Agen Mochi

Agen Mochi
29


__ADS_3

“Mochi-mochi! Mochi tiga di sini!” Jennie memberi sinyal.


“Mochi empat juga di sini!” balas Niken.


“Mochi dua,” sambung Dewi.


“Mochi satu di mana?” tanya mochi empat, karena tidak ada balasan dari Mocha.


“Kok lo malah diem aja!” kesal Dewi membuat Mocha yang sejak tadi menjadi pendengar dan penonton dari ketiga rekannya bingung.


“Terus gue harus bagaimana? Jungkir balik?” tanya Mocha membuat ketiganya berdecak kesal. Mocha menatap mereka bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa, jadinya dia hanya diam dan memperhatikan mereka sejak tadi yang memberi sinyal masing-masing melalui ponselnya.


“Lo bilang kita akan mulai beraksi hari ini!” kesal Dewi yang membuat Mocha semakin bingung.


“Kapan gue bilang?” bingung Mocha membuat ketiganya lagi-lagi terlihat kesal.


“Kemarin!” balas mereka kompak, sekarang semuanya pada kompak begitu ya. Bagus sekali, dia sendiri lagi dan tidak ada orang yang bersamanya.


“Kayaknya otak gue pergi beneran deh,” gumam Mocha mengingat perkataan Ucup kemarin malam. Kemarin malam dia langsung pulang duluan meninggalkan Ucup yang sedang kesetanan di dalam Kafe. Dari pada dia malu, mendingan dia kabur saja.


“Oke, kalau gitu gimana kalau kita bahas hasil kemarin malam!” seru Jennie.


“Ya sudah, ke tempat biasa!” perintah Mocha dan mereka keluar dari kelas menuju ke taman belakang sekolah mereka untuk berdiskusi di sana.

__ADS_1


Mereka melangkah santai menuju ke taman belakang sekolah, Mocha berada di depan untuk memimpin dan Dewi berada di belakang untuk mengawasi sekitar agar tidak ada yang mengikuti mereka. Mereka juga yang sering menakut-nakuti para siswa yang sedang berada di taman belakang, sehingga taman itu terdengar angker dan tidak


ada lagi yang mau datang ke sana. Taman itu sudah menjadi tempat favorit mereka untuk bersantai atau pun berdiskusi tentang misi atau apa saja yang mereka bahas, di tempat itu juga mereka akan membolos dan para guru tidak akan mengetahuinya.


“Ah, sudah lama gak ke tempat ini,” ucap Jennie langsung mengambil tempat di atas rumput berwarna hijau dengan pohon rindang sebagai payungnya. Di sini tempatnya sangat indah, sehingga mereka berempat tidak membiarkan siapa pun mengetahui, kecuali tukang kebun yang merawat taman ini. Mocha menyandarkan punggungnya di pohon yang meneduhi mereka.


“Jangan tidur!” seru Dewi membuat Mocha yang baru saja memejamkan matanya kembali membuka kedua matanya dengan lebar dan terlihat sangat terpaksa. Mocha tidak bisa menemukan tempat yang nyaman, bawaannya ingin tidur terus.


“Hampir aja,” Mocha menguap lebar sambil membenarkan posisi duduknya.


“Dari Jennie!” instruksi Mocha dan Jennie juga ikut medudukkan dirinya.


“Mereka sering ke sana dan hampir setiap hari, mereka hanya sekedar minum satu sampai tiga botol setelah itu mereka akan mengobrol atau langsung keluar dari tempat itu. Mereka tidak pernah gitu atau semacamnya, hanya sekedar minum aja, itu yang gue dengar dari pemiliknya,” jelas Jennie.


“Oke, sekarang Dewi dan Niken!” Mocha sudah merangkum laporan Jennie di Ipad-nya.


“Jadi, tadi malam kita mata-matai mereka dan mereka datang ke tempat itu lagi. Mereka hanya sebentar dan Niken sama Dewi dengar Noah tidak bisa minum, karena di harus pulang ke rumahnya. Niken sama Dewi takut di sana terlalu lama, jadinya Niken sama Dewi ikut keluar saat Noah keluar. Tak selang beberapa lama ada dua orang yang menghampiri Noah dan orang itu memakai jas rapi. Mereka membisikkan sesuatu kepada Noah dan tak lama Noah ikut mereka. Niken sama Dewi kan ikuti Noah dari kejauhan pakai mobil Dewi, tapi kita kehilangan jejaknya. Terus Nik—,” Dewi langsung memotong penjelasan Niken dengan cepat.


“Kelamaan!” kesal Niken menghentikan Niken dan membuat Niken cemberut.


“Kita lihat mobil Vernon dan Daniel, akhirnya kita ikuti mereka. Ternyata mereka pergi ke sebuah rumah besar di daerah perumahan elite dan itu rumah Noah,” Dewi menghentikan perkataannya, karena Niken langsung menimbrung.


“Rumahnya sangat besar!!! Niken sampai tak berkedip melihatnya!” seru heboh Niken.

__ADS_1


“Sebesar apa sih? Masih besaran dari rumah gue?” tanya Jennie sambil menatap serius Niken.


“Rumah lo gak ada apa-apanya!” titah Dewi membuat Jennie membulatkan kedua matanya.


“Sumpah lo? Rumah gue yang kayak gitu gak ada apa-apanya? Memangnya siapa orang tuanya Noah? Kenapa bisa sekaya itu?” tanya Jennie menggebu-gebu sambil meremas kesal rumput yang di dudukinya. Mocha hanya mengernyit melihatnya, dia masih belum terlalu paham. Mungkin ini adalah efek dari sakit kemarin membuatnya susah berpikir.


“Benar! Masa lo gak ngerasa setiap Noah gonta-ganti mobil mewah hampir setiap hari?” tanya Dewi membuat otak Mocha mulai kembali bekerja. Dia ingat hampir setiap hari Noah menggunakan  mobil yang berbeda dan barang-barang yang di gunakan Noah kalau di total bisa membeli rumah, jangan lupakan juga ponsel Noah yang sehari dapat berganti tipe. Pikiran Mocha kembali lagi ke orang-orang aneh yang pernah datang ke sekolah dan menggunakan mobil limousin itu.


“Itu orang yang menjemput Noah menggunakan mobil limousin gak?” tanya Mocha.


“Iya!” jawab kompak Niken dan Dewi membuat Mocha yakin kalau orang-orang itu adalah bodygruad atau orang bertugas menjaga Noah atas perintah orang tua Noah.


“Lalu ngapain mereka di rumah Noah?” tanya Mocha kembali ke laporan Dewi dan Niken.


“Dewi! Niken!” kesal Mocha, karena Dewi atau pun Niken tidak menjawabnya.


“Kita tidak tahu, karena di sana banyak penjaganya dan kita aja hampir ketahuan sama mereka,” jelas Dewi membuat Mocha sedikit kecewa.


“Kenapa begitu susah?” Mocha menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


“Oke, sekarang gue akan ceritain tentang lencana itu!” seru Mocha membuat ketiganya langsung memfokuskan dirinya kepada Mocha. Mereka menatap serius Mocha yang masih mengawasi keadaan sekitar. Ternyata masih aman dan tidak ada orang sama sekali, kecuali mereka.


“Jadi, lencana itu adalah lencana dengan tulis SOPA yang mengguakan bahasa hanja. Bahasa yang di gunakan dan di pelajari oleh raja-raja dan bangaswan di korea dulu sebelum adanya bahasa hangeul yang di ciptakan oleh raja ke empat dari dinasi Joseon. Ini merupakan salah satu benda-benda yang ada di kerajaan, dengan artian lencana itu tidak semua orang bisa memilikinya,” jelas Mocha membuat ketiganya mengerjap bingung, alhamdulillah ternyata bukan hanya dirinya yang tidak paham dengan apa yang di katakannya, mereka bertiga juga tidak paham dan dia tidak sendiri.

__ADS_1


“Terus?” tanya kompak mereka, lagi-lagi mereka kompak.


“Menurut pemaham gue, apa mungkin Noah atau salah satu dari mereka adalah keturun para raja? Mengingat lencana itu? Tapi, lencana itu belum tentu milik salah satu dari mereka, karena tidak ada nama mereka dan mereka seperti orang yang tidak merasa kehilangan sesuatu. Jadi, kita masih belum bisa ini benar-benar milik mereka,” penjelasan Mocha yang membuat semuanya terdiam. Mereka sama-sama belum bisa mencernanya, lencana itu juga belum tentu milik para target mereka.


__ADS_2