
Mocha berdiri di depan pintu yang terdapat tulisan Headmaster, Noah sudah ke luar beberapa menit yang lalu dan tidak membawa apa-apa seperti proposal atau kertas semacamnya. Itu menambah kecurigaan Mocha tentang keterlibatan kepala sekolah dalam meyembunyikan kebenaran tentang Noah dan ke dua rekannya. Mocha menghela nafas sebelum mengetuk pintu berwarna cokelat yang terdapat ukiran wayang-wayang tersebut, setelah mendapat sahutan dia mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan. Terlihat kepala sekolah langsung memasukkan sebuah kertas ke dalam laci saat melihat Mocha, dalam hati Mocha tersenyum.
“Siang, Pak?” sapa Mocha setelah duduk di kursi depan kepala sekolah.
“Iya, siang. Kamu ada keperluan apa?” tanya kepala sekolah tanpa basa-basi.
“Tadi, saya tidak sengaja melihat Noah ke luar dari ruangan bapak dan terlihat terburu-buru. Memangnya ada masalah apa pak?” Mocha tahu ini pertanyaan lancang, namun dia tidak ingin berbelit-belit lagi. Dia ingin cepat mengetahui apa yang sedang di sembunyikan di sekolah ini.
“Tumben kamu menanyakan tentang Noah?” tanya balik kepala sekolah untuk tak menjawab pertanyaan Mocha.
__ADS_1
“Saya rasa ada sesuatu yang terjadi sehingga Noah tergesa-gesa begitu, mungkin saja saya dapat membantunya,” jelas Mocha membuat kepala sekolah memicingkan matanya menatap curiga Mocha, sekuat tenaga Mocha mencoba bersikap biasa saja dan mencoba menganalisis wajah kepala sekolah. Dia ingin mengetahui kepala sekolah ini akan menjawab jujur atau tidak.
“Tidak ada hal penting, Noah hanya saya panggil, karena kemarin dia di hukum itu saja,” jawab kepala sekolah dan Mocha tahu itu tidak benar, dari gerak-gerik dan intonasi bicaranya saja sudah jelas kalau sang kepala sekolah sedang berbohong.
“Apa masih ada sesuatu yang kamu pertanyakan atau kamu ingin tahu?” tanya kepala sekolah, karena Mocha masih terdiam dan terus *** ujung roknya.
“Tidak ada, Pak. Kalau begitu saya permisi, sebentar lagi jam masuk. Selamat siang, Pak,” Mocha bernajak dan meninggalkan ruangan kepala sekolah. Dia melangkahkan kaki ke taman belakang sekolah, dia butuh sedikit ketenangan untuk memikirkan rencana selanjutnya dan taman belakang yang jarang di datangi oleh para siswa membuatnya leluasa sendirin atau bersama dengan rekannya di sana untuk berdiskusi.
“Ponsel gue!” pekik siswa tersebut membuat Mocha tersadar dan tahu siapa orangnya sebelum melihatnya.
__ADS_1
“Lo kalau jalan pakai mata!” marah siswa itu setelah mengambil ponselnya, bukannya meminta maaf sudah membuat Mocha terjatuh dan malah mengata-ngatainya.
“Eh onta! Di mana-mana tuh jalan pakai kaki! Kalau pakai mata lo bukan orang!” blas kesal Mocha membuat siswa tersebut menahan amarahnya dengan membuang nafas kasar.
“Gak lucu!” geramnya.
“Siapa yang ngelawak?” tanya Mocha membuatnya semakin kesal dan menubruk bahu Mocha.
“Dasar Vernon setan!” umpat Mocha yang masih di dengar oleh Vernon, namun di abaikan.
__ADS_1
Mocha menuju salah satu bangku panjang yang sudah memudar warnanya, dia membaringkan tubuhnya di sana. Sayu-sayu angin dari pohon yang menaunginya membuatnya merasa tenang dan mengantuk. Mocha menatap langit yang berwarna biru cerah dengan beberapa burung yang terbang di atas sana. Ini misi yang menguras habis pikirannya, dia tidak pernah sesusah ini sebelumnya dan semua misinya dapat di selesaikan dalam satu bulan. Tapi, untuk kali ini sudah hamir satu bulan dan dia belum bisa mengenali targetnya lebih dalam.
Mocha mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di grup Agen Mochi yang terdiri dari dirinya dan ke tiga rekannya. Dia memberi isyarat kepada mereka kalau mereka akan memiliki misi baru dengan mencari tahu tentang kepala sekolah yang sangat patut di curigai. Dia lupa, tidak mungkin kepala sekolah tidak terlibat dalam semua hal tentang targetnya, padahal sudah jelas mereka sering melanggar, tapi tidak ada catatan sama sekali, itu adalah sebuah hal yang konyol.