Agen Mochi

Agen Mochi
44


__ADS_3

“Aku tidak ingin ke sana!” kesal Mocha ketika Noah menjemputnya pagi-pagi dan mengajak dirinya ke rumah laki-laki itu. Katanya dirinya di suruh menjemput Mocha untuk makan siang dengan raja dan ratu, ini adalah undangan khusus untuknya dari raja. Di sana juga terdapat beberapa sepupu dari Noah dan kakak kandung Noah sang putri.


“Ini undangan khusus untukmu, kamu tidak perlu khawatir ada aku yang akan bersamamu!” seru Noah yang berusaha membujuk Mocha yang masih terbaring di tempat tidurnya. Noah terlihat kesal, ketika Mocha menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


“NOAH!” teriak Mocha ketika Noah menaiki tempat tidurnya, tetapi bukan itu yang membuatnya berteriak. Posisi Noah yang sedang menindihnya itu membuat Mocha ketakutan.


“Ikut aku atau aku cium atau bisa lebih dari sekedar ciuman,” bisik Noah membuat Mocha merinding seketika. Dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Noah yang jauh lebih tinggi darinya dan Noah berbaring di sebelah Mocha.


“Aku gak bisa dandan sama gaunku warna hitam semua,” gumam Mocha yang membuat Noah menghembuskan nafas panjang.


“Tenang saja, aku dan kakakku sudah menyiapkan segalanya. Kamu tidak perlu khawatir, sekarang kamu mandi atau aku yang mandiin!” serunya membuat Mocha menatapnya horor, dengan berlari Mocha langsung mengunci pintu kamar mandinya.


“Aku tunggu di bawah, sayang!” teriak Noah ssebelum keluar dari kamar Mocha.


Setelah sarapan di rumah Mocha, Noah segera membawa Mocha menuju salah satu salon langganan kakaknya. Di sana Mocha tinggal duduk diam dan tiga pekerja salon tersebut mulai merias wajahnya. Noah juga sudah menyiapkan gaun untuk Mocha berwarna peach seperti jas yang akan di kenakan olehnya. Dirinya tidak sabar untuk menunjukkan Mocha di hadapan keluarga besarnya, dirinya tidak akan takut mengenalkan Mocha sebagai


kekasihnya.


“Pengeran, kekasih anda sudah selesai,” ujar pemilik salon kepada Noah yang sudah berganti baju dengan jas yang senada dengan Mocha. Tak selang beberapa lama, Mocha keluar dari belakang orang-orang yang meriasnya tadi. Padangan Noah tidak teralihkan dari Mocha yang terlihat anggun dengan gaun di bawah lutut dan lengannya sampai siku.


“Aku aneh dengan tampilan seperti ini?” tanya Mocha ketika melihat reaksi Noah.


“Tidak aneh sama sekali, melainkan begitu cantik dan anggun,” jelas Noah dengan menggandengnya keluar dari salon tersebut.

__ADS_1


“Gombalannya receh!” ketus Mocha, padahal wajahnya mulai memerah saat Noah memuji dirinya dengan sangat jujur.


“Kekasihku ini begitu lucu! Rasanya aku ingin menciummu, tapi aku harus menahannya. Karena, kamu sudah begitu cantik,” ujar Noah membuat Mocha mencebikkan bibirnya.


“Jangan menyebutku kekasihmu!” kesal Mocha membuat Noah tertawa kencang.


“Kamu memang kekasihku! Kita memang belum putus, hanya kamu saja yang mengatakan hal itu. Sedangkan aku tidak. Berarti kita masih sepasang kekasih, mengerti?” Mocha terdiam mendengarnya, memang itu benar adanya.


“Terserah,” putus Mocha membuat Noah tersenyum senang mendengarnya.


Mereka  sudah sampai di rumah mewah Noah, terlihat begitu banyak mobil-mobil mewah yang terparkir di sebuah tanah luas di samping rumah Noah. Mocha yang terus menatap kagum deretan mobil itu tidak menyadari Noah sudah membukakan pintu untukknya.


“Sayang,” suara lembut Noah membuatnya tersadar, dengan segera Mocha menyambut uluran tangan Noah dan mereka memsuki pintu utama yang di lapisi dengan emas itu.


“Selamat datang,” ujarnya dengan memeluk Mocha begitu lama membuat Noah langsung melepaskan pelukan tersebut dan merangkul Mocha.


“Perkenalkan ini kakakku!” Noah mengenalkannya sebagai kakaknya.


“Kakak? Berarti bos?” bingung Mocha.


“Iya, aku adalah Agatha Lance Rovano pendiri agen mochi dan juga seorang putri dari kerajaan SOPA. Lencana yang kamu berikan kepadaku,” jelasnya membuat Mocha menatap tak percaya ke arahnya.


“Sudahlah, makan siangnya sudah di mulai. Mari kita ke sana!” Agatha menarik lengan Mocha membuat Noah menggeram marah dengan tingkah kakaknya.

__ADS_1


“Maafkan kami untuk waktu itu, kami sadar dengan apa yang kami lakukan. Noah dan Agatha sudah menyadarkan kami, sehingga kami mengundangmu untuk berterimakasih dan juga mengenalkanmu di keluarga besar kami,” jelas raja.


“Semuanya! Perkenalkan perempuan yang sangat cantik ini adalah kekasih dari pangeran Noah, kami sudah sadar bahwa kebahagian bukan prihal kasta. Sehingga, kami menyetujui hubungan mereka, sekarang mari kita mulai makan siang ini!” perintah raja dan mereka semua mulai makan siang dengan keadaan tenang. Mungkin, ini adalah salah satu bentuk adat dari kebiasaan makan keluarga kerajaan.


Saat Mocha melihat wajah-wajah sepupu Noah yang ternyata mereka semua adalah seorang pangeran matanya tak sengaja melihat pangeran Kevin yang terus menatapnya dan tersenyum kepadanya. Sehingga, Mocha juga membalasnya dengan senyuman juga. Dia sebenarnya cukup risih di tatap seperti itu oleh orang asing.


“Kamu selalu bersamaku!” bisik Noah ketika semua keluar kerajaan sedang bersantai di ruang tengah yang luasnya seperti lapangan sepak bola itu. Noah tahu, kalau Kevin selalu menatap kekasihnya. Sehingga, dia tidak mau melepaskan tangannya dari pundak Mocha.


“Kenapa lo jadi posesif seperti itu?” tanya Agatha saat melihat tingkah adiknya.


“Salahi Kevin yang terus menatap kekasihku!” kesal Noah dengan suara yang cukup keras sehingga semua orang tahu dan menatap ke arahnya. Mocha hanya melirik tajam Noah yang semakin merapat tubuh mereka.


“Wah…apa ada yang salah denganku? Aku hanya melihat betapa cantiknya Mocha,” ujar Kevin membuat wajah Noah memerah. Dia menahan emosinya, dia tidak ingin menghajar Kevin di depan keluarganya. Mocha yang sadar dengan emosi Noah mecoba menenangkannya.


“Sabarlah, lagi pula aku tidak akan berpaling darimu. Hanya kamu yang aku cintai,” bisik Mocha membuat Noah tersenyum senang.


“Aku bisa merebutnya darimu,” ucap pelan Kevin yang kini sudah berada di hadapan Noah dan Mocha. Tatapan Kevin penuh permusuhan ketika melihat Noah, sedangkan saat dia menatap Mocha matanya berubah menjadi begitu lembut dan hangat membuat siapa saja akan terpesona. Namun, lain halnya dengan Mocha yang sudah mengetahui sifat asli Kevin.


“Aku tidak akan berpaling dari Noah, karena aku tidak begitu menyukai seorang player,” sahut Mocha membuat Kevin melebarkan matanya. Sedangkan Noah tersenyum senang, ketika kedok Kevin langsung di ketahui kekasihnya. Mocha memang tahu dengan sifat orang-orang yang baru di temuinya, karena di sedikit memiliki keahlian menilai orang.


“Aku bisa berhenti menjadi ********, asalkan kamu menjadi kekasihku,” jelas Kevin.


“Sayang, aku begitu kepanasan di sini, ayo kita keluar,” ajak Mocha dengan menarik lengan Noah keluar dari sana. Noah hanya terdiam membeku saat Mocha menyebutnya dengan panggilan itu, dirinya seperti melayang di awan-awan yang begitu lembut.

__ADS_1


__ADS_2