Agen Mochi

Agen Mochi
07


__ADS_3

“Sudah sampai mana misi kalian? Apa yang sudah kalian dapat?” tanya sang bos membuat Mocha meringis dan melebarkan senyumnya.


“Belum ada,” jawab Mocha dengan senyuman lebarnya.


“Apa?” sang bos pun melotot mendengar jawaban kurang memuaskan Mocha, sang bos mengambil kotak tisu dan meleparnya ke arah Mocha dan lagi-lagi lemparan tersebut mengenai Jennie yang malang, karena Mocha selalu berhasil menghindar. Mocha merasa kasihan kepada Jennie yang selalu menjadi korban salah sasaran yang di sebabkan olehnya.


“Huwah, kepala cantikku tersakiti lagi,” teriak Jennie menggelegar, Mocha mencoba sekuat tenang tidak ikut tertawa seperti Niken dan sang bos yang sudah terbahak, sedangkan Dewi jangan di tanya dia hanya mengehela nafas dan menggelengkan kepalanya. Setelah cukup lama mereka asik dengan dunianya masing-masing, kini suasana di dalam ruangan kembali berbeda. Mocha menghela nafas dan mencoba untuk serius.


“Kita tidak di ijinkan duduk dulu? Kaki kita sudah mulai pegal,” keluh Mocha membuat sang bos mendelik, hanya Mocha yang berani seperti itu. Bahkan, para seniornya tidak ada yang seperti Mocha saar berhadapan dengan sang bos.


“Ya sudah, kalian duduk dulu!” perintah sang bos membuat Mocha langsung menuju sofa empuk di ruangan bosnya ini. Dia menyandarkan punggungnya danmulai merasa kantuk, dia memjamkan matanya hanya sebentar, karena kepalanya di jitak oleh sang bos.

__ADS_1


“Nih anak, setiap lihat AC bawaannyamolor terus!” keluh sang bos membuat Mocha kembali tersadar dan mencoba kembali ke alam sadarnya, entah dia merasa lelah dan mudah ngantuk akhir-akhir ini. Mungkin, dia terlalu banyak beban memikirkan misi yang begitu susahnya dan belum mendapatkan banyak informasi.


“Jelasin semuanya!” titah sang bos membuat Mocha menegakkan tubuhnya dan kembali menghela nafas, akhir-akhir ini juga menghela nafas menjadi kebiasaannya.


Bahkan, dia sering di tegur oleh mamanya dan di suruh olah raga agar tubuhnya tidak mudah lelah, tapi berhubung Mocha orang yang sangat malas untuk berolah raga. Dia memilih berolah raga di rumah, dia sudah berolah raga. Namun, sang mama masih memarahinya, padahal apa yang di lakukan olehnya juga termasuk dalam kategori oleh raga. Apa salahnya dia bernafas? Padahal itu termasuk dalam olah raga, tapi dengan kesal mamanya menceramahinya terus menerus. Untung saja, dirinya sudah terbiasa dengan omelan sang mama dan dia hanya tersenyum menanggapinya.


“Ini di suruh laporan malah senyum-senyum! Kamu sudah tidak waras? Apa tugasnya di alihkan saja?” tanya sang bos membuat Mocha gelagapan dan langsung menggeleng cepat. Dia tidak mau tugasnya di alihkan kepada orang lain, dia sudah sampai di titik ini dan tidak akan menyerah.


“Tidak! Tidak akan!” pekik nyaring Mocha tepat di telinga Jennie, membuat Jennie kembali tersiksa.


“Kita sudah mencari dan menanyakan hampir seluruh orang di sekolah, bahkan catatan di ruang BP pun mereka tidak ada. Guru BP bilang mereka tidak pernah melanggar peraturan, begitu pun dengan ppara siswa dan guru mapel. Tapi, anehnya aku melihat mereka sedang membolos dan mendengar kalau ini bukan hanya sekali mereka membolos, tapi tidak ada catatan tentang itu, aneh sekali. Mereka juga memiliki ruangan rahasia di atap gudang yang terhubung dengan sebuah ruangan di parkiran, tempat rahasia yang mewah penuh dengan barang-barang lengkap seperti di timezone dan hotel, gelagat mereka juga mencurigakan saat kita amati. Semua orang di sekolah

__ADS_1


seperti menyembunyikan sesuatu tengtang mereka, Niken juga menemukan lencana ini di sebuah pintu di parkiran yang menghubungkan ruangan rahasia mereka,” Mocha mengeluarkan lencana yang di temukan Niken dan memberikannya kepada bosnya.


“Ini lencana apa? Belum pernah melihat yang seperti ini,” ujar sang bos yang membuat Mocha tersenyum.


“Aku akan mencoba mencari tahu tentang lencana itu! Cukup itu saja laporan yang bisa aku sampaikan, karena memang itu yang aku analisis,” jelas Mocha yang di angguki bosnya.


“Iya, laporan darimu akan di rekap dan di analisis lagi di bagian analisa, kamu boleh kembali ke sekolah!” perintah sang bos membuat Mocha mendengus.


“Sebentar lagi jam pulang sekolah, tidak mungkin kita kembali ke sekolah,” keluh Mocha membuat sang bos menoleh ke arah jam dan benar apa yang di katakan Mocha.


“Ya sudah, kalian mau makan apa?” tanya sang bos membuat mereka berempat tersenyum lebar dan menatap binar ke arahnya, mereka sangat senang dengan traktiran makan yang akan di berikan sang bos.

__ADS_1


“Apa? Kalian bayar sendiri!” ketus sang bos menatap jengah mereka.


“Iya-iya, ini di traktir!” seru sang bos saat mereka berempat menunjukkan wajah sedih dan memelasnya, membuatnya tidak tega. Mereka sudah di anggap adik olehnya. Apalagi Mocha yang memang sangat dekat dengannya.


__ADS_2