Agen Mochi

Agen Mochi
25


__ADS_3

“Mocha! Kita sudah sampai!” seru Noah sambil menepuk pelan pipi Mocha, Mocha merasa tidurnya terganggu. Dia perlahan membuka kedua matanya dan terkejut melihat wajah Noah di depan wajahnya. Mocha memundurkan kepalanya dan berakhir kepalanya kepentok kaca mobil, Mocha meringis merasakan sakit di belakang kepalanya, dia juga sangat malu saat mendengar Noah sempat menahan tawanya.


“Lo gak kenapa-napa kan? Enggak sakit kan?” tanya Noah membuat Mocha menjerit dalam hati, sudah tahu dia kepentoknya cukup keras masih tanya dia tidak kenapa-napa. Sungguh pertanyaan yang sangat lucu dan membuat Mocha ingin merebus Noah bersama kentang-kentang kesayangan mamanya.


“Enggak sakit kok, cuma pusing aja,” jujur Mocha membuat tatapan Noah berubah menjadi khawatir, Noah mengulurkan tangannya dan mengusap lembut belakang kepala Mocha. Mocha cukup terkejut dengan yang di lakukan Noah sampai kaca mobil Noah di ketuk oleh seseorang. Mocha membulatkan kedua matanya saat melihat mamanya yang mengetuk kaca mobil Noah.


“Mama,” ucap Mocha saat dia turun dari mobil Noah, Noah juga ikut turun dan melangkah ke arah mama Mocha yang menaruh kedua tangannya di pinggang. Mamanya sudah terllihat begitu garang dam dan sebentar lagi akan ada macan yang mengamuk sampai tetangga keluar mendengarnya.


“Sore tante,” sapa santai Noah menyalami mama Mocha dan apa yang terjadi selanjutnya? Ini suatu keajaiban yang tidak pernah Mocha lihat sebelumnya. Sungguh, bukannya dia terlalu lebay atau semacamnya, tapi ini benar-benar nyata di depan matanya sendiri.


“Sore juga,” balas mama Mocha dengan senyuman manisnya, itu adalah suatu hal yang sangat langka terjadi. Mamanya itu tidak akan pernah tersenyum kepada orang asing, malahan wajahnya akan terlihat jutek dan garang. Tapi, dengan Noah mamanya itu bisa langsung tersenyum lebar seperti itu. Mocha sudah merasakan hal yang tidak beres dan itu tidak akan lama dia ketahui.


“Kamu pacarnya Mocha ya?” pertanyaan yang sangat mengerikan di telinga Mocha itu membuatnya langsung terbatuk.


“Kamu kenapa? Sudah waktunya ya? Kasihan masih muda sudah penyakitan,” ujar mamanya membuat Mocha langsung mengelus dadanya sabar, mamanya dan omongannya selalu bisa membuat Mocha banyak-banyak bersabar. Ada ya ibu seperti mamanya itu? Iyalah ada, tapi mau bagiamana pun Mocha sangat menyayangi dan menghormati beliau dengan sepenuh dan segenap hatinya. Harus banyak-banyak istighfar memang kalau mamanya sudah dalam mode savage.


“Bukan tante,” jawab Noah membuat mamanya cemberut, apa-apa itu mamanya? Astaghfirullah, ini benar mamanya atau bukan? Mocha tidak mengenalinya sama sekali.

__ADS_1


“Yah, Mama kira kamu ini pacarnya Mocha. Oh—ya jangan panggil tante, panggil Mama saja biar sama kayak Mocha,” ujar mamanya membuat Mocha menghembuskan nafas, mamanya ini tidak tahu kalau putri terimut satu-satunya ini sedang sakit dan sempat pingsan tadi. Padahal wajahnya masih pucat dan badannya lemas, tapi mamanya tidak menyadarinya dan malah menarik Noah  untuk masuk ke dalam rumah. Meninggalkannya sendiri di depan gerbang rumahnya, parahnya lagi pintunya sudah di tutup kembali. Wah, ternyata dia benar-benar di lupakan.


“Ma, Mocha sedang sakit lho,” curhat Mocha kepada mamanya yang sedang asik mengobrol dengan Noah di sofa. Bahkan papanya juga ikut nimbrung dan tidak menyadari kehadirannya.


“Palingan batuk kalau enggak ya flu,” cuek mamanya membuat Mocha mendatarkan wajahnya, Mocha melirik ke arah Noah yang juga menatapnya.


“Mocha pingsan tadi, Ma,” ujar Noah membuat mama Mocha langsung berdiri dan mengahmpiri Mocha yang sudah cemberut. Mocha sangat kesal, kalau dia yang mengatakannya mamanya tidak mempercayainya, tapi kalau orang lain langsung percaya. Sebenarnya dia itu anak siapa sih? Anak tetangga samping rumah mungkin.


“Mama sudah bilangkan! Jangan begadang terus, jangan main ponsel terus! Jadinya sakitkan! Ini anak cewek satu bandelnya minta ampun, haduh,” bukannya di peluk atau di elus-elus ini malah di marahi di depan Noah lagi. Mocha sudah bukan anak kecil lagi, dia sudah bisa merasakan malu.


“Ma, Mocha kan lagi sakit,” ucap Mocha yang kembali merasakan pening, dia tidak kuat berdiri dan memilih duduk di sofa bersebelahan dengan Noah. Dia kembali pusing.


“Pa! Anaknya di gendong ke kamar,” ucap pelan mama Mocha kepada suaminya yang baru kembali mengantarkan Noah yang berpamitan pulang. Noah sudah pamit, karena ada telepon dari orang tuanya. Dia sudah pulang saat Mocha baru tertidur, Noah merasa senang berada di rumah Mocha yang begitu nyaman dan dia ingin berkunjung ke sini lagi.


“Cepat atau lambat gue akan kembali berkunjung ke sini,” gumam Noah dengan senyum lebarnya sambil menatap rumah Mocha sebelum dia melajukan mobilnya meninggalkan rumah Mocha.


***

__ADS_1


“Mau kemana?” tanya mama Mocha saat melihat putrinya memakai jaket dan memainkan kunci motor di tangannya. Mocha menghentikan langkahnya dan menemukan mamanya melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatapnya garang. Mocha menghampiri mamanya dengan senyuman manis yang dia miliki.


“Mocha mau beli cimol, sekalian cireng sama siomay,” jawab Mocha sambil memeluk mamanya dari samping. Wajahnya di buat seimut mungkin agar hati mamanya luluh dan mengijinkannya untuk membeli jajanan favoritnya itu.


“Kamu baru sembuh sudah mau makan sembarangan, jangan lupa mama di bungkus juga,” ucap mamanya membuat Mocha tertawa kecil dan memeluk erat mamanya, dia sangat sayang mamanya dan dia akan selalu bersikap manja, jika sudah berdua dengan mamanya seperti ini.


“Aku juga dong,” sahut Agra, adik Mocha yang tiba-tiba datang dan ikut memeluk mamanya juga.


“Papa jangan di lupain!” seru papa Mocha yang baru selesai melihat anak-anak angkatnya, tidak lain dan bukan lele. Terlihat dari senter di genggaman beliau.


“Siap, ini uangnya mana?” tanya Mocha membuat semua terdiam dan menyibukkan diri. Mocha menghampiri papanya dan menyodorkan tangannya.


“Apa?” tanya papanya yang berpura-pura tidak mengerti.


“Jajan,” jawab Mocha membuat papanya tersenyum dan membuka dompetnya, beliau memberi Mocha uang berwarna biru. Warna uang kesukaannya, Mocha tersenyum senang.


“Papa titip makanan lele juga ya, sisanya ambil kamu,” ujar papanya membuat Mocha cemberut, sisanya darimana uang yang di terima ini mungkin akan ada kembaliannya dua ribu rupiah. Tapi, Mocha tetap tersenyum, lumayan buat beli es.

__ADS_1


“Oke,” Mocha langsung bergegas sebelum semakin malam, dia mengendarai motor dengan pelan, karena dia baru saja sembuh dan angin malam tidak baik untuk kesehatannya.


“Eh—stop!” pekik Mocha kepada dirinya sendiri, dia melihat seseorang yang di kenalinya. Mocha mengubah arah untuk mengikuti orang itu. Dengan jarak yang lumayan cukup jauh, dia tidak akan di sadari oleh orang itu kalau sedang membuntutinya.


__ADS_2