
Mocha menelan ludahnya, dia tak menyangka Noah membawanya ke restoran perancis dan memesan menu makanan yang senilai uang sakunya dalam sebulan. Apakah dirinya akan kehilangan ginjal berharganya? Apakah dia kehilangan aset yang di bangga-banggakan, karena bernilai snagat mahal itu? Mocha memejamkan matanya dan berdoa dirinya akan baik-baik saja dengan satu ginjal.
“Lo jangan tidur di sini!” seru Noah kepada Mocha yang memejamkan matanya, Mocha segera membuka ke dua matanya dan mendelik ke arah Noah yang sangat lahap menikmati makannya, tidak seperti Mocha yang hanya terdiam meratapi nasib ginjalnya yang akan pergi jauh.
“Gue gak tidur,” gumam Mocha sambil menundukkan kepalanya, dia sebenarnya kelaparan. Tapi, dia tidak nafsu makan. Lebih baik dia diam saja.
“Lo gak makan?” tanya Noah yang di jawab gelengan lesu dari Mocha.
“Lo kenapa? Masih sakit? Atau sekarang demam?” punggung tangan Noah menempel di jidat Mocha membuat Mocha terkejut.
“Panasnya normal, kok,” ujar Noah sambil mengernyitkan dahinya, dia kembali menarik tangannya dan duduk kembali.
“Lo mau makan apa? Biar gue pesanin!” Noah bersiap memanggil waiters segera di tahan oleh Mocha.
“Enggak!” Mocha menarik tangan Noah yang sempat terangkat itu, kemudian dia melepaskannya saat Noah melirik tangannya yang dia pegang. Mocha menggaruk telinganya yang mulai gatal.
“Cukup satu ginjal gue yang hilang jangan dua-duanya,” ujar Mocha membuat Noah bingung tidak paham apa yang di maksud Mocha.
__ADS_1
“Maksud lo?” bingung Noah membuat Mocha mendongak dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Ini semua gue yang bayar kan? uang gue gak cukup buat bayar semuanya, hanya sisa ginjal gue aja!” seru Mocha membuat Noah gemas dan menjitak jidatnya kembali. Mocha mengusap jidatnya yang berdenyut itu.
“Kata siapa lo yang bayar!” titah Noah.
“Katanya gue harus traktir lo!” seru Mocha dengan kesal.
“Oh, traktirannya tidak jadi! Yang jadi itu lo temani gue makan, semuanya gue yang bayar! Sekarang lo mau makan apa?” jelas Noah membuat Mocha berbinar dan tersenyum cerah, tidak murung seperti tadi. Ginjalnya masih aman dan dia masih bisa menikmati micin dan kawan-kawannya.
“Benar lo yang bayar?” tanya Mocha memastikan dan Noah mengangguk mantap.
“Gue pesan sama kayak lo!” seru semangat Mocha.
“Semuanya?” tanya Noah menatap Mocha tak percaya, dirinya memesan tiga menu yang porsinya jumbo.
“Iya, tapi yang medium aja,” jawab Mocha dan Noah langsung memanggil waiters untuk memesankan Mocha.
__ADS_1
***
Setelah selesai makan Mocha pulang ke rumahnya tidak di antar Noah, mereka berpisah di restoran. Noah di jemput supirnya dengan mobil yang tak kalah mewah dengan yang di bawanya ke sekolah. Mocha tidak tahu seberapa kayanya Noah, mobilnya terlalu menyilaukan untuk dirinya yang hanya remahan micin.
“Baru pulang?” suara mamanya mengagetkan Mocha yang sedang memarkirkan mobilnya di garasi samping rumahnya, di dekat mobil papanya dan dekat dengan motor kesayangan mamanya. Gak penting kan? entahlah Mocha juga tidak paham.
“Eh Mamaku sayang,” Mocha menghampiri sang mama yang melipat ke dua tangannya di depan dada, dirinya hendak memeluk sang mama. Namun, gagal, karena sang mama mundur untuk menolak pelukannya.
“Iya, Mocha salah! Mocha buat Mama kecewa, tapi Mocha tidak bisa di giniin, Ma. Hati Mocha sakit, di sini rasanya sesak!” Mocha memukul dadanya untuk meyakinkan mamanya kalau dia terluka.
“Mulai lagi!” seru papa Mocha menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan istrinya, papa Mocha melewati mereka sambil membawa pakan lele untuk memberi makan anak-anaknya.
“Gak usah lebay! Sekarang kasih tahu Mama, kenapa kamu pulangnya jam segini?” tanya mamanya membuat Mocha mengelus dada.
“Hukuman Mocha di tambah tadi, karena Mocha melanggar hukuman yang di kasih. Terus tadi kaki Mocha tersandung dan terkilir. Ada teman bukan siswa di sekolah Mocha yang nolongin Mocha dan nyembuhin kaki Mocha, tapi tangan cantik Mocha ini tidak sengaja menarik rambutnya sampai rontok, karena menahan sakit. Terus dia minta Mocha temani makan sebentar tadi, Mocha sudah kenyang di traktir dia,” jelas Mocha yang sangat bahagia bisa makan enak gratis tadi.
“Siswa? Cowok berarti?” tanya mamanya dengan menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
“Iya,” jawab Mocha dan mamanya langsung menarik lengannya menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Mocha hanya pasrah di seret seperti itu oleh sang mama dan jiwanya sudah siap menerima apa yang akan terjadi nantinya, Mocha sudah biasa dan selalu di buat santai olehnya. Dia tidak terlalu suka berpikiran keras, kecuali dalam menjalankan misi. Bahkan, di kelas dia dengan santai memainkan ponsel ketika semua teman sekelasnya menyalin pr yang di berikan guru, karena dirinya sudah mengerjakannya di rumah. Tugas rumah ya di kerjakan di rumah menurut Mocha kalau di sekolah lain lagi.