
Mocha tidak menjawab pertanyaan Vernon, dia bingung dan takut salah bicara. Dia terkejut saat ponsel yang berada di saku rok sekolahnya bergetar, Mocha mengambil ponselnya dan nama mamanya tertera di layar ponselnya. Mocha menggeser warna hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
*‘Mocha di sini!*’seru Mocha mengangkat panggilannya.
‘Nanti malam ada acara keluarga! Jangan keluyuran dan kamu nanti berangkat sama Steven!’ seru mama Mocha mengingatkannya akan acara mingguan kumpul-kumpul keluarga di rumah neneknya.
‘Ma, kenapa harus sama Ucup sih? Mocha bisa berangkat sendiri!’ balas Mocha.
“Emangnya gue juga mau berangkat bareng lo? Ogah!” suara Ucup mengagetkan Mocha, kenapa sepupunya itu tiba-tiba berada di hadapannya dan meminum minumannya.
“Eh! Lo kira gue mau barengan sama lo? Najis!” balas Mocha menarik kembali minumannya.
‘Mama gak mau tahu! Ini perintah nenek kalian! Bye!’ putus mama Mocha membuat Mocha dan Ucup menatap ponsel Mocha dengan kesal. Lalu mereka saling bersitatap dengan penuh permusuhan.
“Apa lo lihat-lihat!” seru garang Ucup.
“Gue punya mata! Makanya gue lihat!” balas Mocha tak kalah garang.
“Bentar deh! Nama lo Steven kan? kenapa sekarang berubah jadi Ucup?” bingung Daniel yang memang mengenal Ucup atau yang di kenal sebagai Steven di sekolah.
__ADS_1
“Itu panggilan khusus dari gue!” sahut Mocha sebelum Ucup membuka suaranya.
“Lucu,” gumam Vernon yang masih di dengar Mocha, hanya Mocha yang mendengarnya. Terbukti dari Mocha yang menatap intens Vernon di sebelahnya, Vernon menaikkan sebelah alisnya.
“Kenapa?” tanya Vernon.
“Lo tadi salah makan ya? Apa lo tadi minum baygon sachet?” celetuk Mocha membuat wajah Vernon menjadi datar kembali, Mocha meringis sepertinya di salah bicara sekarang. Dia harus menjadi pendiam jika ada Vernon di sebelahnya.
“Maksud lo?” tanya Vernon kembali ke nada ngegasnya. Akhirnya Vernon kembali sadar.
“Heh! Kalian kenapa pada ngobrol di situ? Gak dengar bel yang bunyinya sekeras omongan tetangga?” tanya Pak Joko yang datang menghampiri mereka semua dengan wajah galaknya dan mata yang melotot sempurna membuat wajah garangnya tambah menakutkan.
“Mocha kenapa kamu malah ke situ? Balik ke kelas!” seru pak Joko membuat Mocha tersadar dan melepaskan cekalannya di tangan Daniel. Dia menutupi wajahnya, karena malu dan langsung berlari mengejar ketiga temannya, termasuk Ucup yang juga sekelas dengannya.
***
Mocha memilih membolos, tanpa ketiga rekannya. Aslinya dia bukan membolos sepenuhnya, dia sudah mendapatkan nilai di ulangan dadakan yang di berikan oleh salah satu guru matematika di sekolahnya. Mocha sebenarnya di suruh ke perpustakaan untuk mempelajari bab selanjutnya, tapi dia sangat malas ke sana, jatuhnya dia akan terlelap sampai jam istirahat. Mendingan dia ke lapangan indoor bermalas-malasan di tribun sambil mendengarkan musik dengan tenang. Dia tidak akan terlelap jika tidak melihat setumpuk buku yang berjejer rapi.
“Lo kalau mau cari lawan lihat-lihat dulu dong!” seru seseorang yang sangat lantang dari arah lapangan indoor, Mocha sangat tahu dengan suara itu. Baru kali ini dia mendengar nada suara yang berbeda dari orang tersebut. Mocha melangkahkan kakinya lebih cepat lagi, dia ingin memastikannya kalau yang di dengarnya itu tidak salah. Mocha berjinjit melangkah masuk ke tribun dan bersembunyi di sana, tempat yang cukup strategis dan juga dia tidak akan di ketahui.
__ADS_1
“Itu? Mereka itu? Astaga?” Mocha menutup mulutnya, dia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ini benar-benar berbeda, jauh sekali. Dia tidak menyangka kalau ternyata para targetnya memiliki sifat seperti ini, ini adalah sifat asli yang tersebunyi dari wajah yang terlihat manis milik lebah madu. Sungguh wajahnya sangat baik menutupi kelakuannya.
“Lo mau protes, karena posisi lo di ganti sama gue?” tanya Noah dengan suara beratnya dan sangat menyeramkan di telinga Mocha. Mocha melihat orang yang menjadi sasaran ketiga targetnya adalah Beta, anak olimpiade matematika yang seharusnya mewakilkan sekolah, karena dia sudah lolos seleksai. Tapi, yang di dengar Mocha adalah Beta tidak jadi mewakilkan sekolah dan Noah yang menggantikannya. Kepala sekolahnya menepati janjinya kepad Noah ternyata.
“Gue yang susah payah lolos di semi final, tapi lo seenaknya gantiin posisi gue!” seru Beta dengan berteriak di depan wajah Noah, Beta tidak bisa bergerak, karena Daniel dan Vernon memengangi kedua tangannya. Noah tertawa sinis dan menendang perut Beta membuat Beta terjatuh ke lantai dan terbatuk, Mocha meringis dia merasa kasihan melihatnya. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia masih belum paham akan semua ini.
“Lo tahu siapa gue?” tanya Noah dengan kakinya berada di atas perut Beta yang masih berada di lantai. Daniel dan Vernon hanya tersenyum menyaksikan semua itu, Mocha mengepalkan tangannya. Ternyata mereka sering membully dan ini katanya tidak ada catatan di ruang BP? Sungguh, Mocha ingin bertepuk tangan melihat kebodohannya yang tidak menyadari mana yang benar dan salah.
“JAWAB!” teriak Noah membuat telinga Mocha berdenging, apalagi Beta saat Noah berteriak tepat di telinganya. Mocha tetap menatap mereka dan menunggu ungkapan apa yang akan di utarakan oleh Beta, karena ini akan menjadi sebuah informasi baru untuk dirinya dan agen mochi.
“Maaf, maafin gue. Gue tidak bisa melawan lo,” ujar Beta dengan suara yang ketakutan, Mocha mendesah kecewa. Kenapa Beta menjawab seperti itu? Itu jawaban yang belum jelas maksudnya.
“Lo tahu kan kalau gue paling gak suka sama orang sejenis lo! Sekarang lo pergi dari hadapan gue atau gue lepar lo dari gedung atas!” Vernon mulai mengeluarkan suaranya dan ancamannya itu berhasil membuat Beta ketakutan, Beta langsung berlari keluar dari lapangan.
“Muak gue lihat wajahnya!” seru Noah sambil memainkan bola basket yang di lempar Daniel, mereka bertiga mulai bermain basket dan Mocha terus memperhatikan mereka dari tempat persembunyiannya. Mocha melamun dan memikirkan setiap kata-kata yang keluar dari mulut Noah.
“Gue sudah tahu di balik wataknya yang terlihat ramah itu terdapat jiwa iblis di dalamnya,” gumam Mocha saat melihat bagaimana perubahan wajah Noah yang masih terlihat emosi.
“Memang julukan lebah madu itu benar-benar sangat cocok untuknya. Manis, di sukai banyak orang, namun dia berbahaya,” lanjut Mocha sambil menatap langit-langit lapangan indoor. Dia ingin ke perpustakaan saja, daripada di sini dia tidak bisa apa-apa. Dia lelah bersembunyi, tapi dia takut ketahuan oleh mereka. Alhasil, dia harus menahan rasa pegal di kakinya yang sangat menyiksa.
__ADS_1