
“Jadi, tadi Niken sudah tahu semuanya saat Noah sama Vernon berbicara. Mereka… perut Niken masih sakit nih,” keluh Niken tiba-tiba membuat Mocha dan Dewi menatap ke arahnya.
“Lo makan apaan sih?” tanya Dewi yang mulai kesal, karena informasinya selalu terpotong. Dia sudah sangat penasaran dengan fakta yang akan di berikan Niken.
“Tadi, Niken makan bakso terus Niken pengin coba-coba sama boncabe. Ya sudah Niken tuangin dan terlalu banyak,” jelas Niken dengan menundukkan kepalanya.
“Level berapa?” tanya Mocha yang mulai kembali menjalankan mobilnya.
“Tiga puluh,” jawab Niken.
“Wah pantas saja, lo tuanginnya terlalu banyak seperti apa?” tanya Mocha lagi yang fokus dengan jalanan di depannya. Dia sangat tertarik dengan cerita Niken.
“Tadi masih baru, terus pas Niken tuangin tinggal separuh isinya,” jelas Niken membuat Mocha mengerem dadakan dengan mata melotot dan bibir terbuka cukup lebar.
“Alhamdulillah kita masih selamat!” ucap syukur Mocha, karena mereka masih selamat dan tidak jadi menabrak ayam yang tadi melintas di jalan raya.
“Gue kira lo kaget sama cerita yang di bahas Niken! Ternyata gara-gara ayam?” tanya kesal Dewi sambil mengusap dadanya.
“Sialan tuh ayam! Gak ngotak! Ini jalan raya lo gak boleh main langsung nyebrang! Bahaya! Lo jangan cari mati di sini, lebih baik lo pulang!” seru Mocha membuka kaca mobilnya dan mengomel kepada ayam yang sedang menatapnya bingung.
“Emosi gue muncul lagi nih, di ajak ngomong cuma melongo tuh ayam,” kesal Mocha kembali melanjutkan perjalanannya, dia sangat kesal di abaikan begitu oleh
__ADS_1
ayam.
“Lo tuh yang gak beres! Ayam di ajak ngomong, gak mungkin bisa jawablah, kalau bisa jawab pertanyaan lo. Gue pastiin kalai itu bukan ayam!” celetuk Dewi membuat Mocha merinding membayangkan ayam itu dapat berbicara sepertinya.
“Au ah, kesel level 29 gue,” ucap ngawur Mocha yang kini kembali fokus ke jalanan.
“Jen!Gue sudah kelaparan,” Mocha merebahkan tubuhnya di sebelah Jennie yang sedang memakan buah kiwi, kiwi lagi dan kiwi terus. Mocha sangat emosi setelah berdebat dengan ayam tadi dan dia sangat membutuhkan energi untuk mengisi tenaganya yang sudah terkuras itu.
“Nih anak kenapa kok kelihat kesal begini?” tanya Jennie kepada Niken dan Dewi.
“Habis debat tadi,” jawab Dewi sambil mencomot buah kiwi milik Jennie dari tangan pemiliknya. Jennie masih belum menyadarinya dan terus menatap Mocha heran, karena dia teruss-menerus menggerutu dengan memainkan ponselnya.
“Debat sama siapa?” tanya Jennie lagi.
“Sudahlah! Gue lapar, Jen!” saat Mocha kelaparan, jiwanya akan berubah menjadi sangat menyebalkan atau marah-marah tak jelas dan mengomeli siapa saja yang
mengusiknya. Jennie tidak ingin menjadi pelampiasan dari emosi Mocha, dia mengetikan sesuatu di ponselnya dan tak lama kemudian, para pelayan dan chef yang bekerja di rumahnya masuk ke dalam kamar dengan membawa makanan untuk mereka berempat.
“Cha—” Jennie langsung membekap mulut Niken dan Dewi menatap tajam Niken yang hendak memanggil Mocha yang sedang kesetanan dengan makanannya.
“Lo diam! Jangan sampai singa di jiwa Mocha keluar!” bisik Jennie dengan sangat hati-hati, takut membuat Mocha mendengarnya dan mengamuk di kamar cantiknya. Niken hanya menganggukkan kepalanya, sebagai tanda dia sudah paham dan perlahan Jennie melepaskan tangannya dari mulut Niken.
__ADS_1
“Mocha, Niken mau cerita tentang Noah sama Vernon tadi!” seru Niken dengan sangat tenang membuat Jennie dan Dewi melotot tak percaya. Percuma mereka mengingatkan Niken, kalau perempuan itu akan tetap mengganggu makan tenang Mocha.
Mocha menghentikan makannya dan menatap tajam Niken yang mulai ketakutan dengan menundukkan kepalanya, sedangkan Jennie dan Dewi hanya menelan ludahnya dengan susah payah. Mereka tidak tahu Mocha akan berbuat apa sebentar lagi, yang pasti mereka harus siap-siap menjadi samsak untuk menampung semua emosi yang akan Mocha keluarkan.
“Apa yang ingin lo ceritakan? Gue mau dengar!” Mocha sudah selesai dengan makannya dan menaruh piringnya. Ia menatap Niken dengan datar, namun tegas. Jennie dan Dewi hanya bisa menahan nafasnya, mereka tidak tahu apa yang akan di katakan Mocha selanjutnya.
“Ayo! Cepat, gue sudah gak sabar mau dengar cerita lo!” di luar dugaan, ternyata Mocha tidak marah, melainkan tersenyum lebar membuat mereka semua membelalakkan matanya. Mereka tak percaya Mocha akan tenang seperti ini dan terlihat anggun. Meskipun mereka tahu, apa yang sedang ada di dalam jiwa Mocha sekarang sangat mengerikan untuk di deskripsikan.
“Vernon tadi sempat beradu argumen dengan Noah, karena Noah mendengar kabar Vernon sudah pergi kabur rumahnya sekitar dua hari. Niken tidak tahu kenapa Vernon kabur dari rumahnya. Lalu, Niken tidak sengaja mendengar bahwa Vernon tidak ingin bertemu dengan kedua orang tuanya yang tiba-tiba berada di rumah dan tidak pergi mengurusi pekerjaannya. itu yang Niken dengar,” jelasnya membuat Mocha terdiam. Dari kalimat yang di ucapkan Niken itu Mocha mulai memikirkan satu hal lagi.
“Bisa jadi, Vernon menghindari kedua orang tuanya. Dia bilang orang tuanya tidak mengurusi pekerjaan mereka saja kan?” tanya Mocha yang di balas anggukan dari mereka.
“Bisa jadi, dia kekurangan kasih sayang. Karena, orang tuanya terlalu sibuk dengan kerjaannya. Tapi, hal itu masih belum pasti. Jadi, kita harus mencarinya lebih dalam lagi. Kita terusin ini besok, gue ada kepentingan. Bye!” Mocha keluar dari kamar Jennie meninggalkan mereka yang masih terdiam. Mereka tidak ingin berbicara, karena mereka tahu Mocha lebih paham dengan masalah ini. Itu sebabnya, dia menjadi kapten mereka.
“Mana Ucup? Dia minta gue buat jemput ke sekolah! Padahal, gue mau pulang. Kalau aja bukan di suruh Mama. Gue gak akan mau jemput tuh orang!” kesal Mocha yang berdiri di samping mobilnya. Dia sedang menunggu Ucup di depan gerbang sekolahnya, dia terpaksa kembali lagi. Karena, mamanya menyuruh dia untuk menjemput Ucup.
“Lo nunggu siapa?” tanya seseorang dengan sepeda motornya, Mocha tidak begitu jelas mendengar suaranya. Orang tersebut juga menggunakan helm fulface sehingga, Mocha tidak dapat melihat wajahnya.
“Siapa ya? Begal ya?” tanya Mocha dengan memicingkan matanya.
“Ck! Dasar!” decak orang itu dan membuka helm yang di gunakan. Mocha melebarkan matanya saat melihat wajah Vernon dengan lebam di sebagian wajahnya, dia meringis melihatnya. Tangannya tanpa sengaja menekan luka di pipi kanan Vernon dengan sangat kuat.
__ADS_1
“Sakit bego! Lo sengaja ya?” tanyanya dengan sedikit meringis, dia menyingkirkan tangan Mocha dari wajahnya. Dia menatap kesal Mocha yang tersenyum tanpa dosa melihatnya.
“Wajah lo kenapa bisa bonyok begini?” tanya Mocha yang kini menatap Vernon dengan wajah seriusnya. Vernon yang di tatap pun mengalihakn pandangannya. Dia hendak memakan helmnya kembali, namun ada tangan yang menahannya.