Agen Mochi

Agen Mochi
36


__ADS_3

 “Lo kenapa? Kok jadi gelisah begitu?” tanya


Vernon yang menyadari tingkah Mocha.


“Hah? Oh gue? Gue hanya kepikiran kompor di rumah sudah gue matiin apa belum, soalnya tadi gue buru-buru,” jelas Mocha dengan tersenyum mencoba untuk meyakinkan Vernon. Dia berharap  Vernon tidak akan terus bertanya kepadanya.


“Oh gue kira kenapa?” balasnya dengan memainkan ponselnya. Mocha mengembuskan nafas pelan, dia sangat senang Vernon tak banyak bicara seperti Ucup.


“Lo kelaparan ya?” tanya Mocha ketika Vernon menambah porsinya. Dia tidak percaya kalau laki-laki angkuh yang terlihat menyeramkan itu begiru lucu sekarang. Tidak ada lagi, wajah sangar dan tatapan tajam seperti biasanya, yang ada hanya kedua pipi yang mengembung oleh makanan dan mata yang terpejam menikmatinya.


“Iya, gue lagi hemat akhir-akhir ini,” jawabnya dengan mulut yang masih penuh.


“Tumben lo hemat? Ada apaan? Lo mau beli majalah dewasa?” tanya Mocha tiba-tiba membuatnya langsung tersedak dengan cepat Mocha memberikan minuman Vernon kepada pemiliknya. Dia juga menepuk-nepuk punggung Vernon yang masih terbatuk.


“Kalau makan tuh hati-hati!” ingat Mocha setelah Vernon kembali normal lagi.


“Kalau ngomong tuh hati-hati!” balasnya dengan mengembalikan kalimat yang di ucapkan oleh Mocha.


“Kan siapa tahu,” ucap Mocha dengan sangat pelan.


“Gue hemat, karena gue lagi kabur dari rumah dan semua kartu gue sudah di-blokir sama orang tua gue,” jelasnya membuat Mocha terdiam.


“Gue harus gunain uang tabungan gue dengan baik. Gue ingin mencoba hidup mandiri dan bebas dari segala aturan yang orang tua gue buat. Lo tahu kan? gimana menderitanya seseorang yang geraknya selalu di batasi? Itu sangat menyiksa dan hampir membuatku menjadi gila. Gue ingin hidup seperti anak-anak lain yang orang tuanya tidak gila tahta dan menyayangi putra-putri mereka. Gue selalu memimpikan saat-saat itu,” jelasnya tanpa sadar. Mocha hanya terdiam mendengarkan segala cerita penuh beban dari Vernon.


“Gue jadi cerita ke lo! Menyedihkan sekali kan gue?” tanyanya dengan tawa sumbang.

__ADS_1


“Lo gak boleh begini! Lo harus bangkit dan cari kesukaan lo sendiri, tapi lo harus tetap ingat dengan batasannya. Lo gak boleh terus menyalah kodrat lo yang terlahir di keluarga yang tidak lo inginkan. Lo tahu kan? semua takdir yang di berikan Tuhan itu sudah ada jalannya sendiri. Tinggal kita yang menentukan untuk mengambil langkah mana yang menurut lo baik!” Vernon terdiam mendengar perkataan Mocha.


“Apa yang lo inginkan saat ini?” tanya Mocha dengan nada seriusnya.


“Gue hanya ingin buktiin kalau semua kebahagiaan itu bukan bersumber dari uang atau pun tahta. Gue ingin menyadarkan kedua orang tua gue, kalau kebahagiaan gue bukan jabatan yang mereka inginkan. Gue gak masalah tidak menjadi bangsawan dan tidak memiliki banyak uang.  Yang gue inginkan hanya kebahagia bersama orang-orang yang gue sayangi. Apalagi kedua orang tua gue, gue sangat menyayangi mereka,” jelasnya dengan mata yang mulai memerah, Vernon menahan tangisannya. Untuk petama kalinya dia menangis.


“Lo sudah tahu Daniel?” tanya Mocha tiba-tiba setelah menyerahkan tisu kepadanya.


“Maksud lo?” bingungnya.


“Daniel bekerja di Kafe uncle-nya Jennie,” jawab Mocha.


“Iya, gue tahu. Memangnya kenapa?” Mocha terenyum mendengarnya.


“Lo mau kerja di sana juga? Ya…itu adalah salah satu cara agar lo gak kekurangan uang dan bisa buktiin ke orang tua lo. Kalau lo bisa bertahan tanpa adanya uang dari mereka. Kalau lo mau gue bisa bantu lo kerja di sana,” jelas Mocha membuat Vernon sedikit tertarik.


“Oke, gue bantu lo! Nanti, gue kabari lo kalau sudah bisa bekerja di sana!” jelas.Mocha membuat Vernon sangat senang, sehingga dia tanpa sadar memeluknya.


“E—eh, maaf gue terlalu senang tadi,” ucapnya gugup dengan melepaskan tangannya dari tubuh Mocha.


“Iya, santai aja. Sekarang habisin makanan lo!” balas Mocha dan mereka kembali memakan makanan mereka dengan keadaan canggung.


“Mocha terimakasih traktirannya. Nanti kalau gue sudah dapat gaji pertama gue, gua akan traktir lo!” seru Vernon yang kini sudah berada di atas motornya, mereka sudah selesai makan dan hendak pulang.


“Iya sama-sama, gue tunggu traktiran lo! Awas sampai lo lupa!” ancam Mocha membuat Vernon tertawa dan hormat kepadanya.

__ADS_1


“Siap bu bos!” serunya membuat Mocha tertawa kecil.


“Lo hati-hati jangan ngebut!” ingat Mocha saat Vernon pergi terlebih dahulu.


“Asik ya?” bisik seseorang tepat di telinga Mocha membuatnya terkejut dan menoleh ke samping. Mocha melihat wajah Noah yang sangat dengat dengannya, bahkan bibirnya hampir menyentuh pipi laki-laki itu.


“Lo kok bisa ada di sini?” tanya Mocha dengan menjauhkan wajahnya dari Noah. Dia melihat tatapan tajam Noah yang sangat mengerikan, dia juga merasakan aura hitam yang di pancarkan laki-laki itu.


“Itu tidak penting, lo harus jauhin laki-laki lain atau?” pernyataannya dengan kalimat menggantung. Dia mendekatkan wajahnya dengan Mocha.


“A—atau apa?” tanya gugup Mocha.


“Atau gue akan marah sama lo,” lanjutnya membuat Mocha bingung, dia tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Noah. Itu sangat aneh dan membingungkan.


“Lo aneh deh! Tiba-tiba berakata seperti itu. Lo salah makan ya?” tanya Mocha mencoba untuk memberanikan dirinya dengan menatap tajam Noah yang menatapnya tak kalah tajam. Bahkan, dia bisa merasakan tubuhnya terbakar oleh tatapan dari Noah itu. Sungguh mengerikan.


“Gue suka sama lo dan lo gak boleh dekat sama cowok lain, apalagi sampai peluk-pelukan. Lo hanya bisa peluk gue dan gue hanya bisa peluk lo! Ini perintah dan lo gak bisa menolaknya!” Mocha tahu tidak ada nada bercanda dari kalimat yang di lontarkan oleh Noah. Tetapi, dia tidak bisa menerimanya dengan begitu saja. Dia tidak terima Noah melarangnya.


“Lo jangan aneh-aneh! Kita gak ada hubungan apa-apa dan lo bukan siapa-siapa. Jadi, lo gak berhak untuk perintahin gue!” Mocha mengatakan itu dengan nada marahnya.


“Apa lo lupa? Lo itu milik gue! Milik Noah Lance Rovano!” tekannya membuat Mocha menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengerti dengan tingkah aneh Noah.


“Lo gak berhak ngeklaim gue milik lo! Karena, kita memang tidak ada hubungan apa-apa!” entah kenapa kalimat yang di katakan Mocha itu membuat dadanya menjadi sesak.


“Kalau begitu, Mocha Arista maukah kamu menjadi kekasih dari seorang Noah Lance Rovano? Laki-laki yang menaruh hati kepadamu dan mencintaimu setelus hatinya?” tanya Noah tiba-tiba dengan berjongkok di hadapan Mocha.

__ADS_1


“Apa jawaban kamu?” tanya Noah dengan suara lembut dan panggilan berbeda membuat jantung Mocha berdebar tak karuan. Dia menatap ke arah manik mata Noah yang terlihat sangat tulus dengan penuturan darinya. Sangat tulus dan jujur, itu yang di lihat Mocha.


__ADS_2