
Mocha sedang terdiam di balkon kamarnya, dia kembali mengingat bagaimana sikap-sikap yang di tunjukkan Noah tadi. Dia melihat semua yang di lakukan Noah itu tidak mencurigakan, dia mengerti mana orang yang sedang berpura-pura dan tulus. Untuk sekarang dia mengakui bahwa Noah belum berbahaya, dia tidak tahu besok, lusa atau nanti sifat asli Noah akan ke luar. Ini masih awal dari prediksinya, Mocha menghela nafas saat mendengar panggilan mamanya. Malam ini dirinya akan di sidang, setelah tadi lolos saat mamanya menerima telepon dari om nya dan Mocha dapat bernafas lega.
Mocha beranjak ke luar dari kamarnya menuju ruang sidang, atau lebih tepatnya ruang tengah di mana dirinya dan keluarga berkumpul untuk menonton televisi dan menghambiskan waktu bersama. Namun, ruang tersebut juga beralih fungsi menjadi ruang sidang saat dirinya dan adiknya melakukan ke salahan atau berbuat ulah.
“Hai kak,” sapa Agra, adik Mocha yang tersenyum mengejek ke arahnya sambil memakan kuaci yang berada di dalam toples. Adiknya duduk di sebelah papanya yang juga memakan kuaci dari toples yang di pangku adiknya. Mamanya sudah duduk di sofa ke besarannya, Mocha mengambil duduk di karpet dekat dengan mamanya.
“Hmm,” gumam malas Mocha, biasanya dia yang mengejek adiknya yang sering di sidang. Tapi, kini dirinya yang sedang di sidang dan di ejek. Memang karma itu ada, Mocha akan mengurangi penistaan terhadap adiknya, dia tidak mau di sidang. Sudah lama dirinya tidak di sidang semenjak kelas satu SMA awal-awal dirinya bergabung dengan Agen Mochi.
“Kita mulai sidang perdana malam ini!” seru mamanya yang di balas anggukan dari Mocha, dirinyya sudah mengantuk, karena kelelahan menajalani hukuman tadi di sekolah.
__ADS_1
“Kamu mengantuk?” tanya sang papa membuat Mocha mengalihkan pandangannya dan menatap papanya, dia mengangguk dan menguap.
“Tidak lama kok, paling hanya sepuluh menit saja,” ucap sang mama.
“Iya,” jawab Mocha setengah mengantuk.
“Langsung ke intinya saja! Mama tidak mau melihat kamu di hukum seperti tadi, itu akan membuatmu kelelahan seperti sekarang. Lebih baik kalau bolos jangan sampai ketahuan!” jelas mama Mocha membuat dirinya mengerjap, apa dia tidak salah dengar? Tumben sekali mamanya mendukungnya membolos? Apakah ada niat terselubung di dalamnya? Entahlah Mocha tidak ingin berprasangka buruk dulu, mungkin mamanya sudah menyadari keinginannya.
“Ma? Ini tidak adil! Kenapa kakak boleh aku tidak boleh?” protes adik Mocha menatap melas ke arah mamanya.
__ADS_1
“Kalau kakak kamu bolos nilainya tidak akan turun, kalau kamu bolos semua nilai kamu hancur dan tidak naik kelas! Lagi pula Mama hanya bilang jangan sampai ketahuan bukan bilang membolos itu di wajibkan, tapi sekali-kali tidak apa. Lagian akan jenuh terus-menerus belajar. Jadi, kamu juga boleh tapi dengan syarat nilainya tidak ada yang turun dan semua tugas terselesaikan!” jelas sang mama membuat adik Mocha tersenyum dan Mocha hanya menguap, dia sangat mengantuk.
“Oh ya, Mama sampai lupa. Cowok kamu ganteng juga!” seru menggoda mama Mocha, sedangkan Mocha hanya terdiam memikirkan perkataan sang mama.
“Cowok? Siapa, Ma? Mocha tidak punya pacar!” bingung Mocha, karena dia memang tidak memiliki pacar atau teman dekat cowok kecuali teman kelompok atau kelas.
“Itu, yang bantuin kamu! Dia juga yang traktir kamu makan, ini nih fotonya!” mama Mocha menunjukkan foto dirinya dan Noah saat di parkiran, parahnya di foto dirinya sedang di tuntun Noah saat kaki masih terkilir sampai saat mereka makan di restoran, semua foto-foto itu di ambil setiap momen dirinya dan Noah. Siapa yang memberi mamanya foto-foto tersebut? Siapa penguntit dirinya? mocha melirik ke arah nama pengirimnya dan mengepalkan tangannya.
“Jadi benar? Ucup di tugaskan Mama untuk ngawasi aku?” tanya Mocha.
__ADS_1
“Iya, lagi pula Ucup satu sekolah sama kamu! Eh tunggu namanya bukan Ucup tapi Steven!” ralat sang mama membuat Mocha mencebik kesal, mau Steven mau Seventeen itu tidak berarti baginya. Dia lebih suka dengan panggilan Ucup. Ucup merupakan sepupunya dari sang mama dan mereka seumuran, mereka tidak pernah akur, kecuali dalam urusan perut mereka akan kompak.