Agen Mochi

Agen Mochi
39


__ADS_3

Semakin lama wajah mereka semakin dekat, bahkan hidung mereka sudha saling bersentuhan. Mocha sudah mulai berkeringat. Dia memikirkan cara untuk keluar  dari pelukan Noah yang begitu erat dan tubuh mereka mulai menempel saat ini. Sampai.


“Akh!” ringis Noah ketika Mocha membenturkan kepala mereka berdua, sehingga pelukan mereka terlepas. Karena, Noah senang mengusap keningnya.


“Mocha jangan kabur!” teriak Noah saat Mocha berhasil kabur darinya. Dia mengejarMocha yang terus berlarian di lorong IPA sampai Bahasa, lalu saat di lorong IPS Mocha melihat Niken baru keluar dari kelas mereka, begitu pun dengan Dewi dan Jennie.


“Kenapa kalian bisa berada di dalam kelas?” tanya Mocha yang kini berhenti tepat di hadapan mereka bertiga. Terlihat mereka sedang menundukkan kepalanya menatap takut ke arah Mocha yang terlihat begitu marah kepada mereka.


“Aku yang menyuruh mereka!” bisik seseorang dengan memeluk Mocha dari belakang. Tubuh Mocha tiba-tiba menengang seketika, sedangkan ketiga temannya hanya melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat itu.


“Kalian kembali masuk ke dalam dan Mocha akan bersamaku!” perintah Noah membuat mereka bertiga mengangguk kaku dan langsung bergegas kembali masuk ke dalam kelas.


“Lo kasih ancaman apa sama teman gue?” tanya Mocha yang kini menetap Noah yang masih memeluknya. Dia memiringkan wajahnya, sehingga bisa melihat wajah Noah.


“Kita ini sepasang kekasih, tak seharusnya kamu menggunakan panggilan itu,” ujar Noah dengan suara lembutnya membuat Mocha menjadi mereinding mendengarnya.


“Lo—,” Noah langsung mencium Mocha, sehingga perempuan itu mengehentikan ucapannya. Mocha membulatkan kedua matanya, dia sangat malu. Karena, banyak yang melihat adegan ini secara percuma.


“Ayo, kita senang-senang,” bisik Noah dengan menggendong Mocha di bahu kanannya, Mocha yang masih tidak sadarkan diri dengan apa yang telah terjadi barusan, dia hanya terdiam dan tidak berontak ketika di gendong seperti karung beras oleh Noah.


“Kita sudah sampai,” Noah menurunkan Mocha tepat di ruang rahasianya. Dia melewati pintu yang terdapat pada parkiran sekolah, Mocha yang tersadar langsung memundurkan tubuhnya dan menatap Noah dengan wajah waspadanya. Membuat noah tertawa kecil melihat tingkahnya yang terlihat begitu menggemaskan.


“Kenapa bisa gue ke sini?” tanya Mocha membuat Noah menaikkan sebelah alisnya.


“Kamu lupa?” tanyanya dengan mendekatkan tubuhnya ke arah Mocha.

__ADS_1


“Hah? Lupa?” beo Mocha membuat Noah semakin gemas dengannya, dia menarik hidung Mocha dan mengapitnya dengan ibu jari dan jari telunjuknya.


“Kamu begitu menggemaskan! Aku makin cinta sama kamu,” ujar Noah membuat wajah Mocha langsung memanas, dia mencoba mendorong wajah Noah yang begitu dekat dengannya.


Akhirnya dengan usaha yang tidak di kurangi oleh Mocha, Noah berhasil terddorong hingga tiga langkah ke belakang. Mocha menatapnya dengan mata melotot, dia mulai berjalan mengelilingi tempat tersebut yang ternyata masih sama dan tidak ada bedanya sama sekali. Setelah merasa cukup lelah dengan jalan-jalan kecilnya untuk menghindari Noah yang berbahaya itu, Mocha memutuskan duduk di sofa yang begitu empuk dan lembut sampai dia merasakan sesuatu yang dingin hinggap di pipi kirinya.


“Kamu pasti lelah, ini minum dulu,” ujarnya menyerahkan minumar isotonik kaleng kepada Mocha, dengan segera Mocha merebutnya dan meminumnya hingga tandas. Setelah selesai minum Mocha merasakan sebuah tangan merangkul pundaknya dan menarik kepalanya sampai dia bersandar di bahu Noah.


“Lo—maksudnya kamu, hehe,” Mocha langsung mengubah nada bicaranya saat melihat tatapan tajam Noah yang menolak dirinya untuk menggunakan panggilan tersebut. Mocha mencoba menormalkan jantungnya untuk meluruskan semuanya dengan Noah.


“Apa yang ingin kamu tanyakan? Aku akan menjawab semuanya, kapten agen kue,” ujar Noah membuat Mocha menatapnya kesal.


“Agen Mochi bukan kue!” ralat Mocha.


“Bagaimana kamu bisa menemukan ketiga temanku?” tanya Mocha yang kini menarik tubuhnya dan menatap Noah.


“Dengan bantuan Daniel dan juga Vernon,” jawabnya dengan menarik tubuh Mocha dan kini berganti, dia yang bersandar di bahu Mocha.


“Sejak kapan kamu tahu tentang misi kami? Aku tahu kamu bukan orang bodoh yang tidak tahu gerak-gerik kami selama ini!” pernyataan dari Mocha itu memang benar adanya.


“Sejak awal, aku hanya diam saja dan merahasiakan hal ini kepada kedua temanku. Aku hanya ingin melihat bagiamana caramu menyelesaikan misi tersebut. Aku suka saat kamu menyusup ke tempat ini dan mematikan cctv-nya. Tetapi, satu terlewatkan olehmu. Di setiap pot kecil yang terdapat pada beberapa spot strategis ini sudah ada camera kecil yang tidak bisa di ketahui oleh siapa pun, hanya aku yang tahu,” penjelasan itu membuat Mocha terdiam. Dia merasa gagal menjadi seorang kapten dalam agen yang dia banggakan itu.


“Aku tidak akan memaafkan penyusup yang mengusik kehidupan pribadiku,” bisikan itu membuat tubuh Mocha merinding. Dia menatap aura mencekam di sekitarnya dan aura itu berasal dari Noah yang kini menatapnya sangat tajam.


“A—apa yang kamu lakukan? Apakah dengan menjadikan aku pacarmu akan membuatmu senang untuk menyiksaku?” tanya Mocha dengan sedikit ketakutan.

__ADS_1


“Itu tidak ada hubungannya, hatiku tidak akan tega untuk menyakitimu. Mungkin teman-temanmu bisa menjadi penggantinya,” mendengar itu Mocha tidak bisa diam saja.


“Tidak! Jangan sakiti mereka. Aku adalah kapten mereka dan aku yang akan bertanggung jawab untuk semuanya. Jadi, kamu bisa menyiksaku tetapi jangan teman-temanku,” Mocha tidak bisa menahan tangisannya. dia menangis di hadapan Noah orang asing yang mengetahui kelemahannya. Selain keluarga dia juga tidak ingin ketiga temannya terluka, karena mereka adalah temannya juga. Mereka sudah berteman sejak kecil.


“Hei…kenapa kamu menangis begini?” Noah mencoba untuk meraih tubuh Mocha, namun dengan cepat Mocha menghindar darinya. Noah tidak tahan melihat Mocha yang menangis begitu kencang di hadapannya.


“Tenanglah, aku hanya bercanda tadi. Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan membalas dendam dan aku hanya ingin mengucapkan terimakasih. Karena, kalian sudah membantu kedua temanku. Aku tidak menjadikanmu kekasihku untuk membalas semua itu. Aku memang sudha menaruh hati kepadamu ketika kita bertemu di kelas satu awal semester dua saat itu,”ujar Noah membuat Mocha terdiam.


“Maksudmu? Aku lupa kalau kita pernah bertemu. Lagi pula kenapa sebutannya kekasih bukan pacar?” bingung Mocha dan Noah menariknya untuk kembali duduk di sofa.


“Kekasih itu adalah istilah untuk orang yang aku cintai dengan serius, itu adalah keinginanku! Kamu tidak boleh membantahnya!” sifat keras kepalanya mulai muncul membuat Mocha hanya pasrah dengan apa yang dia katakan.


“Kamu ingat siswa yang terjatuh di dekat tangga ruang guru?” tanya Noah meuat Mocha kembali memutar memorinya pada kala itu.


“Jadi, siswa yang aku obati di UKS itu kamu? Siswa cengeng yang takut dengan obat merah? Hahaha,” wajah Noah mulai berubah saat Mocha menertawakannya.


“Tertawa lagi aku cium!” ancamnya membuat Mocha langsung menutup mulutnya.


“Iya, sejak saat itu aku mulai jatuh hati kepadamu. Aku terus memperhatikanmu dari jauh, bahkan sering mengikutimu saat menjalankan misi. Aku juga sering melihat kamarmu yang berada di lantai dua setiap malamnya, sampai kamu melihatku dan ketakutan,” jelasnya.


“Jadi, orang malam itu kamu?” tanya Mocha yang di balas anggukan dari Noah.


“Sudahlah, aku mau keluar dari sini. Aku lapar,” rengek Mocha membuat Noah tertawa kecil. Dia menarik tangan Mocha dan membawanya keluar menuju mobilnya yang terparkir.


“Aku lupa dompetku masih di dalam. Kamu masuk ke dalam mobilku dulu dan tunggu aku, mengerti?” tanya Noah membuat Mocha mengangguk. Dengan cepat Noah mencium pipi Mocha dan berlari ke dalam ruangannya lagi. Mocha melangkah ke arah mobil Noah, tinggal lima langkah lagi dia akan sampai. Namun, tiba-tiba saja ada yang membekap mulutnya dan Mocha langsung pingsan seketika.

__ADS_1


__ADS_2