Agen Mochi

Agen Mochi
20


__ADS_3

“Kalian sedang apa di sini pagi-pagi?” tanya seseorang membuat buku yang berada di tangan Mocha terjatuh dan semuanya membeku di tempat. Termasuk Jennie yang tadinya tidur dengan menyender di tembok kini matanya terbuka sempurna saat mendengar suara yang sangat familier di telinga mereka.


“Daniel!” pekik kompak agen mochi yang melihat Daniel berdiri di dekat pintu dengan tas yang di sampirkan di bahu kirinya dan dia mengunyah permen karet. Sungguh penampilannya sudah seperti badboy di novel-novel yang sering di baca oleh Mocha di waktu senggangnya.


“Iya?” bingung Daniel menaikkan sebelah alisnya dan melangkah masuk. Dengan gerakan hati-hati Mocha menyembunyikan buku yang terjatuh itu di bawah lemari di dekatnya. Benar saja, Daniel melangkah mendekatinya dan berdiri di hadapannya. Daniel terus memandang Mocha yang menampilkan wajah datarnya, Mocha menahan nafas saat wajah Daniel begitu dekat dengannya.


“Sedang apa kalian di sini sepagi ini?” tanya Daniel mengulang pertanyaannya setelah menjauhkan wajahnya dari Mocha. Mocha menghembuskan nafas lega.


“Lo sendiri ngapain datang sekolah sepagi ini?” tanya balik Dewi yang langsung bergabung dengan mereka. Mocha tersenyum saat Dewi mengerti keadaannya.


“Gue? Lagi piket,” jawab Daniel sedikit ada nada keraguan di nada bicaranya.


“Gak mungkin lo serajin ini berangkat subuh-subuh cuma piket?” Mocha menatap Daniel yang mulai terdiam, Mocha melipat tangannya di depan dada menunggun jawaban Daniel.


“Bentar! Kalau gue kan sudah jawab ada piket. Kalian sendiri ngapain? Belum jawab pertanyaan gue kan?” tanya Daniel mencoba mengalihkannya, Mocha mendengus kecil dan tersenyum samar.


“Kita lagi cari biodata salah satu teman sekelas kita, soalnya dia bentar lagi ultah. Kita lupa sama tanggalnya cuma ingat bulannya saja,” jawab Mocha dengan tenang dan Daniel sepertinya tidak mempercayainya terbukti, lelaki itu menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring.


“Kenapa lo tidak tanya sama teman sekelas lo yang lain? Kenapa harus susah-susah mencarinya di sini?” tanya balik daniel.

__ADS_1


“Karena, kita akan membuat surprise dan teman sekelas kita itu mulutnya pada bar-bar mudah banget di bocorin!” titah Dewi yang memang benar adanya, temas sekelas mereka memang sangat bar-bar dan tidak bisa di beri amanat untuk menjaga rahasia.


“Kalian ngapain pada kumpul di sini? Pagi-pagi lagi?” tanya seorang petugas kebersihan membuat mereka semua terkejut, ternyata matahari mulai nampak, pastas saja para petugas kebersihan sudah datang lengkap dengan alat-alat kerja mereka.


“Balik sana!” serunya membuat agen mochi dan Daniel langsung bergegas keluar. Petugas kebersihan yang satu ini memang terkenal galak dan tidak bisa di ajak bercanda.


“Ngapain mereka itu? Eh—tunggu pintunya kok sudah terbuka?” bingung petugas kebersihan itu yang baru menyadari kalau dia belum membuka pintu yang di kuncinya kemarin malam.


“Hah, sudahlah. Sekarang lebih baik bersih-bersih,” ujarnya yang mengabaikannya dan mulai menjalani tugas-tugasnya membersihkan sekolah sebelum banyak murid yang datang.


Mereka berlima berjalan menuju ke arah kantin, entahlah kenapa Daniel juga ikut-ikutan ke arah kantin. Padahala tidak ada yang mengajaknya untuk ke kantin, Mocha hanya mengajak agen mochi bukan Daniel yang sudah berajalan di depan mereka berlagak seperti bodygruad mereka berempat saja. Mocha mengabaikannya dan terus saja melangkahkan kakinya, dia sudah sangat kelaparan, apalagi memikirkan nasib buku yang di sembunyikan di bawah lemari itu. Untung saja, cctv sudah dia matikan. Jadi, rekaman dirinya tidak akan di ketahui, kecuali kalau Daniel mengatakannya, petugas kebersihan tadi tidak akan mengatakan apa-apa, kenapa Mocha yakin? Karena beliau sangat cuek dengan sekitar.


“Kenapa?” tanya Daniel.


“Lo kenapa?” tanya Jennie membuat Daniel tertawa kecil.


“Gue mau traktir kalian! Agap saja, pangeran tampan ini sedang mencoba meluluhkan hati sang putri,” jawab aneh Daniel yang di abaikan Mocha yang penting dia makan gratis. Mocha melihat ke arah penjual yang sudah siap untuk dia jelajahi makanannya.


“Noh cuma satu yang buka, kita nasi goreng sosis aja!” seru Mocha dengan semangat dan Daniel menganggukkan kepalanya sebelum bergegas ke arah penjual nasi goreng. Agen mochi memilih tempat yang sangat nyaman untuk menatap seisi kantin.

__ADS_1


“Lo gak curiga kalau ada niat terselubung di balik sikapnya daniel?” tanya Dewi dengan suara pelannya, tapi masih di dengar oleh mereka bertiga. Mocha memperhatikan gelagat Daniel yang tampak biasa saja, tapi dia tetap bersikap waspada. Semua yang ada di sini belum tentu kebenarannya, kecuali agen mochi. Hanya itu yang Mocha percayai dan juga jangan lupa para pedagang langganannya.


“Tenang, kita anggap saja dia memang melupakan hal yang tadi. Tapi, kita harus tetap bungkam!” perintah tegas Mocha yang di angguki meraka bertiga. Daniel datang membawa pesanan mereka bersama pedagangnya juga, karena tangan Daniel tidak cukup membawa semuanya bersamaan.


“Makanan datang!” seru daniel dengan senyuman kelincinya membuat wajah tampannya menjadi imut dan menggemaskan. Agen mochi tidak langsung memakannya, mereka masih terdiam dan menatap ke arah Daniel yang sudah melahap nasi goreng miliknya.


“Kenapa? Masih kurang?” tanyanya yan di balas gelengan dari agen mochi.


“Ini benar-benar kita di traktir?” tanya Niken.


“Iyalah, gue baik kan? sudah tampan, dermawan pula,” sombong Daniel membuat Jennie memukul kepalanya menggunakan sendok membuat Daniel meringis kesakitan.


“Ya sudah makan!” seru Daniel membuat Mocha mengangguk pelan dan mulai memakannya di ikuti agen mochi yang memang sangat kelaparan, karena mereka belum sempat  sarapan.


“Gue tunggu lo malah mojok sama empat cewek!” seru Vernon yang baru datang langsung memukul kepala Daniel membuatnya yang sedang makan langsung tersedak makannya. Mocha meringis, karena dia tahu bagaimana rasanya tersedak makanan pedas. Itu sungguh sangat menyakitkan, apalagi rasa pedas yang membekas cukup lama di tenggorokannya.


“Parah banget lo! Lo mau buat gue mati!” kesal Daniel yang di balas Vernon dengan menaikkan sebelah alisnya saja. Vernon mengambil tempat di sebelah Mocha dan itu mengejutkan Mocha, belum sampai di situ keterkejutan Mocha. Dia sangat terkejut mendengar ucapan Vernon yang tiba-tiba.


“Lo nanti malam ada waktu gak? Mau gue ajak keluar!” ujar Vernon to the point membuat Mocha hampir saja tersedak, kalau dia memasukkan nasi goreng yang tinggal lima senti di depan mulutnya itu. Mocha menatap Vernon dengan mata yang membulat sempurna, apa benar lelaki di sampingnya ini adalah Vernon? Kenapa dia bisa berkata setenang itu kepada Mocha dan parahnya lagi, dia mengajak Mocha keluar? Itu adalah sebuah kalimat yang sering Mocha halukan, karena dia tidak pernah di ajak keluar oleh seseorang yang berjenis kelamin laki-laki, kecuali keluarga dan sepupunya.

__ADS_1


__ADS_2