
Mocha sedang duduk sendirian dengan meja yang penuh dengan berbagai macam menu makanan dan minuman, dirinya di beri uang yang lumayan oleh mamanya, karena mamanya tidak dapat memasakkannya lagi, serta bahan-bahan untuk memasak sudah habis. Jadi, dirinya memilih makan di luar sendiri. Mama dan papanya sedang mengunjungi rumah Pakde Mocha, tentu saja sang adik ikut, karena di sana ada anak Pakde-nya yang tiga tahun di bawahnya sehingga mereka bisa menghabiskan waktu dengan bermain.
“Ini baru namanya hidup,” ucap bahagia Mocha sambil menikmati setiap rasa makanan yang di kunyahnya. Sudah lama dia tidak boros seperti ini, dirinya sangat senang hari ini dapat makan enak, meskipun masih lebih enak masakan mamanya.
“Sendirian?” tanya seseorang membuat Mocha tersedak, karena terkejut. Dia langsung menerima gelas yang di sodorkan orang tersebut. Tenggorokannya sangat sakit, dia tersedak makanan pedas dan matanya mulai merintihkan air mata.
“Duh, sorry. Gue gak bermaksud buat lo terkejut, masih sakit?” panik orang itu sambil mengusap punggung Mocha, Mocha masih terbatuk dan wajahnya mulai memerah.
“Apa perlu ke dokter?” tanya orang tersebut dengan nada paniknya, dia merasa bersalah sudah membuat Mocha kesakitan, karena tersedak. Niatnya hanya ingin menyapa Mocha, tapi malah membuat Mocha terkejut dan tersedak.
“Sudah reda kok!” seru Mocha setelah kembali meminum minumannya sampai tandas, tenggorokannya sudah mendingan dari pada tadi. Tapi, matanya masih terus mengeluarkan air mata, Mocha hendak mengusap air matanya dengan tangan telanjang. Namun, segera di tahan oleh orang itu dan dia menyodorkan sapu tangan kepada Mocha. Mocha segera mengambil sapu tangan itu dan mengusap air matanya, tidak lupa dia juga membersihkan ingusnya yang juga ikut ke luar saat dirinya menangis.
__ADS_1
“Lo beneran gak apa-apa?” tanyanya sekali lagi membuat Mocha melihat ke arahnya dan melihat wajah khawatir Noah, dia tidak begitu terkejut dengan sapaan Noah. Tapi, dia lebih terkejut dengan suara Noah, kenapa Noah bisa di sini? Mocha tahu ini tempat umum, tapi kenapa dirinya yang bertemu dengan Noah. Dia masih takut Noah mencurigainya dan bertanya tentang dirinya di parkiran tadi.
“Sudah mendingan,” jawab Mocha sebelum kembali melanjutkan makannya, tersedak tadi membuat perutnya kembali lapar.
“Syukurlah, gue gak tahu lo bakal tersedak seperti tadi,” ujar Noah membuat Mocha menepuk pundaknya.
“Santai aja,” sahut Mocha kembali melahap makanannya.
“Iya, terimaksih,” balas Noah sebelum pelayan tersebut kembali bekerja.
“Gue duluan ya, bye,” pamit Noah yang di balas anggukan dari Mocha, karena dirinya tidak bisa berucap dengan mulut penuh makanan. Noah bercerita kalau dia sedang memesan makan untuk di bawa pulang, kakaknya meminta Noah yang masih di luar. Padahal Mocha tidak menanyakannya, tapi Noah menceritakannya sendiri.
__ADS_1
Mocha mampir ke minimarket untuk membeli beberapa camilan, stok di kamarnya sudah habis olehnya. Dia membutuhkan banyak camilan untuk berpikir dan camilan yang habis itu membuktikan bahwa dirinya sedang banyak pikiran belakangan ini. Jangan di tanya lagi, tentunya tentang misi yang masih belum menemukan titik terang.
“Ini cukup sepertinya, uang gue juga pasnya segini doang,” Mocha melirik ke keranjang yang berisi berbagai jenis makanan yang dia sukai. Tidak banyak, karena uangnya tidak banyak dan dia juga harus menghemat untuk membeli buku-buku ke sukaannya. Mocha memutar langkahnya menuju lemari es krim, dirinya sudah lama tidak membeli es krim dan ini waktu yang tepat untuknya. Tidak banyak es krim yang dia ambil hanya tiga, itu pun bungkus kecil dan beda rasa.
“Sudah cukup! Ingat dompetmu kelaparan!” seru Mocha kepada dirnya sendiri dan memutuskan untuk membayara belanjaannya, dia tidak ingin berlama-lama. Takut tergoda dengan jenis-jenis makanan yang terpampang nyata di setiap tempat minimarket ini. Saat dia mengantri di kasir ada yang menepuk pundaknya, Mocha menoleh dan terkejut lagi.
“Ketemu lagi kita!” seru Noah dengan tertawa kecil, Mocha ingin pergi secepatnya dari hadapan Noah. Dia masih takut Noah membahas tentang parkiran.
“Eh, Iya,” jawab Mocha seadanya, karena sekarang gilirannya untuk membayar, setelah selesai membayar Mocha berpamitan kepada Noah dan segera ke luar tanpa menunggu balasan dari Noah.
“Kenapa selalu ada Noah di mana-mana? Ini aneh dan perlu di curigai! Waspada Mocha! Lo belum tahu sifat aslinya,” Mocha menampar pelan pipinya dan mulai menjalankan motornya, dia sengaja membawa motor untuk menikmati angin malam.
__ADS_1