
“Eh buset! Ini benar gak ya?” Mocha melebarkan matanya saat melihat tempat di mana dia berhenti, ini gak salahkan. Mocha kembali melihat tulisan dengan lampu yang menyala itu.
“Astaghfirullah, ampuni hamba-Mu ini Ya Allah. Ini pertama kalinya hamba datang—eh bukan-bukan, tapi cuma berdiri di dekat tempat seperti ini. Iya, ini pertama kali dan terakhir kali, Mocha hanya ingin tahu ngapain di datang ke tempat beginian,” gumam Mocha sambil terus beristighfar, dia menatap ragu untuk masuk atau tetap menunggu di luar.
“Ya Allah ampuni hambamu ini jika ini salah, tapi hamba juga sangat penasaran dan bisikan setan membuat hamba memasuki temoat ini,” gumam Mocha yang memasuki tempat yang di penuh oleh banyak orang dengan lampu-lampu warna-warni yang membuatnya sedikit pusing. Dia anak baik-baik dan ini kali pertamanya dia menginjakkan kaki di tempat seperti ini, tempat yang sangat enggan untuk di pijaki. Tapi, dia sangat penasaran untuk mengetahui maksud orang yang di lihatnya itu datang ke tempat ini, sebuah klub yang begitu mewah dan banyak mobil mewah di parkirannya.
“Di mana dia?” Mocha mengolokkan kepalanya mencoba mencari seseorang di kerumunan orang yang sedang bergoyang di setiap tempat. Mocha merinding melihatnya, dia tidak kuat dengan aroma tempat ini. Hidungnya terasa perih dan dia mulai merasa sesak.
“Gue gak kuat lama-lama di sini, pengap banget!” Mocha menutupi hidungnya dengan tangannya, dia mencoba menghindari orang-orang tubuhnya hampir bertabrakan dengannya.
“Itu dia!” Mocha menajamkan penglihatannya dan melangkah lebih dekat ke arah orang itu. Mocha melihat orang itu tidak sendirian, ada satu orang lagi yang wajahnya tidak terlihat jelas, karena minimnya pencahayaan di dalam tempat ini. Ini adalah salah satu bentuk hemat dan malas ngeluarin uang, pikir Mocha sambil menggelengkkan kepalanya.
“Itu Vernon? Jadi, Daniel ke sini untuk menemui Vernon apa ada lagi ya?” tanya Mocha yang duduk di kursi pojok sambil memegang majalah yang di ambilnya secara acak di rak tadi. Memang yang Mocha ketahui hanya Daniel, karena dia memang mengikuti Daniel tadi. Tapi, ternyata ada Vernon juga. Mocha berharap dia mendapatkan informasi penting di sini, tapi dia juga tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Dia sangat takut berada di tempat seperti ini dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya kalau dia berlama-lama di sini.
“Di mana Noah? Masih lama anaknya?” tanya Daniel yang baru selesai meneguk minumannya, Mocha terkejut mendengarnya. Jadi, mereka akan berkumpul di sini. Ini adalah sebuah keberuntungan juga untuknya mengikuti Daniel tadi. Tapi, tetap saja ini bukan tempatnya.
“Paling tar lagi, lo tahu sendirikan dia sangat susah keluar kalau sudah kembali ke rumahnya,” jelas Vernon membuat Mocha ingat mamanya mengatakan Noah dapat panggilan dari orang tuanya dan dia langsung berpamitan pulang.
__ADS_1
“Sorry, gue telat!” seru Noah yang baru datang dan bergabung dengan Vernon dan Daniel.
“Minum?” tawar Daniel di balas geleng dari Noah.
“Enggak, gue harus kembali pulang dan gue gak bisa mabuk,” jawab Noah membuat Mocha membulatkan kedua matanya. Jadi, mereka sering ke tempat seperti ini dan mabuk. Mocha tidak menyangkanya, padahal dia merasa mereka tidak akan sampai berbuat seperti ini. Melihat bagaimana ciri peminum dan tidak, ketiga tagetnya ini sangat pandai menyembunyikan semuanya.
“Gila-gila, ini parah banget murut gue. Mereka ternyata gak seperti yang ada di bayangan gue, eh—tunggu. Tapi, mereka kenapa sampai begini pergaulannya, pasti ada penyebabnya ini,” gumam Mocha yang terus memperhatikan mereka, dia akan terus menunggu sampai semuanya jelas. Tapi, ponselnya bergetar dan dia melihat mamanya menayakan dia sudah selesai membeli jajanannya atau belum, Mocha menepuk jidatnya, sepertinya dia harus cepat keluar dan untuk tergetnya ini dia harus bersabar lagi. Dia sudah menemukan fakta baru dan sebentar lagi akan ada fakta baru lagi.
“Oke, gue sudah berhasil keluar dan sekarang kembali ke pesanan papa sama jajanan,” Mocha menghela nafas lega sambil mengendarai motornya, ini sudah larut dia sedikit ragu apakah kedainya masih buka jam segini. Dia terlalu lama di dalam dan lupa melihat jam berapa sekarang ini.
“Mana?” tanya kompak mama, papa dan adiknya ketika Mocha baru memasuki rumahnya.
“Hehe,” cengir Mocha.
“Hehe apa?” tanya garang mereka membuat Mocha mengelus dadanya. Ini kenapa pada kompakan begini? Mocha kan jadi sendirian kalau begini.
“Sudah tutup semua,” cicit Mocha membuat mereka berdecak sambil melipat tangannya di depan dada, ini benar-benar keluarga kompakan dan dia sendiran. Ingin rasanya Mocha menjadi kucing yang sekarang di mana-mana rebahan atau molor. Sungguh nikmat hidup kucing-kucing itu.
__ADS_1
“Kamu belinya jam berapa?” tanya mama Mocha membuat Mocha menggaruk kepalanya yang tiba-tiba sangat gatal. Mocha terus menggaruk kepalanya seperti terdapat kutu di rambutnya.
“Tadi,” jawab Mocha tak berani menatap ke arah mereka, dia lebih memilih melihat ke kakinya.
“Tadi jam berapa?” tanya kompak mereka, lagi-lagi mereka kompak dan Mocha seperti sedang di pojokkan. Dia sudah seperti seorang tawanan yang sedang di bully oleh seniornya.
“Setengah jam yang lalu,” jawab jujur Mocha dan dia mendapat tamparan pelan di pipi kirinya, mamanya akan melakukan hal semacam ini kalau dia sedang ngehalu atau kalau dia sedang ingin sesuatu yang tidak mungkin dia dapatkan. Sakit? Tidak sama sekali, malahan tamparan itu seperti tepukan lembut saat mamanya membangunkannya dari tidur.
“Kemana aja? Kok baru beli?” tanya papanya membuat Mocha sedikit takut, dia kalau jujur takut di marahi. Tapi, kalau dia berbohong dia akan terus-terusan merasa bersalah dan dia tidak pernah berkata bohong kepada kedua orang tuanya. Kalau dia melakukan kesalahan, dia akan mengatakannya.
“Maafin Mocha, tapi tadi Mocha hanya ikuti target Mocha. Ke sebuah klub,” jujur Mocha sambil memejamkan kedua matanya, dia sudah bersiap untuk di marahi oleh papanya. Dia mengaku salah sudah masuk ke dalam tempat itu dan dia harus tetap mengatakan sejujurnya kepada kedua orang tuanya. Sampai beberapa saat dia tidak mendengar omelan atau pun kemarahan dari kedua orang tuanya, Mocha membuka kedua matanya dan melihat kedua orang tuanya tersenyum
“Kamu hanya mengawasi mereka kan? tidak ada hal lain kan?” tanya lembut papanya yang di jawab gelengan dari Mocha.
“Ini pertama kali dan terakhir kalinya Papa dengar kamu ke tempat seperti itu, kalau kamu ingin mengawasi mereka dan mereka di tempat seperti itu, kamu jangan lagi masuk ke dalamnya. Itu sangat berbahaya dan masih ada waktu esok untuk mendapatkan informasi mereka, ingat cepat atau lambat kebenaran akan kebongkar juga, jadi kamu harus bersabar dan berdoa agar Allah mudahkan urusanmu, ingat kata-kata Papa ya! Kamu ini anak perempuan dan cukup sudah kamu bergabung dengan agen itu, ini adalah yang terakhir. Kalau misi kamu selesai, kamu harus keluar dengan ikhlas atau pun dengan paksaan Papa. Papa tidak mau kamu terluka, Janji!” nasihat papa Mocha membuat Mocha mengembangkan senyumnya.
“Iya, Mocha janji!” seru Mocha sebelum menghambur ke pelukan keluarganya. Dia juga sudah memikirkan tentang itu semua dan dia ingin fokus dengan pendidikan serta karirnya, dia ingin membahagiakan kedua orang tuanya dan menjadi contoh yang baik untuk adiknya.
__ADS_1