
“Kenapa lo gak tidur?” tanyanya membuat Mocha mendengus.
“Gimana caranya gue bisa tidur, kalau lo malah jadiin bahu gue bantal? Lagian, lo aneh hari ini. Buat jantung gue berdebar,” balas Mocha yang tak menyadari kalimatnya.
“Jadi, jantung lo bedebar kencang?” tanyanya dengan suara rendahnya, dia menarik wajahnya dan menatap Mocha yang kini hanya memejamkan matanya.
“Haha, lo salah dengar kali,” elak Mocha membuatnya tersenyum kecil, dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Mocha. Sehingga, Mocha dapat merasakan deru nafasnya yang menerpa wajahnya. Tiba-tiba saja Mocha menjadi sangat gugup.
“Jangan dekat-dekat!” Mocha menjauhkan wajah orang itu dengan kedua tangannya.
“Memangnya kenapa?” tanyanya dengan kembali medekatkan wajahnya.
“Nafas lo bau!” ketus Mocha mencoba menghilangkan perasaan gugupnya.
“Benarkah? Perasaan nafas gue wangi, deh?” dia menaruh tangannya di depat mulutnya dan mengembuskan nafasnya untuk memastikan ucapan Mocha.
“Wangi kok,” ucapnya dengan senyum kecil menghiasi wajahnya.
“Lo bohongin gue ya?” tanyanya dengan menangkap wajah Mocha.
“Enggak kok, gue jujur nafas lo bau banget!” Mocha menutupi hidungnya untuk membuktikan ucapannya.
“Lo lucu. Jadi, pengin cium!” tak selang satu detik setelah mengucapkan kalimat itu. Mocha merasakan bibirnya bertabrakan dengan benda kenyal dan dingin, ia hanya bisa terdiam dengan matanya yang terlihat hampir keluar dari tempatnya. Mocha tidak tahu, apa yang terjadi. Dia, terus terdiam dengan merasakan pergerakan lembut di bibir bawahnya.
__ADS_1
“Lo milik gue!” serunya sebelum melepaskan tautannya. Mocha hanya terdiam, karena otaknya masih belum berfungsi. Bahkan, dia tidak menyadari orang tadi sudah menghilang dari hadapannya beberapa menit yang lalu.
“Tadi itu apa ya?” tanya Mocha kepada dirinya sendiri, tangannya memegang bibirnya sendiri. Hingga beberapa saat akhirnya otak Mocha kembali berfungsi juga.
“MAMA BIBIR MOCHA TERNODAI!” teriakan Mocha mengisi ruangan perpustakan yang hanya ada penjaganya saja.
“Noah sialan! Gue harus bilas bibir gue pakai pasir sama bunga tujuh rupa ini!” Mocha menutup wajahnya yang sangat memerah. Dia, sangat kesal dengan otaknya yang tidak berfungsi di saat dia dalam keadaan berbahaya.
Sedangkan Noah tidak berhenti menyentuh bibirnya sendiri, dia berada di dalam ruangan rahasianya. Tepat di atas gudang, dengan Daniel dan Vernon yang sedang asik bermain game tanpa mengetahui kehadiran Noah yang sudah menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang panjang. Noah tidak bisa menghentikan senyumannya, dia sangat senang melihat wajah terkejut Mocha saat dirinya mencium perempuan itu. Noah tidak salah memberikan ciuman pertamanya kepada Mocha yang ternyata memberikannciuman pertamanya kepadanya.
“Kenapa dengannya?” tanya Vernon setelah mereka selesai bermain game, Daniel menoleh ke arah yang di lihat Vernon. Dia mengernyit menatap aneh sahabatnya yang tersenyum dan memegangi bibirnya sendiri.
“Entahlah? Gilanya kambuh mungkin,” balas Daniel yang lebih memilih mengambil minuman di dalam lemari es. Dia juga membawakan dua kaleng soda untuk Vernon dan Noah.
“Kenapa lo?” tanya Vernon dengan menepuk keras pundak Noah membuat laki-laki itu terkejut. Dia langsung bangkit dan duduk di sofa yang dia tiduri, Vernon dan Daniel mengambil tempat di sampingnya.
“Aneh,” gumam Vernon dengan suara kecilnya, sehingga tidak ada yang mendengarnya.
***
Mocha sedang heboh di dalam kamar mandinya, dia sudah berbelanja beberapa pembersih kuman dan pasta gigi anti kuman dengan sikat baru yang sangat mahal yang pernah dia beli. Dia membersihkan bibirnya dengan semua barang yang di belinya tadinsampai semuanya habis tak tersisa. Setelah, dia merasakan panas di bibir. Akhirnya dia menghentikannya dan keluar dari kamar mandi.
“Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini yang tidak sadar kalau bibir yang suci ini sudah ternodai. Hamba sudah membersihkannya dengan sangat bersih, semoga bibir ini tidak ada nodanya lagi, aamiin,” Mocha mengusapkan telapak tangannya ke seluruh wajahnya untuk mengakhiri doanya.
__ADS_1
“Gue lupa harus beli makanan lele! Haduh…alamat kena omel ini! Gue harus beli sebelum Papa pulang kerja,” Mocha bersiap untuk kembali keluar membeli barang yang sangat penting yang dia lupakan itu.
“Untung masih ada sisanya, kalau gue gak bawa pulang nih barang. Uang jajan gue di potong, terus kalau lelenya ada yang mati gue pasti di coret dari kartu keluarga. Papa kan lebih sayang lele dari pada anaknya sendiri,” Mocha terus mengomel sendiri setelah selesai membayar di kasir sampai dia sampai di samping sepeda motornya.
“Lo gila yang ngomong sendiri?” suara seseorang membuat Mocha menaikkan padangannya, dia berdecak kesal saat melihat wajah menyebalkan Vernon tepat di depannya. Laki-laki itu duduk di jok motornya dengan tangan memegang kaleng minuman.
“Maaf, gue gak kenal sama lo!” ketus Mocha yang kini mencari kunci motornya.
“Oh…ya, gue lupa kalau orang gila gak bisa tahu nama orang lain,” perkataan itu sukses membuat Mocha mengalihkan padangannya, dia menatap tajam Vernon yang terlihat tenang.
“Apa?” tanyanya membuat Mocha terdiam untuk beberapa saat.
“Lo mau makan gak?” tanya balik Mocha membuat Vernon mengernyitkan dahinya.
“Maksud lo?” bingungnya membuat Mocha melangkah mendekatinya.
“Gue ada rezeki yang lumayan tadi. Jadi, sebagai rasa syukur gue. Gue mau traktir lo. Ya… sebagai tanda maaf gue sama lo yang gak sengaja nabrak lo di dekat kantin,” jelas Mocha dengan tatapan penuh harap kepada Vernon. Dia memang mendapatkan rezeki dari hobi yang di milikinya dan itu tidak main-main jumlahnya.
“Kalau lo maksa yang gue gak akan tolak,” ujar Vernon dengan memalingkan wajahnya ke arah lain. Mocha tersenyum senang mendengarnya.
“Ya sudah, lo ikuti gue aja! Gue tahu tempat makan yang enak!” seru Mocha dengan mengandari motornya. Vernon mengikutinya dari belakang. Tak jauh dari tempat mereka ada seseorang yang menatap dingin keduanya. Tangannya mengepal kuat sehingga buku-buku jarinya memutih.
“Gue harus ikuti mereka pergi!” serunya dengan mengendari mobilnya yang terpakir tidak jauh dari tempat Mocha tadi. Dia tetap berada di dalam mobilnya, dia terus mengawasi Mocha dan Vernon yang memasuki sebuah restoran nusantara yang cukup terkenal di kota tersebut. Dia bisa melihat Mocha yang sedang memesankan makanan untuk Vernon dan Vernon sendiri sedang mencari tempat duduk.
__ADS_1
“Gue tunggu sampai Vernon pergi dan gue akan ngomong dengan Mocha,” ucap orang itu yang kini memainkan ponselnya sambil menunggu Mocha dan Vernon selesai makan.
“Gue ngerasa ada yang sedang perhatiin! Siapa ya?” gumam Mocha yang terlihat cukup terganggu dengan tempatnya kali ini. Dia merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya, dia kembali mengingat waktu di mana dia tidak bisa tidur dan melihat bayang seseorang dari balkon kamarnya. Orang tersebut seperti sedang mengawasinya.