Agen Mochi

Agen Mochi
05


__ADS_3

Penampilan Mocha kini berubah dari hari-hari sebelumnya, dia lebih feminim dan juga memoleskan make up sedikit di wajahnya. Sebenarnya ini bukan dirinya, tapi demi kelancaran misi dia harus bisa berubah menjadi apa saja, termasuk menjadi ranger hitam.


“Gue kayak cabe-cabean ya?” tanya Mocha yang menatap cerminyang di pegangnya, dia merasa risih dengan penampilannya sekarang. Apalagi banyak yang menggoda dan meminta nomornya sejak dia sampai di sekolah.


“Lo sudah bilang kayak gitu lebih dari seratus kali dan kuping gue sudah panas,” jawab Dewi membuat Mocha mendengus dan menatap Jennie untuk meminta pendapat tentang penampilannya sekarang.


“Lo tuh cantik! Secara tangan gue kan profesional,” jawab Jennie dengan menyombongkan hasil karyanya.


“Menurut lo!” tunjuk Mocha ke arah Niken yang menatap Mocha tanpa berkedip sejak tadi.


“Mocha cantik, Niken mau punya wajah kayak Mocha,” ujar Niken membuat hati kecil Mocha meronta merasa bangga dengan pujian tersebut.


“Terimakasih,” Mocha menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dan tersenyum malu.


“Najis gue,” titah Dewi membuat Mocha menatapnya jengkel dan ingin menendangnya ke kolam lele papanya yang terdapat banyak lele berukuran raksasa di sana.


“Eh, itu Daniel lagi sendirian! Samperin gih!” Niken menunjuk ke arah di mana Daniel berjalan sedirinya sambil memainkan ponselnya. Dengan cekatan Mocha menghampirinya, dia berdiri di hadapan Daniel membuat langkah Daniel terhenti. Daniel mendongak dan menatap Mocha yang sebatas dagunya itu.


“Hai,” sapa Mocha dengan senyum manisnya, sebenarnya dia jijik dengan apa yang di lakukan saat ini. Apalagi  dia harus menurunkan harga dirinya demi kelancaran misi.


“Siapa?” tanya Daniel membuat Mocha membuka mulutnya tak percaya, dia di lupakan? Sungguh hatinya begitu sakit, rasanya seperti tertusuk ribuan juta jarum saja.


“Lo lupa sama gue?” tanya Mocha dengan menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Iya, lo siapa?” tanya Daniel yang benar-benar melupakan Mocha.


“Gue Mocha,” Mocha mengenalkan dirinya kepada Daniel.


“Mocha siapa?” tanya Daniel dengan menatap wajah Mocha dengan wajah bingungnya.


“Gue Mocha yang gak sengaja lecetin mobil teman lo si Noah!” seru Mocha dengan sabar menghadapi lelaki di depannya ini.


“Bentar-bentar,” Daniel mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, menunjukkan dia sedang berpikir.


“Oh, iya. Gue lupa! Soalnya penampilan lo beda banget sama waktu itu,” balas Daniel dengan senyuman lebar membuat kedua matanya membentuk eyesmile. Mocha terpesona dengan keimutan Daniel, inging rasanya di menarik bulu mata lentik Daniel hingga habis.


“Hm, santai aja,” ucap Mocha dengan gugup, dia pun tidak tahu kenapa dia bisa menjadi gugup seperti ini, kecuali sedang berhadapan dengan mama nya di situasi sidang.


“Cuma mau sapa lo aja, kan kebetulan lo lewat di hadapan gue,” jawab asal Mocha yang lupa dengan susunan jawaban yang sudah di buatnya tadi malam. Sial, hanya dengan satu senyuman saja dia sudah lupa semuanya.


“Oh,” Daniel menganggukkan kepalanya menanggapi jawaban Mocha.


“Lo mau kemana? Tumben sendirian?” tanya Mocha yang mulai kembali mengingat susunan pertanyaan dan jawaban yang sudah dia analisis.


“Mau ke kantin, gue lupa sarapan. Yang lain sedang nunggu di kelas, sekalian gue juga belikan mereka sarapan,” jawab Daniel.


“Kebetulan, gue juga mau beli air mineral. Gimana kalau kita ke kantin bareng?” tawar Mocha.

__ADS_1


“Boleh, yuk!” Daniel menarik lengan Mocha menuju ke arah kantin. Mereka jalan bersama menuju tempat penjual yang sudah buka. Mocha menahan mati-matian tangannya yang di genggam Daniel, dia sudah berkeringat dingin dan berharap Daniel tidak menyadarinya.


“Eh, tangannya lupa gue lepas,” Daniel melepaskan genggamannya dan memamerkan giginya.


“Ah, tidak apa kok,” balas Mocha dan mengambil air mineral untuk di belinya.


“Biar gue sekalian yang bayar air lo!” Daniel membayar makanan yang di belinya dan juga air yang di beli Mocha.


“Eh—gak usah,” Mocha meolak Daniel mentraktirnya, namun Daniel menariknya keluar kantin.


“Cuma air kok, gak bikin gue miskin,” ucap Daniel sambil tertawa kecil dan di tanggapi Mocha dengan senyuman


miringnya.


“Kenapa lo sampai lupa sarapan?” tanya Mocha saat mereka berjalan di koridor sekolah.


“Gue nginep sini dan gak pulang kemarin,” jawab Daniel membuat Mocha mengernyit dan menatap penampilan Daniel.


“Kenapa nginep sini?” tanya Mocha yang mulai penasaran.


“Ah? Bu—bukan, maksud gue. Gue nginep di rumah Vernon tadi malam,” jawab Daniel gugup membuat Mocha curiga, tapi dia mencoba untuk biasa saja.


“Oh gitu,” Mocha sudah tersenyum dalam hati, dia sudah mendapatkan petunjuk lagi.

__ADS_1


“Ya sudah, gue duluan ya! Mereka pasti nunggu gue, bye Cha,” Daniel melangkah cepat ke arah parkiran bukan kelasnya. Mocha semakin yakin dengan pemikirannya.


__ADS_2