
Saat pulang sekolah, Mocha sengaja untuk terlambat. Dia merasa akan ada sesuatau yang akan di lewatkannya, kalau dia pulang lebih dulu. Feelingnya selalu tepat, sehingga dia memilih mendekam di dalam kelas sampai satu jam lamanya sebelum beranjak ke luar untuk menuju gudang di mana dirinya mengetahui kebiasaan target.
“Gue harus menemukan fakta baru!” gumam Mocha sambil mengintip sedikit celah pintu gudang, dia mendengar percakapan dari dalam. Benar, dugaan Mocha di dalam ada ke tiga targetnya yang bersantai sambil memakan pizza membuat perut Mocha kelaparan. Mocha menggelengkan kepalanya mencoba untuk kembali fokus dan cepat menyelesaikan misinya.
“Eh ada orang lagi? Siapa tiga orang yang berdiri di dekat Noah, berpakaian aneh dan selalu menunduk itu?” gumam Mocha saat melihat tiga orang berpakaian aneh, seperti baju kerajaan.
“Apa mereka sedang membuat drama kerajaan? Tapi, wajah mereka bertiga itu sudah tua! Tidak mungkin mereka siswa di sini!” Mocha terus menggumam dan menunggu mereka di dalam saling membuka suara. Sampai setengah jam lamanya mereka tak saling membuka suara, Mocha yang terus menunggu mulai merasa pegal dan kebas di kakinya.
“Mereka betah banget diam? Apalagi yang tiga orang itu! Gak gerak sama sekali! Apa mereka gak bisulan?” tanya tak jelas Mocha yang mulai lelah dan ingin pulang merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
“Kalian bisa kembali! Sampaikan salamku pada Ayahanda, aku akan menemuinya nati malam!” perintah Noah kepada tiga orang yang terus menunduk dan tiga orang itu hanya menundukkan kepala, suara mereka tak terdengar sampai ke Mocha. Mocha tidak bisa mendengar suara orang asing itu, apalagi orang asing itu sudah menaiki tangga yang Mocha yakini ruangan rahasia yang berada di atap gudang. Pasti mereka menuju parkiran. Mocha melangkah cepat meninggalkan gudang menuju ke parkiran yang cukup jauh jaraknya, dirinya berlari sekencang mungkin, agar tidak ketinggalan.
“Itu mereka!” seru Mocha menyembunyikan dirinya di pot besar yang ada di parkiran, dirinya melihat ke tiga orang asing itu ke luar dari pintu yang sama dengan Mocha waktu itu. Ke tiga orang tersebut memasuki mobil mewah yang hanya di lihatnya di televisi atau pun luar negeri. Mobil limousin, itu yang di naiki mereka.
“Siapa mereka? Kenapa begitu takutnya mereka pada Noah? Siapa sebenarnya lebah madu itu?” bingung Mocha membuat kepalanya pusing untuk terus menebak-nebak, otaknya tidak dapat menemukan jawaban.
Mocha beranjak dari persembunyiannya dan melangkah santa ke arah mobilnya, dia menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di badan mobil. Dia melamun dan pikirannya terasa penuh, dirinya butuh hiburan dan satu-satunya hiburan baginya adalah makan, tapi uangnya sisa sua ribu. Hanya cukup untuk membeli minuman saja.
“Miskin, selalu miskin dan tetap miskin!” senandung Mocha meratapi dompetnya yang hanya ada satu lembar dua ribuan dan bon-bon bekas dirinya belanja ataupun saldo rekeningnya. Mocha kembali menutup dompetnya ke dalam tas, dia menghela nafas dan mulai mengembangkan senyumannya. Dia berdoa sang mama sudah memasakannya makanan enak saat dia tiba di rumah, tapi itu hanya angan-angan saat dirinya menerima pesan kalau semua jatahnya di habiskan sang adik, karena dirinya telat pulang. Ingin marah, tapi tidak bisa, ingin teriak takut di sangka orang gila. Dirinya menjadi serba salah.
__ADS_1
“Hai, Mocha?” sapa seseorang membuat Mocha terperanjat kaget, dia langsung menoleh dan mendapati Noah tersenyum kecil kepadanya. Noah tidak sendirian, dia bersama Vernon dan Daniel.
“Wah-wah kalian ada apa ini? Tumben sekali Noah mau menyapa seorang cewek?” Daniel menatap mereka curiga dan Vernon hanya mengangkat bahu acuh.
“Kok belum pulang?” tanya Noah mengabaikan pertanyaan Daniel.
“Iya, tadi ada urusan sebentar. Ini juga mau pulang, gue duluan ya,” Mocha langsung memasuki mobilnya dan mereka ber tiga menyingkir memberi jalan untuk Mocha. Mocha menghela nafas setelah meninggalkan sekolah, dia berdoa semoga mereka tidak mencurigai dirinya.
“Sepertinya masih aman,” gumam lega Mocha sambil menyetir dengan tenang.
__ADS_1