
“UCUP!” teriak Mocha dengan berlari memasuki kamar Ucup, dia meminta izin untuk ke rumah Ucup setelah menyerahkan makanan lele kepada papanya.
“APAAN LO TERIAK-TERIAK?” kesal Ucup dengan berteriak juga.
Ucup melihat penampilan Mocha yang sangat mengenaskan dengan mata yang memerah dan bibir maju beberapa senti. Mocha langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur Ucup, sedangkan sang pemilik hanya menatap sepupu laknat dari kursi meja belajar.
“Buka sepatu lo! Lo buat sprei gue kotor bego!” kesal Ucup yang di abaikan oleh Mocha.
“Ucup, kalau ada yang nembak gue? Gue harus apa?” tanya Mocha yang kini telah duduk di atas tempat tidur Ucup tanpa membuka sepatunya.
“Ya matilah! Kalau di tembak harus apa? Pertanyaan konyol! Kalau gak menghindar yang ada mati!” balasnya membuat Mocha berdecak kesal.
“Bukan tembak beneran bego! Maksud gue tuh di tembak cowok dan pacaran gitu!” kesal Mocha dengan melempar kepala Ucup menggunakan sepatunya.
“Cowok mana yang khilaf nembak lo? Gue harus kasih dia kacamata gajah!” seru Ucup membuat Mocha semakin kesal. Percuma saja dirinya meminta saran kepada sepupunya itu.
“Gak guna gue cerita sama lo!” Mocha beranjak dan hendak keluar, namun dengan cepat Ucup manahan tangannya.
“Lo serius?” tanyanya dengan matanya yang mulai melebar.
“Serius Ucup!” kesal Mocha.
“Siapa orangnya?” Mocha kembali duduk di pinggiran tempat tidur dan menghadap ke arah Ucup yang kini menatapnya dengan sangat serius.
“Lo jangan teriak atau bilang Mama! Awas aja kalau lo lakuin itu! Gue hancurin teropong lo!” ancam Mocha yang membuat Ucup langsung merinding.
“Iya, gue janji gak akan teriak sama bilang ke Mama,” jelasnya.
“Noah yang nembak gue,” ucap pelan Mocha, Ucup hendak berteriak. Namun, dengan cepat Mocha menutup mulutnya dengan roti yang dia siapkan.
__ADS_1
“Enak juga rotinya,” gumam Ucup dengan mengahabiskan sisa roti di tangan Mocha.
“Terus lo pacaran sama dia?” tanya Ucup yang di balas gelengan lemah.
“Bego! Sudah jelas-jelas ada yang suka, tapi belum di terima juga!” kesal Ucup.
“Gue kan gak tahu sama perasaan gue, Cup! Yang gue rasain tuh, jantung gue gak normal kalau dekat dia. Apalagi di perpustakaan waktu dia cium gue,” jelas Mocha membuat Ucup membulatkan kedua matanya.
“APA? LO SUDAH DI CIUM?” teriaknya sangat keras membuat Mocha terjungkal dari atas tempat tidur.
“Lo teriak sekali lagi, gue lempar lo dari jendela!” ancam Mocha membuat Ucup terdiam.
“Lo harus terima dia! Harus!” serunya dengan mengoyangkan bahu Mocha terus-menerus. Mocha sampai tidak bisa mengeluarkan suaranya, karena Ucup tidak mau berhenti.
“Stev! Mocha jangan di gituin! Kasihan dia kesakitan!” suara lembut itu menghentikan Ucup dan Mocha bisa mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Kepalanya mulai pusing.
“Kamu ini selalu buat Mocha menangis! Mamih potong uang jajanmu satu minggu!” ancam mamihnya membuat Ucup terdiam. Selalu saja, dirinya ketahuan saat mencoba balas dendam dengan kelakuan Mocha kepadanya.
“Mih…,” panggilnya dengan suara memelas dan matanya kini mulai berkaca-kaca.
“APA? Gak usah pasang wajah seperti itu! Mamih gak akan kasihan sama kamu. Sekarang, Mocha sayang ikut makan malam di bawah yuk sama Mamih dan Papih,” ujar lembut mamihnya dengan menggandeng Mocha keluar dari kamarnya. Ucup hanya meluruhkan tubuhnya ke lantai dan mulai menangis.
“Mamih gak sayang sama Stev! Mamih pilih kasih sama Mocha!” rancaunya di sela-sela tangisan yang terdengar sangat mengerikan oleh siapa pun.
“Cup! Di suruh makan di dapur sama Papih!” Mocha mengatakan itu membuat tangisnya semakin kencang. Sedangkan Mocha hanya tertawa senang melihat betapa menyedihkannya Ucup saat ini. Dia masuk ke dalam dan mengelus puncak kepala Ucup, sehingga Ucup menatapnya seperti seekor hewan peliharaan.
“Jangan nangis, anak jelek tambah jelek kalau nangis. Sekarang makan ya!” Ucup menerima uluran tangan Mocha dan mereka pun makan malam bersama.
***
__ADS_1
Semua kebenaran Daniel dan Vernon sudah Mocha serahkan kepada bos-nya. Sekarang target mereka hanya terisa lebah madu saja, karena mereka masih belum mendapatkan apa-apa tentang laki-laki itu. Daniel dan Vernon sudah bekerja part time di Kafe uncle Jennie.
“Lama juga kita tahu kebenarannya,” keluh Jennie yang kini menikmati nasi goreng pesanannya, mereka berempat sedang makan siang di kantin.
“Iya, Niken juga hampir menyerah sama misi kali ini,” sambung Niken setelah menelan baksonya. Mocha hanya terdiam dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah.
“Tinggal satu lagi! Kita tidak boleh nyerah!” seru Dewi tiba-tiba membuat ketiganya hampir tersedak saat menyadari betapa semangatnya Dewi kali ini.
“Lo salah minum ya?” tanya Mocha dengan mengangkat tinggi gelas jus milik Dewi. Karena, setelah meminum jus tersebut. Dewi langsung berubah.
“Gue lagi serius!” ketusnya dan menarik kembali gelas jus yang di pegang oleh Mocha.
“Gue rasa untuk lebah madu ini cukup sulit,” gumam Mocha membuat semuanya terdiam. Mocha menatap serius ketiganya yang kini telah berhenti dengan aktivitas mereka.
“Kenapa?” tanya kompak mereka yang membuat Mocha terkejut.
“Sangat sulit untuk mencari tahunya. Kita tahu kan kalau dia tidak seceroboh kedua temannya?” tanya Mocha membuat mereka menganggukkan kepalanya dengan bersamaan.
“Apalagi, Daniel mau pun Vernon terus bungkam saat kita pancing tentang Noah,” ujar Dewi yang benar adanya, sudah dua hari ini mereka menyusun rencana untuk mendapatkan informasi tentang Noah. Namun, keduanya hanya bungkam dan mengalihkan pembicaran membuat Mocha semakin penasaran dengan jati diri Noah yang sebenarnya. Mocha tidak ingin menyerah begitu saja sebelum dia berhasil menyelesaikan misi terakhirnya ini.
“Apa jati diri Noah ada hubungannya dengan lencana itu?” tanya Mocha tiba-tiba.
“Bisa jadi,” jawab kompak ketiganya.
“Kalau begitu, kita akan mulai lagi besok. Semuanya harus siap dan kita tidak boleh gagal. Target kita hanya satu dan kita berempat, gue yakin pasti kita yang akan menang!” ujar Mocha yang terlihat begitu bersemangat.
“Kita siapin alat-alat yang sudah gue rancang! Kalian akan mendapatkannya nanti, setelah pulang sekolah kita berkumpul di rumah Jennie sekalian makan enak di sana! Setuju?” tanya Mocha membuat Dewi dan Niken langsung bersemangat.
“Setuju!” jawab keduanya dengan berdiri, sedangkan Jennie hanya manatap mereka jengah. Dia bukannya tidak senang mereka kumpul di rumahnya, tetapi dia ingin suasana baru seperti di Bali atau di Lombok gitu, kan asik untuk berdiskusi sambil lihat bule berjemur.
__ADS_1