Agen Mochi

Agen Mochi
18


__ADS_3

Agen Mochi mulai menjalankan misi besarnya, Mocha sudah menyiapkan segalanya dan memberi tugas kepada tiga rekannya. Mereka berempat masih berada di kantin untuk makan, misi akan di mulai saat jam istirahat ke dua, karena orang yang akan mereka pantau masih ada urusan di luar. Bagaimana mereka tahu? Tentunya dengan Dewi sebagai mata-mata dan Jennie sang informan.


“Ini kita gak bawa apa-apa?” tanya Jennie membuat Mocha yang mengunyah mie ayam menghentikan kunyahannya dan menatap bigung Jennie. Mocha tidak paham dengan maksud Jennie. Bukan hanya Mocha, Dewi dan Niken juga terlihat bingung terlihat dari raut wajah mereka.


“Masud lo? Gak paham gue!” Mocha kembali melahap makanannya sambil menunggu jawaban Jennie, dia masih lapar setelah menghabiskan sarapan di rumahnya tadi. Dia masih ingin mengunyah, tapi juga ingin makan mie, sehingga mie ayam menjadi menu pilihannya di jam istirahat pertama ini.


“Kita kan mau ngunjungi kepala sekolah! Seharusnya kita bawa oleh-oleh!” seru Jennie membuat ketiganya mengerjap bingung dan saling menatap, tangan Mocha terulur ke kening lebar Jennie dan dia tidak merasakan kulit Jennie panas.

__ADS_1


“Masih normal panasnya! Ini efek ijin kemarin kayaknya,” ujar Mocha sambil menganggukkan kepalanya. Dewi dan Niken juga menyetujui perkataan Mocha, tapi sekarang Jennie yang kebingungan.


“Kalian pada kenapa?” tanya bingung Jennie membuat Dewi mendengus.


“Lo sakit atau kangen rumah? Lo kira kita mau jenguk kepala sekolah sampai bawa hadiah? Gue tahu lo dari luar kota dan borong oleh-oleh, tapi kita ini sedang memantau bukan kunjungan!” jelas Dewi membuat Jennie tertawa kencang, dia baru paham ke salahannya dan menertwakan dirinya sendiri. Mocha tidak habis pikir, kenapa Jennie mempunyai IQ di atas rata-rata? Padahal dari pengamatannya Jennie sangat berbeda, aneh. Tapi, Mocha teringat kadang orang pintar itu juga sangat aneh, termasuk dirinya kadang-kadang.


“Ini kita nunggunya sampai jam berapa? Bentar lagi masuk!” keluh Jennie membuat Mocha menyenggol tangan Dewi dan Dewi melihat ponsel yang sempat dia letakkan di atas meja. Dewi tersenyum kecil dan menatap ke arah Mocha, Mocha yang paham dengan tatapannya itu menganggukkan kepalanya dan langsung beranjak di ikuti Dewi, Jennie dan dan Niken pun langsung beranjak. Mereka berjalan santai menuju ke koridor yang mengantarkan ke ruangan kepala sekolah.

__ADS_1


“Kita harus lebih cermat lagi dan ingat fokus sama pembicaraan mereka!” perintah Mocha yang mulai mengeluarkan jiwa kepeminpimannya. Ke tiganya mengangguk paham dan mereka mulai fokus dengan earphone di telinga mereka masing-masing.


Samar-samar mereka mulai mendengar sebuah percakapan antara kepala sekolah dan Noah, iya orang yang di lihat Mocha adalah Noah. Kunci dari semua tugasnya ini, Mocha sangat penasaran dengan rahasia apa yang di sembunyikan Noah di sekolah ini. Kenapa semua warga sekolah terutama kepala sekolah dan rekan guru menyembunyikan tentang mereka bertiga. Mocha tidak begitu percaya dengan informasi yang di peroleh Jennie melalui siswa di sekolah ini, bisa saja mereka juga menyembunyikan sesuatu yang agen mochi tidak ketahui.


“Saya ingin menggantikan teman saya untuk mengikuti olimpiade matematika ingkat nasional!” seru Noah dengan suara yang terkesan dingin dan tegas, Mocha cukup terkejut. Noah bisa berbicara begitu dengan kepala sekolah dan apa tadi keinginannya? Minggu depan sudah mulai olimpiadenya dan siswa yang di gantikan Noah itu memang sudah lulus seleksi dan nama mereka berbeda. Bagaimana dia bisa menggantikannya, sedangkan dia tidak ikut seleksi sama sekali.


“Itu urusan mudah, kamu terima beresnya saja. Besok saya akan kirim namamu dan kamu yang akan menggantikan Beta di dalam olimpiade itu,” jawab kepala sekolah membuat Mocha mengepalkan tangannya, ini tidak bisa di biarkan. Ini sudah salah, kasihan juga Beta, nama siswa yang seharusnya maju ke babak final olimpiade itu.

__ADS_1


“Baik, itu saja keinginan dari saya,” ucap Noah yang menyelesaikan percakapannya, Noah juga langsung ke luar dari ruangan kepala sekolah tanpa menunggu balasan dari kepala sekolah. Mocah mendengar kepala sekolah menghubungi seseorang.


“Apa yang jadi keinginan Noah harus terwujud! Saya tunggu kabar dari kalian besok dan jangan lupa Noah yang akan jadi juara pertamanya nanti!” kalimat itu yang di dengar agen mochi dan merak melepaskan earphone masing masing. Mocha menyandarkan punggungnya dan menatap ke arah tiga rekannya, dia menghela nafas dan mengacak rambutnya. Dia masih bingung kenapa kepala sekolah begitu mudah memberikan apa yang Noah mau dalam waktu yang sangat dekat begitu? Mocha berpikir kalau Noah itu bukan siswa biasa seperti dirinya atau yang lainnya, dia istimewa.


__ADS_2