
Mocha sudah bersiap dengan ketiga rekannya, dia sudah memberikan mereka alat-alat yang sangat berguna untuk berjalannya misi ini. Mereka berempat akan bolos untuk hari ini saja, itu lah yang di katakan oleh Mocha. Mereka berpencar untuk mencari keberadaan lebah madu yang menghilang dari kedua temannya. Mereka tidak menemukan jejaknya, sehingga Mocha berinisiatif untuk mencarinya dengan berpencar.
“Hari ini, gue harus bisa tahu semuanya. Gue sudah tidak bisa di agen ini lagi!” gumam Mocha yang berjalan sendirian menyusuri kelas-kelas IPA.
Mocha menundukkan kepalanya, dia sedang fokus dengan pendengarannya saat ini. Dia sudah memasang alat untuk Noah, tetapi sampai saat ini alat tersebut belum menunjukkan tanda-tandanya. Mocha takut, Noah menyadari keberadaan alat itu. Soalnya gps yang Mocha lihat tidak berada di kawasan sekolah. Tempatnya tidak terjangkau atau bisa di katakan tempat yang memiliki teknologi sangat canggih yang bisa menonaktifkan segala macam teknologi asing.
“Kayaknya dugaan gue benar deh! Dia sudah tahu keberadaan benda kecil itu! Sial, kalau begini gue gak akan dapat informasi apa-apa,” kesal Mocha yang kini menghentikan kakinya. Dia melihat ada sepasang kaki yang berdiri tepat di hadapannya. Dengan menahan nafas, Mocha menaikkan pandangannya dan dia melihat Vernon menatap dirinya dengan bingung.
“Gila lo kambuh ya? Lo ngomon sendiri begitu!” ujarnnya membaut Mocha tersenyum kikuk, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lo ngapain di sini?” bukannya menjawab pertayaannya, Mocha malah bertanya balik.
“Harusnya gue yang tanya kayak gitu! Lo kenapa bisa nyasar di lorong IPA?” tanyanya yang kini memicingkan kedua matanya. Mocha menahan ludahnya dengan susah payah, dia mencoba untuk terlihat seperti orang normal.
“Gue cari Noah,” jawab Mocha dengan sendirinya, dia tidak tahu kenapa bisa mengatakan hal itu. Yang pasti yang ada di pikirannya saat ini Noah, pacaran dan misinya.
“Cari Noah? Untuk apa lo cari dia?” kini tatapan Vernon berubah menjadi tajam.
“Gue ada perlu sama dia!” balas Mocha yang kini menatap tajam Vernon. Dirinya tidak ingin kalah dengan Vernon.
“Lo mau nembak dia?” pertanyaan aneh itu membuat Mocha terdiam.
“Gue tuh cewek! Mana ada cewek nembak cowok duluan?” kesal Mocha, karena pertanyaan dari Vernon itu sangat aneh dan dia tidak habis pikir kenapa Vernon bisamemiliki pemikiran seperti itu.
“Wah…dari ucapan lo itu. Lo udah ngaku kalau lo ada rasa sama Noah!” tuduhnya membuat Mocha langsung melotot.
__ADS_1
“Heh! Lo kalau punya mulut di jaga ya! Mau gue parut tuh mulut lo!” pekik Mocha dengan sangat kesal. Dia ingin mencabik-cabik mulut kurang ajar Vernon.
“Gue suka sama lo,” ucap lembut Vernon membuat niat awal Mocha mencabik-cabik mulutnya terhenti seketika. Dia menatap ke arah mata Vernon yang terlihat begitu serius. Padangan mereka berdua saling terkunci dan Mocha tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia hanya mengerjap bingung dan tiba-tiba telinganya seakan tuli permanen, ucapan Vernon seperti suara seseorang yang sedang kumur-kumur.
“Apa yang lo bilang?” tanya Mocha dengan menatap lurus Vernon.
“Gue suka sama lo, tapi…”
“Tapi apa?” bingung Mocha, karena Vernon tidak meneruskan kalimatnya.
“Tapi boong! Hahahaha,” gelagaranya dengan tertawa kencang. Hampir saja jantung Mocha keluar dari tempatnya, kalau yang di katakan Vernon itu bukan kebohongan.
“Sudahlah! Gue gak ada waktu untuk berbicara dengan orang gila,” ucap Mocha dengan sedikit keras dan dia berlalu dari hadapan Vernon yang kini terbatuk-batuk, karena tersedak air ludahnya sendiri. Bisa di katakan, itu adalah karma untuknya. Karena sudah mengerjai Mocha.
“Sial! Hampir aja jantung gue keluar!” umpat Mocha yang terus melangkah menyusuri lorong kelas IPA. Dia sempat melihat beberapa guru dan murid menatapnya sangat heran. Selain, ini bukan jam untuk berkeliaran melainkan juga mereka tahu bahwa Mocha bukan murid IPA.
“Ini titik Niken berada! Berarti dia berada gak jauh dari gue!” seru Mocha, dia langsung menekan tombol berwarna biru untuk melakukan panggilan cepat para agen. Rancangan program ini di buat khusus oleh Mocha sendiri dan di gunakan oleh setiap agen yang ada.
“Mochi-mochi! Mochi satu di sini!” mochi satu memberi sinyal.
“Mochi empat!” sinyalnya lagi.
“Mochi empat di sana?” tanya mochi satu yang kini terdengar sangat kesal, karena tidak ada balasan dari mochi empat sampai beberapa detik kemudian, dia menadapat balasan.
“Mochi-mochi! Mochi empat mendengar!” jawab dari ponsel mocha empat.
__ADS_1
“Kok suara mochi empat berubah?” tanya mochi satu saat suara yang menjawab berbeda. Suara yang terdengar begitu familiar dan sangat lembut.
“Berubah seperti apa?” suara tersebut membuat mochi satu semakin yakin dengan apa yang ada di pikirannya. Dia meremas ponselnya dan memejamkan kedua matanya.
“Kayak cowok? Ini siapa? Di mana mochi empat? Kenapa bisa memegang ponsel ini?” tanya
mochi satu dengan suara yang di buat setenang mungkin.
“Gue Noah!” jawabnya.
“What? Lebah madu!” pekik mochi satu.
Mocha langsung memutuskan panggilan tersebut, dia menatap ponselnya dengan tatapan horornya. Dia merinding sendiri sampai beberapa saat kemudian dia tersadar bahwa Niken dalam bahaya. Karena, Noah sudah berhasil mendapatkan ponselnya, di mana di sana terdapat berbagai rahasia tentang agen mereka dan rencana-rencana yang sudah di susun rapi olehnya.
“Gue harus cari Niken dan selamatkan dia! Sekarang waktunya menjadi pahlawan seutuhnya!” seru Mocha dengan langsung berlari dengan cepat menuju titik di mana Niken berada. Mocha hampir menabrak pot bunga yang hanya diam tak bergerak sama sekali. Dan pastinya, tidak akan ada hari di mana Mocha akan bertingkah seperti orang gila.
“Lo gak punya mata ya! Diam di sini! gue mau lewat. Lo kalau mau cari perhatian gue jangan sekarang! Karena, gue lagi urusan penting dan gak perlu jawab. Gue sudah tahu lo gak akan pernah jawab pertanyaan gue. Dasar pot gila!” itulah kalimat yang di lontarkan Mocha kepada pot yang hanya terdiam saja. Bahkan Mocha menatapnya begitu tajam.
“Di mana Niken? Gue lihat titiknya di sini? eh—tunggu, di belakang gue!” ujar Mocha dengan membalikkan tubuhnya. Namun, dia terkejut saat melihat orang lain yang kini berada di hadapannya dan menangkap dirinya yang hampir terjatuh di tanah.
“Noah di mana Niken?” tanya Mocha mencoba melepaskan pelukan Noah.
“Aku akan beritahu! Tetapi, kamu harus memberiku jawaban dari pernyataanku di reston saat itu!” tagihnya membuat Mocha terdiam.
“Bagaimana Mocha? Apakah kamu sudah memberikan jawaban? Kalau kamu menolakku, aku akan tetap menjadikanmu milikku! Tetapi—”
__ADS_1
“Gue mau!” seru Mocha membuat Noah tersenyum senang, Noah mendekatkan wajahnya kepada Mocha sambil memejamkan matanya.