Agen Mochi

Agen Mochi
45


__ADS_3

Sudah satu bulan lamanya hubungan Noah dan Mocha berjalan. Penguman kelulusan juga sudah selesai dengan Mocha meraih peringkat pertama dan Noah kedua. Mereka juga sudah mendaftarkan diri di unversitas impian mereka, begitu pund dengan Mocha, ketiga temannya begitu marah ketika Mocha sudah di terima berkuliah di luar negeri. Dua hari lagi adalah perpisahan sekolah, itu artinya Noah akan kembali ke negaranya.


Mocha sudah tahu tentang hal itu, karena raja yang memberitahunya. Sedih? Tentunya, hubungan mereka akan berakhir setelah mereka berpisah. Noah tidak akan kembali lagi dan menetap di sana untuk memimpin pemerintahannya.


“Gue yakin hal ini pasti akan datang juga, di setiap pertemuan pasti ada perpisahan,” gumam Mocha yang menatap pemandangan dari balkon kamarnya.


“Gue gak tahu rumor itu benar atau tidak! Noah akan di jodohkan dengan seorang putri. Gue tidak terlalu terkejut dengan kabar tersebut, kodratnya memang seorang pangeran akan menikah dengan seorang putri,” Mocha hanya menghembuskan nafasnya.


“Mocha! Ada Noah di bawah!” panggil mamanya dengan mengetuk pintu kamarnya.


“Iya, Ma. Bentar lagi Mocha turun!” balas Mocha dan mamanya kembali turun.


“Hai, sayang,” sapa Noah ketika Mocha sampai di ruang tamu.


“Hai,” balas Mocha dengan senyum kecilnya. Noah langsung menarik lengannya, dia mengatakan ingin membawanya ke suatu tempat dan sudah meminta izin kepada kedua orang tua Mocha. Mocha hanya pasrah dan tak banyak berbicara.


“Kita sudah sampai,” ucap Noah yang keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Mocha, mereka sampai di sebuah taman kota yang begitu ramai oleh pengunjung.


“Kamu sudah tahu tentangku yang harus kembali?” tanya Noah tiba-tiba setelah mereka duduk di kursi taman dengan tatapan lurus. Mereka sama-sama tidak ingin menatap satu sama lain, karena itu akan menyakiti hati mereka.


“Iya,” balas Mocha dengan suara yang menahan tangisannya. dirinya akan menjadi cengeng di saat Noah berada di sebelahnya.


“Apakah, karena hal itu kamu menjadi pendiam dan mencoba menghindariku?” tanya Noah yang tidak di jawab oleh Mocha. Noah menghembuskan nafas panjang, dirinya menarik Mocha ke dalam pelukannya.

__ADS_1


“Aku akan berangkat tepat di acara perpisahan sekolah di mulai. Sebenarnya, aku tidak ingin kembali ke sana. Aku ingin tetap di sini, bersamamu. Tetapi, aku


harus menyelesaikan urusanku di sana. Aku harap kamu akan menungguku, aku berjanji akan menyelesaikan semuanya. Kamu jangan lelah menungguku, jaga hatimu untukku,” jelas Noah membuat Mocha mengeratkan pelukannya, Mocha mulai menangis. Air mata yang sudah susah payah di tahan olehnya tidak bisa mengerti, air matanya keluar dengan begitu banyak.


“Kamu tidak perlu memikirkanku! Kamu selesaikan urusanmu dan aku ingin memutuskan hubungan kita sampai di sini saja,” pernyataan dari Mocha membuat Noah sangat terkejut. Dia menangkup kedua pipi Mocha dengan tangan besar dan menatap mata Mocha yang coba mengalihkan tatapannya darinya.


“Sayang, lihat aku!” Noah menarik lembut dagu Mocha agar kekasihnya itu menatap matanya yang terlihat terluka dengan pernyataan tersebut. Begitu pun dengan Mocha yang tak kalah terlukanya dengan apa yang di rasakan oleh Noah.


“Apa yang kamu katakan? Kamu bercanda kan?” tanya Noah memastikan kalau pendengarannya tida terganggu.


“Aku serius. Kamu sudah di jodohkan dengan seorang putri dan itu adalah hal yang lumrah untukku. Aku tahu hal ini akan terjadi, jadi aku tidak akan begitu terluka saat itu tiba. Berbahagialah dengannya, aku juga akan mencari seseorang yang di takdirkan untukku. Belajarlah untuk mencintainya, aku yakin cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya,” jelas Mocha yang berusaha tegar mengatakan kalimat tersebut. Noah menatap tak peraya.


“Jika, itu yang membuatmu bahagia. Aku akan menurutinya,” ujar Noah membuat Mocha dengan sekuat tenaga menahan tangisannya.


“Iya, aku sangat bahagia,” bohong Mocha.


“Aku selalu mencintaimu.”


***


Hari ini adalah acara perpisahan sekolah, Mocha terlihat terdiam saja saat ketiga temannya sedang berbincang-bicang. Daniel dan Vernon tidak datang, karena mereka sedang mengantar Noah di bandara. Mocha mendapat pesan dari Vernon yang mengatakan penerbangannya tepat pukul delapan malam, sekarang sudah pukul setengah delapan malam. Itu artinya, setengah jam lagi peswat Noah akan lepas landas.


“Mocha, lo ingin menemui Noah untuk terakhir kalinya?” tanya Dewi yang duduk tepat di sebelahnya. Mocha yang mendengar kalimat itu hanya menggeleng lemah.

__ADS_1


“Tidak, gue gak mau semakin terluka dan bersalah saat melihatnya untuk terakhir kalinya,” jelas Mocha membuat ketiga terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain.


“Tapi, mata lo sangat jelas untuk lihat dia!” seru Jennie membuat Mocha seakan tertampar. Mocha terdiam dan menatap mereka bertiga yang sedang mengangguk untuk meyakinkannya. Tanpa, menunggu lama Mocha langsung bangkit dan menarik kerah baju Ucup yang sedang berbincang dengan teman-temannya.


“Lo mau bawa gue ke mana?” tanya Ucup saat Mocha menyuruhnya masuk ke dalam mobil Mocha dan Mocha menyerahkan kunci mobilnya kepada Ucup.


“Antar gue ke bandara! Cepat tinggal lima belas menit lagi!” Ucup yang mengerti maksud Mocha langsung mengendarai mobil Mocha dengan kecepatan penuh.


Sepuluh menit perjalan yang di tempuh mereka, akhirnya mereka sampai di bandara. Mocha keluar terlebih dahulu dan meninggalkan Ucup dengan mobilnya. Dia melihat papan keberangkat yang terletak tak jauh darinya. Dua menit lagi Noah akan memasuki pesawat dengan terus berlari menggunakan gaun berwarna merah, Mocha mencari keberadaan Noah. Dirinya mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang melihatnya.


“Gue rasa Mocha gak akan datang,” ujar Noah yang terus melihat orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya. Dirinya sangat mengharapkan kehadiran Mocha, dia hanya ingin memeluk Mocha untuk perpisahan mereka. Karena, di sana dia akan merindukan perempuan yang masih mengisi penuh hatinya.


“Lo tahu kan perasaan cewek? Lebih sensitif dari pada cowok,” timpal Daniel yang duduk di sebelah Noah.


“Gue yakin, dia akan datang!” seru Vernon membuat Noah mengangguk lemah.


“Gue harap begitu,” gumam Noah. Tetapi, sampai pengumuman pesawat yang di tumpanginya terdengar, Mocha tidak kunjung datang untuk melihatnya. Dengan langkah lemah Noah berjalan menuju tempat yang sudah di umumkan setelah berpamitan dengan kedua temannya. Dia kembali menengok ke arah belakang untuk memastikan Mocha datang.


“Gue terlalu berharap,” lirih Noah.


Terlihat seorang perempuan menggunakan gaun berwarna merah menatap Noah dari tempat yang cukup jauh, “gue harus hilangin ego gue!” serunya dan keluar dari tempat persembunyiannya. Dia kembali berlari dengan sekuat tenaga untuk sampai ke arah Noah yang sudah cukup jauh darinya. Daniel dan Vernon yang melihat itu tersenyum senang.


“Terimakasih dan berbahagialah!” tubuh Noah menegang ketika ada seseorang yang memeluknya dari belakang, suara yang sangat ingin di dengarnya kini terdengar begitu jelas.

__ADS_1


“Aku akan berbahagia, karena aku akan mendapatkanmu lagi. Tunggu aku!” seru Noah dengan membalikkan tubuhnya, dia memeluk erat Mocha. Mereka menguraikan pelukannya dan saling menatap, wajah Noah semakin dekat dengan Mocha dan mereka sama-sama memejamkan matanya. Menikmati ciuman yang penuh kerinduan itu.


“Aku mencintaimu.”


__ADS_2