
Ketiga rekan Mocha tidak di perbolehkan untuk menjaga Mocha di UKS, karena mereka ada ulangan harian. Orang yang menjaga Mocha adalah orang yang membopongnya tadi, dia yang di tugaskan oleh pak Joko untuk menjaganya. Mocha mengalami demam tinggi dan sekarang dia di bantu dengan kompres di dahinya, Mocha masih belum sadar. Orang yang menjaga Mocha menatap Mocha dengan tatapan khawatir, padahal kompresnya sudah dia ganti sampai lima kali, tapi suhu tubuh Mocha belum turun-turun juga.
“Hm,” gumam Mocha yang mulai membuka kedua matanya, akhirnya dia sadar juga. Orang yang menjaganya memanggil petugas UKS yang merangkap profesi sebagai seorang dokter di rumah sakit dengan nama yang sama dengan sekolah ini.
“Kamu makan dulu bubur ini lalu minum obat ini!” perintah sang dokter meletakkan bubur dan obat di nakas sebelah Mocha, Mocha hanya menganggukan kepalanya dengan pelan. Dia masih begitu pusing dan tubuhnya sangat lemas, belum pernah dia mengalami hal seperti ini, termasuk sampai pingsan seperti tadi. Seumur hidupnya baru sekarang dia merasakan bagaimana pingsan itu.
“Sini gue suapin lo!” seru seseorang membuat Mocha menoleh dan menadapati Noah yang sudah mengambil alih bubur di tangannya.
“Kenapa lo bisa di sini?” tanya Mocha membuat Noah tersenyum kecil dan menyodorkan sendok yang berisi bubur yang masih panas itu. Mocha menerima suapan itu dan mengunyahnya pelan, buburnya terasa sangat pahit di lidahnya dan dia ingin muntah.
“Jangan di muntahin! Langsung di telan aja!” seru Noah membuat Mocha langsung menelan bubur itu, Mocha memejamkan matanya mencoba tidak memikirkan apapun. Agar tidak memuntahkan bubur itu, sungguh dia tidak menyukai rasanya.
“Gue yang bawa lo ke sini,” ujar Noah setelah Mocha menerima suapannya lagi, jadi Noah yang membopong Mocha tadi. Mocha menatap tak percaya ke arah Noah.
“Thanks,” ucap Mocha tulus, dia sudah tidak mau memakan bubur itu. Tenggorokannya sangat sakit dan rasa bubur itu semakin tidak enak.
__ADS_1
“Oke, sekarang lo minum obatnya,” jelas Noah memberikan Mocha obat yang di taruh dokter tadi, Noah membantu Mocha meminum airnya. Noah menaruh gelas yang masih tersisa separuh airnya di atas nakas. Lalu dia membantu Mocha membaringkan tubuhnya. Noah menarik selimut dan kembali mengompres dahi Mocha, Mocha hanya terpaku melihatnya.
“Sekarang lo istirahat dulu biar obatnya cepat bereaksi,” ucap lembut Noah sambil mengusap lembut puncak kepala Mocha, usapan lembut itu membuat Mocha mengantuk dan dia mulai memejamkan kedua matanya yang terasa berat. Noah memperhatikan wajah Mocha yang terlelap, melihat Mocha yang tertidur membuatnya ikut mengantuk. Noah melipat kedua tangannya di samping Mocha dan dia menaruh kepalanya di lipatang lengannya itu, Noah ikut tertidur juga.
Mocha membuka kedua matanya, dia sudah mendingan. Kepalanya tidak sepening tadi dan matanya kini sudah tidak panas lagi. Hanya tubuhnya yang masih terasa lemas, Mocha menoleh ke sampingnya saat mendengar suara dengkuran kecil seseorang. Mocha terkejut melihat Noah yang tertidur dengan posisi duduk, itu akan membuat tubuhnya kesakitan. Kenapa Noah memilih tidur dengan posisi seperti itu? Padahal masih banyak tempat kosong di dalam sini. Hanya ada Mocha yang sakit di sini, sehingga banyak tempat kosong yang bisa di tempati Noah.
“Gue kok deg-degan ya?” gumam Mocha sambil memegang dadanya yang berdebar kencang. Mocha tidak tahu harus mengatakan apa kepada Noah yang sudah merawat dan menjaganya, dia sangat malu, tapi dia harus berterimakasih juga kepadanya. Jika, bukan Noah yang membawanya ke sini dan merawatnya, dia tidak akan merasa lebih baik seperti sekarang ini. Mocha berperang dengan pikirannya sendiri, dia tidak tahu apa yang di lakukan Noah ini tulus atau tidak. Mocha tidak ingin berprasangka buruk kepadanya, tapi mengingat bagaimana kelakuannya terhadap Beta membuat Mocha harus berhati-hati dengan Noah dan kedua targetnya.
“Lo sudah mendingan?” tanya Noah sambil menempelkan telapak tangannya di dahi Mocha, Noah tersenyum karena suhu tubuh Mocha sudah kembali normal. Noah mengambil sapu tangan di saku celana, dia mengusap lembut keringat di wajah Mocha. Mocha hanya terdiam dan menikmatinya.
“Ini jam berapa?” tanya Mocha, karena ponselnya mati dan jam dinding di UKS juga mati.
“Cari apa?” tanya Noah.
“Sepatu gue mana?” tanya balik Mocha membuat Noah mengarahkan tangannya ke arah rak sepatu yang berada di dekat pintu UKS. Mocha langsung bergegas ke sana dan menggunakan sepatunya. Noah juga melakukan hal yang seperti Mocha, tubuh Mocha belum sepenuhnya kembali pulih. Hampir saja dia tergeletak di lantai, karena rasa pusing kembali menyerangnya. Noah menahan tubuhnya dan menarik satu tangan Mocha, tangan Mocha di kalungkan ke lehernya.
__ADS_1
“Lo masih pusing? Bisa buat jalan sendiri?” tanya Noah yang di balas gelengan.
“Gue masih pusing dan gak bisa jalan sendiri,” jujur Mocha membuat Noah membungkukkan tubuhnya, Noah memberi instruksi agar Mocha naik ke punggungnya. Mocha terdiam dia tidak mau melakukannya, tapi Noah langsung menarik lengannya membuat Mocha mau tak mau naik ke punggungnya.
Noah menggendong Mocha menuju ke kelasnya terlebih dahulu, karena kelasnya cukup dekat dengan UKS. Sekolah sudah sepi dan hanya tersisa tas Noah di dalam kelas. Noah mengambil tasnya dan di taruhnya di depan, lalu Noah melangkah menuju ke kelas Mocha.
“Gue berat,” ucap Mocha agar Noah menurunkannya, dia tidak ingin ada yang melihatnya.
“Mana ada berat? Badan lo sudah kayak kapas gini di bilang berat!” titah Noah membuat Mocha mendengus, badannya di samakan dengan kapas? Haha itu memang benar, bukan hanya Noah yang mengatakan hal itu. Tetapi, Omnya juga sering mengejeknya dengan sebutan itu.
“Tas lo biar gue yang bawa sini!” Noah merebut tas Mocha sebelum Mocha menyentuhnya.
“Dewi sama yang lain kok gak lihat gue di UKS tadi?” tanya Mocha saat mereka menuju ke parkiran sekolah, hanya tersisa mobil Noah di sana.
“Tadi mereka mampir, tapi lihat lo tidur mereka balik lagi dan gue bilang kalau gue yang antar lo pulang,” jelas Noah.
__ADS_1
“Di mana rumah lo?” tanya Noah yang sudah mengemudikan mobilnya keuar dari kawasan sekolah. Mocha memberitahunya dan Noah langsung merubah arah mobilnya menuju ke jalan yang di arahkan Mocha, Mocha lupa dengan mamanya yang sangat kepo itu. Mocha yakin dirinya akan di sidang lagi ketika melihat Noah mengantarnya pulang, Mocha menghela nafas dan memejamkan matanya.
“Lo kalau ngantuk tidur aja, nanti kalau sudah sampai gue bangunin!” seru Noah yang masih fokus dengan jalanan. Mocha benar-benar tertidur lagi, karena dia masih mengantuk.