
Agen mochi sudah berada di dalam ruangan bos mereka, ini adalah waktunya mereka untuk memberikan hasil laporan yang di dapat dari waktu satu minggu. Mereka sedang menunggu sang bos yang kebetulan sedang terlambat hari ini, mungkin bosnya itu sedang kencan. Mengingat usianya sudah menginjak usia dua puluh lima tahun dan kalau tidak salah dengar kedua orang tuanya sudah menyuruhnya untuk menikah, tapi tidak pernah di dengarkan olehnya.
“Ini si bos kencan kali ya?” tanya Mocha membuat Jennie yang sedang mengunyah kiwi menghentikan kunyahannya dan langsung menyeprotkannya di wajah Niken yang memang berada di hadapannya. Mocha menatapnya jijik, sungguh Jennie begitu jorok.
“Ih, lo jorok banget!” seru Mocha menatap wajah Jennie yang belepotan dan wajah Niken yang sangat-sangat tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata, sungguh sangat menjijikan.
“Lagian lo bilangnya begitu!” semprot Jennie kepada Mocha yang hanya mengerjap bingung, memangnya dia bilang apa? Cuma bilang kencan dan ada kalinya.
“Lap dulu mulut lo!” kesal Dewi kepada Jennie yang masih belepotan. Sedangkan Niken berlari ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya, Mocha kalau jadi Niken akan membalasnya dengan menyembur Jennie pakai buah pisang kesukaannya.
“Niken, maafin gue ya. Tadi gue gak sengaja,” Jennie langsung menghampri Niken yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah cemberutnya, Mocha jadi kasihan dengan Niken yang tidak bersalah itu. Dia jadi tidak enak juga, karenanya Niken kena sial, biasanya Jennie yang kenal sial.
“Jen! Lo kasih tas yang di penginin Niken kemarin!” titah Mocha membuat mata Niken berbinar.
“Oke, lo boleh mengambilnya!” seru Jennie membuat Niken langsung kegirangan. Mocha tersenyum senang melihatnya, jadi dia tidak merasa bersalah lagi.
__ADS_1
Cukup lama mereka menunggu, sekitar satu jam lamanya membuat Mocha kembali kelaparan. Dia meminta Jennie memesankan mereka pizza dan Jennie langsung memesang dua box pizza bersama anak-cucunya. Sungguh senangnya hidup Mocha yang selalu berkecukupan dengan traktiran dari Jennie. Dia sangat bersyukur Tuhan memberinya teman seroyal Jennie yang tidak pernah perhitungan dan selalu sedia memberinya makanan gratis.
“Lho? Kalian sudah lama di sini?” tanya bos mereka yang baru memasuki ruangannya dan melihat dua box pizza bersama antek-anteknya di atas mejanya. Dia menggelengkan kepalanya melihat para agennya yang sedang rebahan sambil menikmati wifi tercepat di ruangannya.
“Hm,” jawab Mocha yang sedang fokus dengan game di ponselnya, hanya Mocha yang bisa sesantai ini kepada bosnya. Bahkan dia masih rebahan meski pun para rekannya sudah duduk dengan anteng di sofa saat bos mereka duduk di sofa bersebrangan dengan Mocha yang mengambil alih sofa paling empuk di dalam ruangan ini.
“MOCHA!” teriak sang bos mengagetkan Mocha dan hampir saja ponsel di genggamannya terjatuh di lantai, padahal baru beberapa hari ponselnya itu terjatuh dan sekarang ingin terjatuh lagi. Iya kalau jatuhnya ke atas, ini jatuhnya ke bawah dan membuatnya pecah.
“Hah, untung saja belum jatuh,” ucap lega Mocha sambil memeluk erat ponsel kesayangannya.
“Mana laporannya?” tanya sang bos saat Mocha selesai dengan dunianya sendiri. Mocha menyerahkan map berwarna biru yang baru saja dia ambil di dalam tasnya. Di dalam map itu terdapat beberapa lembar laporan yang berhasil dia dapatkan, termasuk bagaimana sekolah mereka menyembunyikan segalanya, bagaimana kepala sekolah yang begitu mudah menuruti keinginan dari Noah dan yang paling penting adalah laporan yang Mocha dapat dari ketidak sengajaan, yaitu sifat asli para target yang membully dan menguasi sekolah. Semuanya sudah dia rekap dengan rapi.
“Oke, aku baca dulu,” sang bos mengambil map tersebut dan mulai membukanya, sambil menunggu sang bos selesai membaca semuanya. Mocha kembali bermain game di ponselnya, dia sangat greget ranknya turun lagi, padahal dia sudah top up dan bermain dengan lihai. Tapi, kenapa masih turun lagi, itu membuatnya kesal dan tidak bisa maju ke babak selanjutnya.
“Ini bagus,” ucap sang bos setelah selesai membaca semuanya, Mocha menguap lebar dan dia langsung melebarkan matanya saat mengingat sesuatu.
__ADS_1
“Bos, kenapa kita tidak di kasih tahu siapa nama orang tua mereka?” tanya Mocha yang sangat penasaran dengan hal itu. Padahal dengan mengetahui namanya, Mocha sangat mudah mengetahui semuanya dalam sekejap dia bisa melacaknya dengan kemampuan yang dia miliki.
“Itu, karena permintaan mereka dan aku benar-benar tidak bisa memberitahu kalian!” jelas sang bos membuat Mocha menghela nafas, ternyata bosnya ini sangat menjaga privasi para kliennya dan Mocha juga menghargainya. Dia harus bekerja ekstra lagi untuk menyelesaikan semuanya.
“Jadi, semua siswa takut kepada mereka?” tanya sang bos membuat Mocha yang hampir rebahan mengurungkan niatnya, dia kembali duduk dengan rapi.
“Tidak semuanya sih, hanya beberapa yang pernah ada masalah dengan mereka. Aku juga mendapat informasi dari orang yang dapat di percaya, kalau ada beberapa siswa dan siswi yang keluar dari sekolah, karena berurusan dengan mereka. Salah satunya adalah siswa yang pernah mendapat ranking satu di jurusan IPA, tapi setelah beberapa hari siswa tersebut dinyatakan pidah sekolah dan bergantilah nama Noah yang menjadi ranking satu di kelas IPA,” jelas Mocha yang kebetulan mendapat informasi yang sangat akurat dari sepupunya, yaitu Ucup. Gitu-gitu, dia sangat mempercayai Ucup yang berstatus sebagai sepupu terlaknatnya.
“Jadi, inti dari semuanya. Noah ini tidak ingin di kalahkan dan ingin menjadi si nomer satu dalam segala hal?” tanya Dewi yang membuat Mocha mengembangkan senyumnya, dia baru menyadari ternyata Noah mempunyai sifat obsesi terhadap sesuatu, terutama kedudukan. Iya, Noah selalu ingin menjadi pemenang atau bisa di bilang nomer satu di antara banyaknya siswa di sekolah.
“Bisa jadi begitu, sudah jelaskan kalau Beta yang seharusnya maju ke final tiba-tiba di gantikan Noah dan apa kata kepala sekolah? Noah harus jadi pemenangnya? Itu sudah membuktikannya,” jelas Jennie yang memang benar adanya, Noah yang menjadi pemenang di olimpiade matematika itu. Noah memang pintar, tapi Mocha tahu Beta lebih unggul di matematika daripada Noah.
“Bagus! Kemajuan misi kalian sudah terlihat dan cepat atau lambat semuanya akan terbongkar! Kalian harus kerja ekstra lagi dan tentang lencana itu bagaimana?” tanya sang bos membuat Mocha teringat akan lencana yang di pegang olehnya, dia sudah mencarinya di segala sumber, tapi tidak menemukan jawabannya. Dia sangat penasaran dengan lencana aneh itu, dia juga kurang tidur karenanya, setiap malam dia bergadang untuk mencari sumber yang jelas akan lencana tersebut.
“Masih dalam proses,” ucap Mocha membuat sang bos menganggukkan kepala, Mocha berharap dia akan segera menemui sumber yang jelas tentang lencana itu.
__ADS_1