
Mocha kembali menjadi dirinya sendiri, tidak ada lagi dandanan yang membuatnya selalu di buntuti teman-teman sekolahnya, khususnya para siswa. Mocha mulai jengah ruang geraknya terbatas. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian, dia lebih suka tidak di kenali banyak orang, karena dapat membahayakan tugas-tugasnya nanti. Mereka sedang berada di depan kelas atau lebih tepatnya berada di belakang meja guru di dalam kelasnya, mereka sedang bersanti dengan rebahan di lantai dan menjadikan paha Jennie sebagai bantal Mocha dan Niken, sedangkan Dewi memilih menyandarkan kepalanya di kursi guru.
“Kita masih belum dapat apa-apa, padahal ini sudah minggu ke dua kita menjalankan misi,” keluh Mocha.
“Iya, padahal gue sudah banyak tanya-tanya sama geng gosip sekolah dan mereka jawabannya sama semua, heran gue. Mereka tidak mungkin selalu berbuat ke salahan, pasti mereka pernah melanggar aturan,’ ujar Jennie.
“Pasti ada sesuatu yang tidak kita ketahui!” seru Dewi yang menegakkan tubuhnya dan menatap serius Mocha, Mocha yang paham beranjak dan duduk bersila menatap Dewi serius.
__ADS_1
“Iya, itu yang gue pikirin setelah mendengar semua informasi yang kita dapat, agak aneh aja kenapa seakan-akan seluruh orang-orang di sekolah ini sedang menyembunyikan sesuatu? Terlihat jelas dari gerak-gerik mereka saat kita mencoba menggali informasi,” jelas Mocha, Niken pun ikut beranjak dan mengambil sesuatu dari dalam saku rok nya.
“Niken menemukan ini di dekat pintu yang ada di parkiran, Niken tidak sengaja melihat ini,” Niken memberikan sebuah lencana keemas-emasan yang terdapat sebuah gambar dan tulisan yang mereka tidak mengerti. Mocha terus menatap lencana itu, tidak pernah dia melihat sebuah lencana yang terasa kuno dan sudah lama.
“Ini seperti bukan sembarangan lencana, sebaiknya kita gunakan ini untuk mendapatkan lebh banyak informasi. Ini merupakan petunjuk yang sangat berarti untuk kita,” ujar Mocha mengambil lencana itu dan menyimpannya, dia akan mencoba menafsirkan lencana tersebut, meskipun ini akan menjadi sulit. Karena, dari tulisan dan bentuk lencana tersebut bukan berasal dari Indonesia. Bahkan, peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Indonesia tidak ada yang seperti itu.
“Sepertinya kita akan bolos hari ini!” seru Dewi membuat mata Mocha berbinar dan menatap lekat Dewi, Dewi yang di tatap seperti itu pun melempar Mocha dengan pensil yang ada di meja guru. Tapi, pensil itu tidak mengenai Mocha melainkan mengenai Jennie yang berada di samping Mocha.
__ADS_1
“Kenapa-kenapa? Ada misi apa?” tanya semangat Mocha membuat Dewi menunjukkan layar poselnya yang menyala, di sana terdapat sederet pesan yang membuat Mocha ingin tenggelam bersama lele-lele milik papa nya.
“Ya sudah, mau bagaimana lagi? Kita katakan saja sejujurnya pada Bos,” ucap Mocha dan melangkah ke mejanya untuk membereskan barang-barangnya, di ikuti ke tiganya.
Mereka berempat berjalan santai membawa tasnya masing-masing menuju parkiran, sekarang masih waktu istirahat. Jadi mereka bisa sesantai itu membawa tas. Guru-guru atau para siswa akan berpikir mereka pindah kelas atau ke lab. Mereka memang berangkat bersama tadi pagi dengan Jennie yang menjemput mereka dengan mobil baru yang di beri oleh Papihnya, Jennie langsung menggunakannya untuk mencoba mobil tersebut layak atau tidak untuknya, karena dirinya sangat pemilih dalam urusan barang atau benda yang di gunakannnya dalam keseharian.
“Ini kita langsung masuk?” tanya Jennie saat mereka sampai di depan pintu ruangan bos besar mereka atau yang mengelola agen Mochi, sekaligus pendirinya.
__ADS_1
“Tentu, gue di depan,” Mocha mengambil posisi di depan di susul oleh mereka bertiga yang berjejer di belakang Mocha. Dengan sekali tarikan nafas Mocha mengetuk pintu dan mendapat sahutan dari dalam, Mocha membuka pelan pintu tersebut dan mulai melangkah masuk ke dalam. Atmosfir yang dia rasakan begitu panas, padahal ruangan tersebut terdapat pendingin ruangan. Entah mengapa dia merasa sedikit kepanasan dan butuh air dingin uuntuk membasahi tengorokannya yang terasa kering.
“Hai, Bos,” sapa Mocha kepada orang yang duduk di kursi besar dan memunggungi mereka berempat, orang yang di sapa yang sebelumnya menatap jendela kini mulai menggerakkan kursinya dan berbalik untuk melihat Mocha, Mocha sebagai kapten merasa bertanggung jawab atas semua tugas-tugas yang di tampungnya. Dia memberikan senyuman kecil kepada ketiga rekannya saat melihat wajah pucat mereka, dia kembai menatap sang bos yang menatapnya tajam. Mocha menelan ludahnya dengan susah payah, dia tidak bisa berbicara, karena suaranya terasa hilang seketika.