
“Biar gue bantu lo obatin tuh luka!” seru Mocha dengan tegas tangannya menahan tangan Vernon. Mereka sempat terdiam beberapa saat, hingga tanpa sadar Vernon menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan Mocha. Dia turun dari motornya dan mengikuti Mocha ke dalam mobil perempuan itu. Mocha mengambil kotak obat yang selalu tersedia di dalam mobilnya. Vernon duduk di sebelahnya. Mereka duduk di jok belakang.
“Kalau sakit, jangan teriak atau pun peluk gue! Gue bukan cewek gampangan!” seru Mocha membuat Vernon memutar bola matanya.
“Lagian siapa juga yang mau meluk lo? Lo tuh gak cantik dan gila!” balasnya membuat Mocha tersenyum lebar.
“Gila,” gumam Vernon saat melihat Mocha. Dengan perlahan dan hati-hati Mocha membersihkan luka Vernon. Setelah bersih, Mocha mengambil obat dan mengobati setiap luka di wajah Vernon. Awalnya Vernon terdiam dengan kelembutan yang Mocha berikan.
“Akh! Lo gila ya?” teriak kesakitan Vernon saat Mocha menekan lukanya dengan keras. Dia memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa sakit yang di sebabkan oleh Mocha.
“Bukannya lo yang bilang gue gila? Ya sudah, gue lakuin apa yang lo ucapin,” jelas Mocha dengan membereskan kotak obatnya. Dia sudah selesai mengobati luka Vernon.
“Sudah sana keluar! Gak baik di dalam lama-lama! Bahaya!” seru Mocha dengan mendorong tubuh Vernon untuk keluar dari mobilnya. Vernon hanya mendengus melihat perilaku Mocha kepadanya yang tidak ada lembut-lembutnya.
“Apa lagi? Vernon bilang tidak akan pulang kalau Papih sama Mamih masih di rumah! Vernon tidak suka dengan kebohongan yang kalian lakukan agar Vernon menyetujui perjodohan itu. Jangan, harap Vernon menyetujuinya! Vernon sangat membenci kalian yang hanya memikirkan harta dari pada anaknya sendiri!” Vernon memutuskan panggilan itu dengan sepihak. Terlihat dia sedang menahan tangisnya, tanpa berkata apa-apa. Vernon memakai helmnya dan mengendarai motornya dengan sangat cepat.
“Jadi, itu masalahnya? Kenapa bos beri gue tugas seperti ini? Gue jadi ragu kalau ini perintah dari orang tua target. Tapi, gue masih belum tahu yang sebenarnya. Melihat bagaimana sikap mereka kepada kedua orang tuanya, buat gue ragu. Apa gue tetap, berusaha tidak mencurigai bos ya? Gue harus cari tahu, karena dari awal sudah ada ke janggalan dengan misi kali ini,” gumam Mocha dengan menatap ke arah di mana Vernon menghilang.
“Ngapain lo ngelamun?” tanya seseorang membuat Mocha terkejut. Dia mengalihkan padangannya dan langsung melihat Ucup yang menatapnya dengan bingung.
“LO LAMA!” teriak Mocha tepat di telinga Ucup membuat sang empu menutup matanya, karena sangat terkejut. Mocha melempar kunci mobilnya ke arah Ucup dan dengan cepat kunci mobilnya di tangkap.
“Dasar sepupu laknat!” umpat Ucup melangkah ke arah mobil Mocha. Dia menatap kesal Mocha yang terduduk santai di jok belakang, seakan dirinya adalah seorang supir. Untung saja, Ucup masih punya stok kesabaran yang tidak ada batasnya, sehingga dia masih bisa bersabar. Tetapi, kalau sudah tidak bisa lagi. Dia berjanji akan melepar Mocha ke kolam lele milik papa perempuan tersebut, ingatkan Ucup untuk melakukannya.
__ADS_1
“Lo mau jadi patung? Jalan pak supir!” Mocha melepar kulit kacang ke kepala Ucup yang sedang menyumpahinya. Dengan segera Ucup menjalankan mobil Mocha dengan kecepatan penuh membuat Mocha hampir membentur kursi depan. Dengan usaha penuh, Mocha mendekati Ucup dan menarik rambutnya dengan keras.
“Lo sengaja kan? Dasar Ucup bego!” pekik Mocha dengan terus menjambak rambut Ucup, sehingga mobilnya oleng tak terkendali di jalan raya.
“Lepas! Lo mau kita kecelakaan?” teriak Ucup dan Mocha langsung melepaskan tangannya. Ucup menghembuskan nafas lega, dia tidak jadi mati muda.
“Sadis lo!” seru Ucup dengan wajah cemberutnya.
“Gak usah sok imut! Jatuhnya malah jijik gue!” balas Mocha membuat Ucup melotot. Sepupunya ini memang sangat laknat dan ingin sekali dia basmi dengan pembersih lantai.
“Lo bawa gue kemana?” tanya Mocha saat dia menyadari jalan yang di lalui mereka bukan menuju ke rumahnya. Mocha menatap Ucup dengan sangat tajam.
“Otak lo gak berfungsi ternyata!” balasnya membuat Mocha menatapnya bingung.
“Kan gue lupa,” sahut Moch dengan tatapan polosnya.
***
Mocha menyusuri koridor sekolahnya dengan berjalan pelan, dia menatap lurus ke arah depan dan menghiraukan beberapa orang yang menyapanya tadi. Mocha sedang memikirkan sesuatu, dia merasa aneh dengan tingkah laku sang bos. Ketika, dia mencoba untuk menanyakan kapan misi itu di ingin oleh pihak bersangkutan, yang tak lain adalah orang tua target. Namun, sang bos tidak langsung menjawab pertanyaan. Melainkan, pergi meninggalkannya. Sang bos mengatakan bahwa beliau masih ada urusan yang sangat penting dan tidak bisa di tinggalkan.
“Buat gue makin curiga aja, gue harus menyusun rencana gue sendiri. Gue gak akan bilang ke Dewi atau pun yang lain, karena gue yakin mereka akan terus bertanya dan akan membuat semua ini menjadi lambat,” gumam Mocha yang terus melangkah. Namun, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya saat melihat dua orang dengan jenis kelamin berbeda sedang berbicara di dekat taman.
“Ada apa dengan mereka berdua? Terlihat begitu canggung dan mencurigakan?” Mocha mendekat ke arah mereka dan bersembunyi di dekat tangga.
__ADS_1
“Thanks. Berkat lo, gue gak jadi ambil tidakan bodoh. Ini jaket lo, nanti kalau lo kosong kabari gue ya! Gue mau traktir lo, bye,” ujar sang laki-laki dengan mengelus puncak kepala sang perempuan sebelum beranjak pergi dari sana. Setelah laki-laki itu sudah pergi dan tak terlihat lagi, Mocha mendekat ke perempuan yang sedang tersenyum malu, memeluk jaketnya.
“Ada hubungan apa lo sama Daniel?” tanya Mocha dengan menaruh tangannya di bahu perempuan itu, sehingga membuatnya sangat terkejut.
“M—Mocha?” ucapnya dengan wajah terkejutnya.
“Iya, Jen?” tanya balik Mocha kepada Jennie yang tersenyum kaku menatapnya.
“Lo belum jawab pertanyaan gue? Ada hubungan apa lo sama tuh orang? Kenapa tiba-tiba sangat dekat begini?” tanya Mocha denga suara datarnya.
“Kita ke taman dulu! Gue akan ceritain semuanya, gue sudah tahu dengan apa yang terjadi kepada Daniel!” Jennie menarik tangan Mocha ke arah taman belakang sekolah. Jennie melirik ke segala arah untuk memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
“Kemarin pas gue ikuti Daniel, dia berhenti di salah satu jembatan. Dia keluar dari mobilnya dengan satu tangan membawa pisau tajam, dia berdiri tepat di pembatas jembatan dan pisau di genggamannya itu mulai di iriskan ke tangan satunya. Gue langsung panik dan berlari ke arahnya, gue gak sadar gue meluk dari dari belakang sehingga di kaget,” Jennie mengusap air matanya. Sedangkan Mocha mengeluarkan tisu dari dalam tasnya.
“Gue kira lo mau kasih tuh tisa ke gue! Ternyata buat lo sendiri!” kesal Jennie saat Mocha menggunakan tisu tersebut untuk membersihkan hidungnya.
“Gue pilek, ya sudah gue pakai sendiri. Lagian, tinggal satu. Lo mau pakai bekas gue?” tanya Mocha dengan menyodorkan tisu bekasnya di hadapan Jennie.
“Oke-oke, gue lanjut! Jadi, dia ceritain semuanya sama gue. Gue juga sudah cerita sama Dewi dan Niken selepas lo pulang kemarin. Daniel tidak ingin menyusahkan Mamanya yang terus di teror oleh Papanya, agar Daniel ikut dengannya dan menggantikan posisi Papanya. Jadi, dia ingin beban Mamanya berukang dengan dirinya pergi dari dunia ini. Hal ini juga yang membuat Daniel kenal sama Noah, ketika mereka SMP dulu. Noah yang selalu menjadi tempat untuk Daniel di saat dia dan Mamanya kesusahan. Daniel juga bilang, Mamanya memiliki usaha dan sudah berkembang dengan pesat, itu berkat Noah,” Mocha masih terdiam.
“Dia tidak ingin membebani Noah lagi, karena Papanya mulai mengancam Noah juga. Gue sempat terkejut dengan kenyataan itu, sampai gue tanpa sadar mengatakan akan membantunya. Dengan ragu dia mengelengkan kepalanya dan berkata, kalau dia tidak ingin membuat orang lain menderita, karenanya. Dia sudah sadar, bahwa dirinya harus berubah dan mempertahankan Mamanya, dia adalah anak satu-satunya. Dia berjanji akan menjadi lebih baik dan gue sudah rekomendasiin dia di Kafe Uncle gue,” jelas Jennie membuat Mocha tersenyum.
“Gue akan beri kabar ini kepada bos dan terimakasih atas bantuan lo, gue senang saat dengar Daniel ingin berubah. Gue yakin, dia pasti bisa melewatinya, kita bantu dia dengan mencari tahu Papanya. Biarin ini rahasia kita berdua aja!”
__ADS_1