
Mocha sedang menunggu seseorang yang tahu tentang lencana itu di dalam sebuah Kafe kekinian. Mocha menatap seisi Kafe, rata-rata yang datang membawa teman atau pacarnya, hanya dia yang duduk sendirian meratapi nasibnya yang memang tidak punya pacar untuk di gandeng atau di pamerkan seperti teman-temannya.
“Ini gue sudah nunggu setengah jam dan dia belum datang juga! Awas aja kalau sepuluh menit lagi dia gak nongol gue lempar ke kolam lele Papa!” kesal Mocha yang sudah lelah menunggu, dia paling tidak suka menunggu. Karena, menunggu itu sangat melelahkan.
Mocha mulai merasa bosan, dia sudah lelah membuka tutup menu home di ponselnya. Mocha menatap pintu masuk dan belum ada tanda-tanda orang itu akan datang. Mocha menyandarkan punggungnya di kursi. Dewi dan Niken sedang menjalankan misi mereka, begitu Jennie yang sudah membuat janji dengan orang pemilik tempat itu. Jadi, Mocha hanya bisa sendirian tanpa seseorang yang menemaninya, bahkan tak sedikit orang-orang yang melirik ke arahnya. Mungkin mereka sedang mengejeknya, tapi Mocha bersikap bodo amat.
“Lo nunggu lama ya?” tanya seseorang yang sudah di tunggu-tunggu sejak tadi. Mocha menatap orang di depannya dengan tatapan datar, tapi malah di balas cengiran menyebalkan darinya. Ingin sekali Mocha memukul wajah menyebalkannya menggunakan kursi yang di dudukinya.
“Gue nungguin lo sampai lumutan begini! Lo yang traktir!” seru Mocha membuat orang di hadapannya melotot, dia yang di paksa untuk menemuinya dan dia juga yang bayar, sungguh Mocha adalah orang paling baik yang pernah dia kenal.
“Lo sudah maksa-maksa gue dan sekarang gue juga yang bayar semuanya!” kesalnya.
“Lo gak kasihan sama gue yang sudah bersabar nungguin lo daritadi!” titah Mocha membuat orang itu mendengus kesal.
“Iya-iya gue yang traktir!” serunya membuat Mocha mengembangkan senyumannya.
“Terimakasih, Ucup,” ucap tulus Mocha kepada Ucup sepupunya itu, dia memaksa Ucup untuk menjelaskan tentang lencana itu. Karena, Ucup lebih tahu banyak ilmunya di bidang sejarah dan geografi. Mocha sengaja tidak memberitahunya tentang lencana itu, karena dia yakin Ucup akan menolaknya, karena lencana yang seperti itu tidak ada di internet mau pun buku-buku sejarah yang di baca oleh Mocha dan dia berharap Ucup tahu sedikit tentang lencana itu.
“Gak sekalian makan?” tanya Mocha berharap Ucup akan mentraktirnya lebih.
__ADS_1
“GAK!” seru Ucup dengan lantang membuat seisi Kafe menatap ke arah mereka.
“Santai dong! Gak usah ngegas gitu kali!” kesal Mocha yang malu, karena di lihat banyak orang.
“Hal penting apa yang mau lo tanyain?” tanya Ucup dengan tidak sabarnya.
“Astaghfirullah, Ucup lo kesambet apaan di jalan tadi? Bawaannya emosi terus!” Mocha mengambil lencana yang dia simpan di saku jaketnya, dia malas membawa tas dan dia akan memakai jaket dengan kantung lebar agar dompet dan ponselnya cukup.
“Lo tahu ini gak?” Mocha menyerahka lencana itu kepada Ucup.
“Ini lencana lah,” jawaban Ucup yang membuat Mocha ingin mencakar wajah menyebalkannya.
“Gue juga tahu kalau itu lencana,” kesal Mocha dan tangannya siap untuk mencekik Ucup saat ini juga. Mocha sangat gemas dengan sepupunya yang kadang pintar-pintar bodohnya kebanyakan.
“Ini lencana darimana? Maksud gue. Huh, sabar Mocha. Maksudnya ini lencana apa dan darimana? Gue sudah pusing cari di buku maupun situs-situs, tapi gak ada yang bentukkannya seperti ini,” jelas Mocha sambil mendekatkan lencana itu di depan mata Ucup. Ucup mulai kebingungan, dia mengerjap beberapa kali dan menggaruk kepalanya.
“Sini gue perhatiin dulu,” Ucup langsung merebut lencana di tangan Mocha. Ucup memperhatikan setiap ukiran yang ada di lencana tersebut dengan serius membuat Mocha juga memperhatikan lencana itu juga. Cukup lama Ucup menatapnya dan mata Mocha mulai panas, karena di terus-terusan memelototi lencana itu.
“Gimana lo tahu enggak?” tanya Mocha menatap Ucup dengan penuh harap, dia sangat berharap Ucup mengetahui tentang lencana itu.
__ADS_1
“Gue gak tahu,” jawab santai Ucup membuat Mocha tertawa kencang dan semua orang menatapnya. Ucup langsung membekap mulut Mocha dan menjitak jidatnya dengan keras. Sungguh sepupu laknat, dengus Mocha.
“Lo kalau gila jangan pas ada gue! Pas lo sendirian aja! Malu gue punya sepupu kayak lo gini!” geram Ucup yang di abaikan Mocha, Mocha menghabiskan minuman yang di pesannya dan juga dia menghabiskan minuman Ucup yang belum tersentuh sang pemilik. Dia sangat kesal sekarang dan ingin makan martabak panas-panas.
“Lo sudah gila beneran,” Ucup menggelengkan kepalanya melihat perilaku Mocha.
“Lo gak tahu sama sekali? Atau lo tahu apa arti dari tulisan ini?” tunjuk Mocha di salah satu tulisan yang ada di lencana itu. Ucup memperhatikannya dengan seksama dan dia mengernyitkan dahinya. Ucup membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu di ponselnya. Mocha menunggu apa yang sedang di lakukan oleh Ucup hingga beberapa saat Ucup menjentikkan jarinya.
“Itu adalah bahasa hanja. Hanja atau juga bisa di sebut hanmun ini merupakan sebuah bahasa tiongkok-korea, bahasa yang hanya di pelajari oleh keluarga kerajaan dan bangsawan korea. Karena bahasanya sedikit rumit dari bahasa korea yang kita dengar dengan nama hangeul yang sekarang di gunakan. Tapi, raja keempat dari dinasti Joseon mulai menciptakan bahasa hangeul agar para masyarakatnya bisa mempelajari dengan dan berharap semua masyarakatnya akan makmur dengan bisa membaca. Jadi, itu bisa di bilang lencana salah satu peninggalan kerajaan korea dan di situ tertulis bacaan SOPA,” jelas Ucup membuat Mocha bingung, dia sangat tidak paham dengan penjelasannya.
“Lo ngomong apaan? Gue gak paham,” jujur Mocha membuat Ucup berdecak kesal.
“Otak lo pergi ke mana sekarang? Kok lo jadi bego gini!” seru sarkas Ucup membuat Mocha meringis, padahal dia gak mudeng dengan penjelasan Ucup itu. Terlalu ribet untuk di mengerti dan di pahami olehnya yang basic nya hitung-hitungan dan ngehalu.
“Gini intinya ya bego,” Mocha langsung menampar mulut kurang ajar Ucup.
“Gue gak bego!” marah Mocha yang di balas Ucup dengan memutar bola matanya.
“Oke, gini ya PINTER! Intinya itu lencana dari korea dan tulisannya di situ adalah SOPA menggunakan bahasa hanja,” jelas singkat Ucup membuat Mocha menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Paham?” tanya Ucup yang di balas gelengan dan cengiran lebar dari Mocha. Ucup mengusap dadanya sambil membulatkan kedua bola matanya dan menggelengkan kepalanya menatap Mocha.
“Allahuakbar! Ampunilah dosa sepupu hamba yang sudah berada di stadium akhir ini Ya Allah!” pekik keras Ucup membuat Mocha menutupi wajahnya dengan jaket yang di gunakannya.