
“Vernon? Bagus!” gumam seseorang saat melihat Vernon berjalan ke arah kantin dengan Noah dan Daniel yang bersama. Orang itu melangkah mendekati mereka dengan berpura-pura memainkan ponselnya, dia terus melangkah dan ketiga orang di depannya tidak menyadari ke hadirannya sampai tubuhnya bertabrakan dengan Vernon. Membuat Vernon terjatuh dan orang itu berada di pelukan seseorang.
“L—lo gak apa-apa kan?” tanya Noah kepadanya.
“I—iya gue gak apa. Terimakasih sudah nahan gue,” jawabnya dengan suaranya yang terlihat sangat gugup sama seperti Noah.
“Mocha! Lo sengaja nabrak gue kan?” tanya marah Vernon yang sudah bangkit. Dia manatap tajam Mocha yang hanya mengerjapkan matanya.
“Gue gak sengaja, lagian gue juga main ponsel. Jadi, gue gak tahu kalau kalian sedang lewat di depan gue,” jawab Mocha dengan kesal.
“Cha! Ikut gue!” Ucup menarik tangan Mocha dan membawanya pergi dari hadapan tiga orang tadi. Mereka berhenti di dalam kelas, tepat di bangku Ucup berada.
Ucup mengeluarkan isi tasnya, keadaan kelas memang sepi dan hanya tersisa mereka berdua saja. Mocha hanya terdiam menatap semua barang-barang yang di keluarkan oleh Ucup. Dengan keadaan marah Ucup mengambil salah satu alat yang berbentuk balok dengan warna hitam, terdapat tutup yang berada di bagian atas untuk membuka benda tersebut.
“Ini benda-benda apaan? Kenapa ada di dalam tas gue?” tanyanya.
“Gue titip barang-barang gue bentar aja! Nanti pulang sekolah gue ambil!” jawabnMocha membuat Ucup memicingkan matanya.
“Lo gak konsumsi obat-obatan kan?” tanyanya membuat Mocha langsung menampar mulutnya dengan sangat keras membuatnya meringis kesakitan.
“Lo bego ya? Itu bukan obat tolol! Itu salah satu alat sensor yang gue buat. Ini semua adalah alat mata-mata yang gue buat sendiri. Yang lo pengan itu sensor suara yang terdapat gps dan juga bisa merekam percakapan yang di tangkap dalam radius satu kilometer. Terus buku-buku ini adalah senjata-senjata yang gue simpan dalam tempat transparan dan juga ringan. Sehingga, kalau lo buka tuk buku, tidak akan berat dan berisi kertas kosong,” Mocha menjelaskannya dengan mengambil alat-alat tersebut, dia mengeluarkan senjata dari dalam buku menggunkan sensor sidik jarinya. Ucup yang melihat hanya melotot dan membuka mulutnya.
“Kotak pensil ini, isinya kotak obat, antiseptik dan juga beberapa bius dengan kadar yang rendah sampai tinggi. Di dalamnya di lengkapi alat-alat kedokteran, mulai teleskop, suntikan dan infus,” Ucup menghentikan penjelasan Mocha yang kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam tas miliknya.
__ADS_1
“Tapi, isinya kosong?” tanyanya membuat Mocha berdecak kesal.
“Kan gue sudah bilang, kalau gue buat transparan dan ringan. Jadi yang dilihat hanya tempat kosong. Pokoknya lo harus simpan nih barang dan gue akan ambil nanti pulang sekolah, kalau sampai hilang nyawa lo yang gue hilangin juga!” ancam Mocha membuat Ucup menelan ludahnya dengan susah payah.
“Iya-iya gue simpan, tapi ada balasannya juga dong!” balasnya membuat Mocha jengkel.
“Lo mau alat apaan?” tanya Mocha membuat Ucup tersenyum senang.
“Kacamatanyang bisa tembus pandang, sehingga gue tahu pakaian da—,” Mocha langsung menamparnya dengan keras.
“Gue serius bodoh!” kesal Mocha membuat Ucup cemberut.
“Iya deh, gue ingin teropong yang bisa lihat makhluk lain,” pintanya.
“Lo gak perlu susah-susah minta alat itu ke gue! Lo hanya perlu bercermin dan lo pasti langsung lihat makhluk lain di sana!” seru Mocha membuatnya terdiam.
“Lo sudah tahu kalau lo setan?” tanya Mocha dengan tatapan polosnya.
“Mocha?” panggil Ucup dengan suara memohonnya.
“Apa sayang?” balas Mocha.
“Dasar bocah goblok!” kesal Ucup memilih keluar meninggalkan Mocha yang tertawa puas sudah membuat Ucup kesal. Dia melangkah ke arah bangkunya dan menggunakan earphone kecil transparan di telinga kanannya. Dia mengambil novel, agar tidak ada yang mencurigainya. Alat yang dia tempelkan di baju Vernon sudah mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
“Noah, gue boleh kan tinggal di apartemen lo lagi?” suara Vernon mulai terdengar.
“Lo gak mau pulang? Orang tua lo sering tanya-tanya keberadaan lo ke gue! Gue jadi malas terus berbohong dan mengatakan kalau gue gak tahu lo kemana,” jelas Noah.
“Gue gak bisa pulang ke rumah. Pasti bokap gue langsung nyekap gue di kamar sampai acara pertunangan bodoh itu selesai. Mereka, selalu menjunjung tinggi kasta. Gue selalu di kengkang oleh mereka, semua keinginan mereka harus gue turuti. Kalau gue membatah, gue berakhir di pukuli sampai tak sadarkan diri,” ujar Vernon membuat Mocha terkejut, dia bahkan menjatuhkan novel yang di genggam olehnya.
“Iya gue tahu. Gue akan lindungin lo, tapi gak selamanya gue bisa lakuin itu. Orang tua kita saling mengenal, apalagi lo dari keluarga bangsawan yang sangat di hormati oleh setiap orang setelah keluarga raja. Tapi, lambat laun mereka akan lebih nekat lagi dan gue tidak tahu apa yang akan terjadi ke lo nantinya,” jelas Noah dengan suara lelahnya.
“Keluarga gue memang bangsawan yang selalu baik di hadapan keluarga kerajaan. Tapi, itu hanya topeng mereka. Mereka tak kalah menjijikan dengan seorang penjilat, mereka ingin kekuasaan dan kedudukan yang lebih tinggi lagi. Tanpa, berpikir tentang anaknya yang menjadi korban ke serakahan dari mereka,” jelas Vernon.
“Gue ingin bebas dan menjadi warga biasa aja, dari pada memiliki kedudukan tinggi. Namun, itu hanya topeng yang sangat cantik. Gue lelah, gue ingin mengakhiri hidup gue!” Mocha terkejut dengen penuturan tersebut.
“Lo jangan gegabah. Lo masih punya gue dan Daniel, kami akan bantu lo. Gue janji, sebagai sahabat lo. Kita akan mencari jalan keluarnya sama-sama, kita akan buat kedua orang tua lo sadar akan kelakuan mereka!” Noah mengucapkan kalimat itu dengan begitu tegas.
“Ta—”
“Ini perintah Vernon!” seru Noah membuat Vernon mengentikan ucapannya.
“Hidup mereka sangat berat ternyata, gue gak tahu kalau mereka akan seperti ini. Gue akan bantu mereka,” tekad Mocha yang melangkah keluar kelas. Padahal sebentarblagi bel masuk akan berbunyi, dia ingin menengkan pikirannya. Lagi pula kalau dirinya mengikuti pelajaran di kelas, dia akan tidak fokus dan membuatnya bertambah pusing.
“Lo mau bolos?” tanya seseorang yang berdiri di belakang Mocha, Mocha hendak memasuki ruang perpustakaan untuk tidur tentunya.
“Lo sendiri bolos?” bukan menjawab, Mocha malah melontarkan kalimat yang sama.
__ADS_1
“Bolos, kita bolos bareng aja. Yuk!” ajaknya dengan menggandeng lengan Mocha memasuki perpustakaan. Saat mereka masuk, penjaga perpustakaan hendak memarahi mereka, namun beliau urungkan saat melihat Noah yang masuk. Mocha menatap bingung ke arahnya. Penjaga perpustakaan itu terlihat ketakutan dan menundukkan kepalanya.
“Gue ngantuk!” serunya saat mereka sudah duduk di bangku yang di sediakan di dalam perpustakaan. Tanpa permisi, dia meletakkan kepalanya di bahu Mocha dengan mata terpejam. Mocha hanya terdiam merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.