantin. Mereka memakai earphone untuk saling menghubungi.


Dewi di tugaskan Mocha untuk memeriksa tempat rahasia Noah dan kedua targetnya di gudang, atap gudang dan juga ruangan yang pintu keluarnya berada di parkiran. Ketiga targetnya memang sedang berada di gedung olah raga, karena hari ini merupakan hari  jumat di mana semua siswa-siswi tidak belajar di kelas, melainkan mengembangkan potensi diri dengan minat olah raga, seni dan sebagainya. Ini menjadi hari di mana agen mochi akan melakukan misi besar-besaran.


“Nih, gue kayak anak nyasar aja masuk ke gedung olah raga, untung aja gak ada yang sadar kalau gue masuk tadi,” gumam Mocha sambil terus melangkah ke dalam gedung. Dia melihat Noah dan Vernon sedang pemanasan di lapangan basket, mereka anak basket dan juga futsal. Tapi, mereka juga ikut ke senian, yaitu dance dan vokal, memang suara mereka bertiga sangat bagus apalagi Noah, uh Mocha jadi meleleh mendengarnya. Suaranya sangat lembut dan sangat pas untuk menjadi lagu pengantar baginya saat sedang insomnia.


“Duh malah melamun lagi kan?” Mocha menggelengkan kepalanya. Dia mencari keberadaan Niken dan Jennie yang seharus berada di tempat ini sebelum dirinya. tapi, Mocha hanya melihat Niken yang sedang mengawasi Vernon. Dia tidak melihat keberadaan Jennie yang seharusnya mengawasi Daniel, Daniel-nya juga belum kelihatan bersama dengan Noah dan Vernon.


“Mochi-mochi! Mochi satu di sini! Mochi tiga ada kabar apa?” tanya Mocha dan mencari tempat yang cukup sepi dari tempatnya sekarang. Suara Jennie seperti orang yang sedang berbisik membuat Mocha harus encari tempat yang tidak terlalu ramai.


“Mochi tiga sedang mengawasi koala yang sedang mengangkat panggilan dari orang tuanya,” ujar Jennie membuat Mocha semakin penasaran dengan informasi yang akan di sampaikan oleh Jennie.

__ADS_1


“Apaan?” tanya Mocha yang sangat tidak sabaran.


“Ternyata Daniel sama Papanya itu tidak memiliki hubungan yang baik, karena Papanya berselingkuh dan Daniel tinggal bersama dengan Mamanya yang setiap hari banting tulang untuk mencukupi kebutuhannya. Gue dengar lagi, Papanya itu nyuruh Daniel untuk tinggal bersamanya dan Daniel akan mewarisi semua harta Papanya. Tapi, Daniel terlihat sangat marah dan mengatakan kalau dia tidak akan sudi menginjaki kakinya di rumah Papanya. Itu yang gue dengar, sekarang gue juga lagi nyusul Daniel yang tidak jadi masuk ke gedung olah raga. Sepertinya, dia akan membolos, ya sudah gue tutup dulu, nanti gue kasih kabar lagi!” sambungannya langsung di putuskan oleh Jennie. Mocha terdiam dan menatap kosong ke tembok di hadapannya.


“Apakah ini yang menjadi penyebab Daniel menjadi seperti sekarang?” lirih Mocha, dia sangat tidak bisa mengetahui fakta seperti ini. Dia juga merasakan sakit di hatinya saat melihat anak seperti Daniel, meski pun keluarganya selalu harmonis. Tapi, Mocha selalu merasakan apa yang orang lain rasakan, termasuk dengan perasaan Daniel sekarang ini. Mocha mulai merasa hatinya sedikit perih mendengar kenyataan itu. Dia selalu melihat Daniel dengan senyuman manisnya, ternyata lelaki itu menyimpan sebuah luka besar di hatinya. Mocha kagum dengan Daniel yang bisa menyembunyikan  itu dengan baik sehingga tidak ada yang mengetahuinya, mungkin Vernon dan Noah saja yang tahu hal itu.


Mocha kembali lagi ke dalam, dia melihat tidak ada Noah di dalam. Hanya Vernon dengan tim basket sekolah. Mocha melirik ke arah Niken yang mengatakan kalau Noah baru saja keluar dengan mulut tanpa mengeluarkan suara. Mocha langsung keluar dan mencari keberadaan Noah yang tidak di ketahuinya. Mocha mencoba menghubungi Dewi yang sedang menjalankan misinya, dia takut Noah ke sana dan Dewi akan ketahuan. Tapi, Dewi tidak mengangkat sinyalnya dan Dewi mematikan alatnya.


“Ini si Dewi kenapa ya? Kok gue ngerasa gak enak,” Mocha menundukkan kepalanya menatap lantai dengan gelisah. Dia tidak bisa tenang kalau Dewi tidak bisa di hubungi seperti ini.


“Dew, lo harus berhati-hati! Gue percaya lo pasti bisa ngendaliinnya. Jangan sampai lo ketahuan, Ya Allah tolong lindungi teman hamba,” Mocha berdoa agar Dewi tidak baik-baik saja.


“Apa gue harus ke sana juga ya? Buat pastiin kalau Dewi baik-baik saja dan gue juga bisa nemuin di mana sekarang Noah?” Mocha melangkahkan kakinya ke arah gudang pertama kali, di sini sangat sepi dan dia tidak mendengar suara siapa pun di sini. Mocha melangkah hati-hati menuju gudang sekolah.

__ADS_1


Mocha membuka pelan pintu gudang yang tertutup rapat, perlahan dia melongokkan kepalanya ke dalam. Dia menatap ke segala sudut dan tidak ada tanda-tanda orang di dalam sini. Mocha kembali menutupnya rapat, dia memanjat tembok dan dia naik ke atas atap gudang. Dia melihat pintu ruangan rahasia yang di atap gudang itu tertutup rapat. Mocha memejamkan matanya dan mulai melangkah mendekati pintu tersebut. Mocha terdiam di depan pintu dan menempelkan telinganya di pintu.


“Tidak ada suara sama sekali di dalam. Kayaknya memang gak ada orangnya deh,” gumam Mocha yang tidak mendengar apa-apa dari dalam. Mocha menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskan secara perlahan. Dia akan siap menerima apa saja yang akan terjadi nantinya, dengan perlahan Mocha menyentuh gangang pintu itu. Dengan sekali tarikan nafas dan memejamkan matanya Mocha menarik gangang pintu dan pintu pun terbuka. Mocha membuka perlahan kedua matanya dan dia terkejut saat ada seseorang yang membekap mulutnya dan menariknya begitu cepat.


__ADS_2