
Mocha merasa bosan di kelas sendirian, bukan sendirian tapi lebih tepatnya Dewi sedang ada acara keluaraga, Niken sakit karena hukuman kemari dan Jennie sedang ijin untuk merawat kulitnya yang mulai kering saat di jemur kemarin. Dia memilih pergi ke perpustakaan untuk tidur, kelasnya sedang kosong, karena guru yang mengajar ada tugas di luar kota, kelasnya di beri tugas dan dia sudah menyelesaikannya, jadi tidak ada alasan lagi untuk dirinya ke perpustakaan yang dingin dan cocok untuk tidur di pagi menjelang siang ini.
“Selalu sepi! Padahal di sini tempatnya cocok untuk tidur,” gumam Mocha saat memasuki perpustakaan yang sangat sepi, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar. Penjaga perpustakaan juga tertidur di kursinya, dengan tangan memegang koran, Mocha langsung masuk dan memilih tempat yang selalu menjadi favoritnya, tempat ternyaman dan cocok untuk tidur dengan pulas.
“Hah, akhirnya bisa kembali lagi ke sini. Sini berpelukan sama Mama!” ujar Mocha kepada meja panjang sambil meletakkan kepalanya di atas meja, dia menutupi wajahnya dengan majalah yang di ambil secara acak. Entah itu majalah apa? Yang penting dirinya bisa tidur dengan nyaman dan tenang.
Mocha tidak tahu kalau ada seseorang yang juga berada di dalam perpustakaan, lebih tepatnya di salah satu tempat yang tidak jauh dari Mocha. Orang tersebut juga tertawa kecil mendengar ucapan Mocha yang menggelikan, dia masih terdiam dan menunggu Mocha benar-benar terlelap sebelum menghampiri Mocha. Setelah di rasa cukup dan Mocha sudah benar-benar tertidur, orang tersebut beranjak dan mengambil tempat di samping Mocha. Orang itu menarik majalah yang menutupi wajah Mocha, majalah tentang otomotif itu di letakkannya di atas meja dan orang tersebut juga membaringkan kepalanya di atas meja menatap wajah tenang Mocha yang terlelap.
“Lucu,” gumam orang itu sambil terus memperhatikan wajah Mocha, tangannya bergerak merapikan rambut Mocha yang sedikit berantakan. Mocha tak terganggu dengan apa yang di lakukan orang tersebut.
__ADS_1
Mocha membuka ke dua matanya dan menguap lebar, dia merenggangkan otot-ototnya dan mencoba mengumpulkan nyawanya. Dia menatap sekitar dan masih berada di perpustakaan, Mocha beranjak dari duduknya dan ke luar dari perpustakaan menuju kantin. Dia sudah sangat lapar dan hasru cepat-cepat mengisi perutnya sebelum maagnya kambuh.
“Ramai? Tapi, sudah kelaparan,” dengan malas Mocha melangkahkan kakinya menuju salah satu penjual langganannya yang begitu ramai, dia mengantri sambil terus menguap. Dia masih mengantuk dan lelah, mungkin ini efek dari hukuman kemarin yang masih belum hilang. Dia ingin pulang dan tidur di kasur ternyamannya, Mocha ingin sekali. Tapi, dia sudah terlanjur masuk.
“Ini gak jalan-jalan, ya?” gumam Mocha yang masih dalam posisinya, begitu ramai untuk memesan membuatnya malas dan membalikkan tubuhnya untuk membeli roti saja. Dia sudah kelaparan dan antrian masih ramai, untung saja saat dirinya membeli roti tempatnya tidak ramai. Mocha menuju salah satu bangku di dekat lapangan dan mulai memakan roti.
“Daniel?” terkejut Mocha saat orang tersebut duduk di sampingnya dan memakan roti juga.
“Kemana yang lain?” tanya Daniel lagi.
__ADS_1
“Lagi ijin sama sakit,” jawab Mocha.
“Kok lo gak ikut-ikutan mereka?” tanya Daniel membuat Mocha tertawa kecil.
“Penginnya sih gitu! Tapi, gue sudah terlanjur sampai di sekolah saat melihat pesan-pessan dari mereka semua,” jelas Mocha sambil melahap kembali roti ke duanya, dia masih lapar dan roti tidak akan cukup untuknya kalau bukan nasi, tapi mau bagaimana lagi, dia malas mengantri terlalu lama.
“Kok l juga sendiri? Kemana yang lain?” tanya Mocha saat menyadari Daniel juga tak bersama teman-temannya dan dia berharap akan mendapatkan sebuah informasi atau fakta baru tentang target.
“Noah lagi ada urusan sama kepala sekolah, kalau vernon lagi tidur di kelas,” jawab Daniel membuat Mocha menebak-nebak urusan apa sampai ke kepala sekolah. Dia menghabiskan rotinya dnegan cepat. Dirinya harus tahu urusan tersebut, siapa tahu ini akan menjadi informasi baru baginya dan berguna nantinya.
__ADS_1