Agen Mochi

Agen Mochi
31


__ADS_3

“Sssttt!!!” seru orang yang membekap dan menari Mocha, dia sangat tahu itu adalah suara milik Dewi. Mocha bisa bernafas lega, karena dia berpikir kalau dia sudah ketahuan tadi.


“Kayaknya tadi ada orang deh? Apa cuma perasaan gue aja?” suara Noah mulai terdengar dan Mocha melihat dari tempat persembunyiannya Noah mencari sesuatu. Mungkin Noah menyadari kalau di dalam ada orang lain juga. Mocha dan Dewi masih terdiam di tempat dan sama-sama menahan nafas.


“Perasaan gue aja mungkin, ah—sudahlah,” ujar Noah sambil melangkahkan kakinya menuju pintu yang Mocha buka tadi. Mereka berdua masih terdiam hingga beberapa saat untuk memastikan Noah benar-benar sudah pergi.


“Hah?!” Mocha dan Dewi sama-sama menghembuskan nafas lega. Mereka menuju ke arah sofa yang ada di dalam ruangan ini.


“Hampir aja,” ucap Dewi sambil meneguk air mineral yang di ambilnya di lemari es. Mocha memilih susu untuk di minum olehnya. Mereka lupa kalau barang yang mereka ambil tidak memintanya dulu. Mereka berdua baru menyadari setelah minumannya habis tak tersisa.


“Eh? Ini kita kenapa malah seenaknya main ambil aja?” pekik Mocha sambil menatap kotak susu yang sudah kosong tak tersisa.


“Terus gimana ini?” tanya Dewi.


“Muntahin lagi!” seru Mocha membuat Dewi memukul kepalanya dengan botol kosong.


“Ngotak dong!” seru Dewi membuat Mocha cemberut, dia kan sedang panik dan tidak bisa berpikir normal. Namanya juga orang panik, pikirannya pasti ke mana-mana.


“Ya sudahlah, ini sudah terlanjut masuk ke dalam yang penting tadi kita baca bismillah dulu pas minum,” jelas Mocha membuat Dewi menyengir.


“Apa?” bingung Mocha.


“Gue lupa baca bismillah tadi,” jawab Dewi membuat Mocha mendatarkan wajahnya.


“Ini nih, pas di suruh ngaji sama ibunya malah pergi ke warnet bukan ke masjid!” Mocha menggelengkan kepalanya dan Dewi kembali  memukulnya dengan botol di tangannya.

__ADS_1


“Kan lo yang ngajak!” kesal Dewi membuat Mocha tersadar dan tersenyum tanpa dosa.


“Bentar tadi lo gak ketahuan kan?” tanya Mocha setelah pikirannya mulai tenang.


“Enggak kok, Noah cuma ambil sepatunya tadi dan gue lihat lo buka pintu ya sudah gue langsung tarik lo ke tempat persembunyian gue,” jelas Dewi yang membuat Mocha bernafas lega.


“Lo sudah nemuin apa aja?” tanya Mocha membuat Dewi beranjak dari duduknya. Mocha melihat Dewi melangkah ke salah satu sudut di ruangan ini. Dewi membawa figura di dalam genggamannya, dia menyerahkan firuga kecil itu kepada Mocha dan Mocha langsung mengambilnya.


“Ini sama kayak lencana itu kan?” tanya Dewi menunjukkan foto Noah dengan berpakaian jas formal di atas kantung jas nya terdapat lencana yang sama.


“Iya, berarti lencana itu milik Noah beneran?” tanya Mocha yang di balas anggukan oleh Dewi.


“Iya, tadi juga gue dengar dia baru ingat lencananya itu menghilang dan dia menelpon seseorang untuk mencari lencanya itu!” jelas Dewi.


“Bentar dulu! Parkiran ada cctv-nya kan?” tanya Mocha yang di balas anggukan dari Dewi. Mocha membulatkan matanya dan Dewi baru menyadarinyaa juga.


“Gue di dalam lo yang awasi sekitar sini! Kalau ada apa-apa lo kirim sinyal bahaya ke gue!” perintah Mocha sebelum mereka sampai di ruangan cctv. Dewi berjalan lebih dulu untuk memeriksa ruangan cctv. Tapi, sebelum Dewi sempat menyentuh ganggang pintu, Mocha menariknya dan bersembunyi di lorong kecil sebelah ruangan cctv.


“Sstt!” Mocha menginstruksi Dewi yang hendak berbicara, terdengar suara percakapan seseorang membuat Dewi mengerti. Ternyata mereka terlambat, orang-orang yang di suruh Noah sudah mengambil semua rekaman cctv di sekolah.


“Gimana ini?” panik Dewi membuat Mocha bingung juga, mereka bisa ketahuan. Mocha mendengar Niken memberi sinyal, dia langsung memencet jam tangannya.


“Niken ada apa?”tanya Mocha dengan suara pelannya.


“Niken sudah tahu kenapa Vernon bersikap seperti itu!”seru Niken membuat Mocha dan Dewi sama-sama terdiam menunggu laporan dari Niken.

__ADS_1


“Jadi, akh!”pekik Niken membuat Mocha dan Dewi panik seketika. Mereka berlari menuju ke arah Niken di dalam gedung olah raga. Mereka mencari keberadaan Niken, tapi tidak menemukannya di dalam. Tapi, Noah dan Vernon ada di dalam sedang bermain basket.


“Ini si Niken kemana?” bingung Mocha saat dia sudah lelah berkeliling di setiap sudut gedung. Dewi pun terlihat gelisah, dia sama paniknya seperti Mocha.


“Eh? Bentar-bentar!” Mocha menghentikan langkahnya dan Dewi hanya menatapnya bingung.


“Niken aktif lagi!” seru Mocha membuat Dewi mengerti, dia mendengarkan earphone di telinganya masing-masing. Terdengar suara krasak-krusuk dari Niken.


“Maafin Niken ya, tadi Niken kebelet sudah gak tahan sampai teriak,”ujar Niken membuat Mocha dan dewi saling bersitatap, mereka berdua menggelengkan kepalanya.


“Pengin gue jedotin tuh anak satu!” kesal Dewi membuat Mocha tersenyum kecil.


“Sekarang lo di mana?”tanya Mocha sambil melangkah bersama Dewi.


“Ini baru Niken baru keluar dari kamar mandi, kenapa?” tanya balik Niken.


“Lo kita tunggu di dalam mobil gue! Sekalian kita cus!”perintah Mocha sebelum memutuskan komunikasinya. Mocha dan Niken memilih menyusul Jennie yang membolos dan Jennie sekarang sudah rebahan di kasur terempuknya. Mereka akan menyusul Jennie ke sana untuk mendiskusikan semuanya.


“Niken lama ya?” tanya Niken yang baru memasuki mobil Mocha dengan senyuman polos yang selalu menghiasi wajahnya yang lugu. Mocha menatap Dewi yang menahan emosinya, Niken bukan hanya lama. Tapi, mereka berdua menunggu Niken hingga setengah jam lamanya dan itu sudah cukup membuat bokong mereka terasa panas duduk di mobil.


“Gak lama kok,” jawab Mocha sebelum menghidupkan mesin mobilnya, mereka mulai keluar dari halaman sekolah. Oh, ya kenapa mereka begitu mudah keluar masuk sekolah? Itu sangat mudah untuk menjawabnya, karena satpam yang menjaga di dekat gerbang punya hobi tidur. Sehingga, sangat mudah bagi siswa-siswi yang membolos dan memilih lewat gerbang depan daripada susah-susah sembunyi-sembunyi lewat belakang, karena lewat depan dan di lihat itu lebih mengasikkan dana menantang daripada sembunyi-sembunyi.


“Kita mau kemana?” tanya Niken yang memang Mocha belum memberitahunya.


“Kita ke rumah Jennie, dia sudah masakin kita eh—ralat para chef di rumahnya sudah masakin kita makanan yang enak-enak,” jawab Mocha membuat mata Niken berbinar.

__ADS_1


“Oh ya, gimana kalau lo ceritain kenapa vernon begitu!” perintah Mocha kepada Niken saat mereka terjebak macet, daripada sunyi mendingan mendengar laporan dari Niken.


“Jadi, tadi Niken sudah tahu semuanya saat Noah sama Vernon berbicara. Mereka…”


__ADS_2