
“Ayah ingin kau kembali ke negara kita dan meneruskan kerajaan kita,” ujar raja kepada Noah di saat mereka makan malam. Noah terdiam mendengar pernyataan tersebut, dirinya menatap kedua orang tuanya dan kakaknya yang terlihat terkejut juga.
“Biarkan kakak yang mengambil alih kerajaan kita!” jawab Noah membuat sang kakak menatap tajam ke arahnya.
“Tidak bisa! Kau adalah pangeran dan aku putri, pangeran yang lebih pantas menempati posisi itu!” sahut sang putri membuat Noah menggelengkan kepalanya.
“Noah tidak tertarik!” putus Noah dengan meninggalkan meja makan, dia bahkan menghiraukan teriakan sang raja dan ratu yang menyuruh dirinya untuk kembali.
“Ini semua gara-gara perempuan itu!” marah sang ratu membuat putri menatapnya bingung. Sang putri memang tidak mengetahui apa-apa, karena dirinya lebih sering di luar dari pada berada di rumahnya sendiri yang terasa begitu membosankan.
“Perempuan? Siapa?” tanya sang putri.
“Perempuan yang bernama Mocha yang di cintai oleh pangeran,” jelas sang ratu membuat putri tertegun, dia terdiam dan beranjak meninggalkan meja makan menyusul Noah.
“Punya anak dua sama-sama pembangkang dan tidak tahu sopan santun,” ucap sang raja.
“Noah! Lo di dalam kan?” teriak sang putri dengan mengetuk pintu kamar Noah dengan keras. Membuat Noah mau tak mau membuka pintu kamarnya.
“Ada apa? Gue lagi belajar besok gue UN!” kesal Noah dengan membuka pintunya, sang putri langsung menerobos masuk tanpa menunggu persetujuannya.
“Belajar apanya? Yang ada hanya foto-foto Mocha,” ujar sang putri saat melihat kamar Noah berantahkan dengan foto Mocha yang berserakan di atas tempat tidurnya.
“Sudahlah! Jangan ganggu gue!” kesal Noah yang di abaikan oleh putri.
“Lo sangat mencintainya ya?” tanya sang putri tiba-tiba.
“Iya, gue sangat mencintainya dan baru tiga hari yang lalu, dia jadi kekasih gue. Tapi, sekarang sudah tandas gara-gara kedua orang tua lo!” jelas Noah.
“Mereka orang tua lo juga bego!” kesal sang putri dengan melepar batal ke arah Noah.
__ADS_1
“Gue bantu lo biar dekat lagi sama Mocha! Gue janji!” serunya sebelum keluar dari kamar Noah. Sang putri tersenyum ketika adiknya terlihat senang mendengar pernyataannya.
***
Ujian nasional sudah berakhir hari ini. Jennie mengajak ketiga temannya untuk makan-makan di Kafe uncle-nya. Dengan senang Mocha menyetujuinya, meskipun dia tahu kalau ini bukanlah untuk bersenang-senang, karena sebentar lagi mereka akan berpisah dan Mocha akan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Di mana salah satu program studi yang di tawarkan sangat cocok dengan keahliannya saat ini.
“Nanti kita kumpul di rumah Mocha aja!” usul Dewi ketika mereka berdiskusi tempat kumpul mereka sebelum berangkat menuju Kafe.
“Boleh!” sahut Niken dan Jennie.
“Bagiamana?” tanya Dewi kepada Mocha yang terlihat sedang melamun. Mereka tahu apa yang di rasakan oleh Mocha, hubungan mereka tidak sampai sehari sudah tandas begitu saja. Ingin sekali mereka mencarikan Mocha laki-laki yang sama tampannya seperti Noah untuk Mocha, namun dengan mentah-mentah Mocha menolaknya dan mengancam mereka kalau sampai melakukan hal itu.
“Mocha!” panggil Jennie dengan menepuk pelan pundaknya, sehingga dia tersadar dan menatap bingung ketiganya.
“Iya ada apa?” tanyanya bingung membuat ketiganya menghembuskan nafas panjang.
“Nanti kita kumpul di rumah lo,” jawab Jennie.
“Sekitar jam tiga sore bagiamana?” usul Dewi.
“Boleh.”
“Oke, gue tunggu kalian di rumah. Sekarang, gue balik duluan ya! Adik gue minta jemput di sekolahnya. Bye!” Mocha langsung bergegas keluar dari kantin meninggalkan ketiga temannya yang masih menatap ke pergiannya. Mereka terlihat tak bersemangat ketika Mocha muram seperti itu, mereka ingin Mocha kembali ceria dan melakukan hal-hal konyol yang tak pernah ada habisnya itu.
“Gue kangen Mocha yang dulu,” lirih Jennie.
“Niken juga. Niken tidak suka lihat Mocha menjadi murung seperti itu,” sambung Niken.
“Iya, kita harus bisa membuat Mocha kembali lagi!” seru Dewi yang di angguki ketiganya. Mereka pun ikut meninggalkan kantin untuk pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Saat Mocha berjalan di parkiran dengan menatap ke arah depan, dirinya tak sengaja melihat Noah bersama kedua temannya sedang bercanda di atas motor mereka masing-masing. Dengan memberanikan diri Mocha terus melangkah dan melewati mereka bertiga. Dirinya berpura-pura memainkan ponselnya, agar tidak menyedihkan.
“Gue rindu suara lo,” gumam Mocha.
“Gue rindu wajah konyol dan seram lo,” lirih Noah yang terus menatap Mocha dengan tatapan sedihnya. Dirinya harus bisa bertahan untuk beberapa waktu dulu, karena dirinya dan sang kakak sudah menyiapkan segalanya. Noah yakin, ini akan berhasil dan dia akan bersama dengan Mocha, perempuan yang sangat di cintainya.
“Hatiku bukan untuk orang sembarang orang. Tanpamu, aku tidak bisa hidup. Setiap melihat senyummu aku akan tersenyum dan setiap melihat air matamu aku juga menangis. Aku cinta mati padamu, jangan pernah meragukan perasaanku yang sudah terlalu dalam dan bisa membuatku mati bila harus kehilanganmu. Sungguh, aku mencintaimu hingga nafas berhenti. Aku rela memberikan segalanya untukmu,” Noah terdiam.
“Baguskan kata-kata gue?” tanya Daniel yang mengatakan kalimat panjang tersebut membuat Noah terdiam dengan terus menatap mobil Mocha yang baru lewat di hadapannya.
“Lo bego! Noah kan jadi galau lagi!” kesal Vernon dengan memukul kepala Daniel yang hanya menampilkan cengirannya yang sangat lebar.
“Ya…kan gue gak sengaja,” balas Daniel membuat Vernon semakin geram.
“Kalian bilang Mocha dan teman-temannya akan makan-makan di Kafe tempat kalian bekerja kan?” tanya Noah membuat perdebatan Vernon dan Daniel terhenti.
“Iya, nanti sore. Kata Jennie sekitar jam empat,” jawab Daniel membuat Noah tersenyum mendengarnya. Kedua temannya menatap Noah dengan tatapan takut.
“Ver! Jangan-jangan Noah mulai gila sekarang? Kok gue jadi takut ya?” bisik Daniel kepada Vernon yang berada di sebelahnya.
“Iya, gue mulai takut sekarang,” jawab Vernon.
“Ck! Kalian ini bodoh sekali! Gue bisa dengar!” decak Noah yang tak habis pikir dengan kebodohan yang di miliki kedua temannya ini. Dia saja tidak tahu kenapa.bisa bertahan bersama mereka? Padahal, jelas-jelas otak mereka tidak berfungsi.
“Gue minta bantuan kalian berdua!” seru Noah tiba-tiba dengan nada tegasnya. Kalau sudah begini, mereka berdua tidak bisa menolaknya. Apalagi Noah adalah seorang pangeran yang di takuti di tempat mereka, semua orang pada tunduk padanya, bahkan kepala sekolah.
“Iya kami akan membatu,” jawab kompak keduanya membuat Noah tersenyum senang mendengarnya, dirinya tidak sabar untuk menjalan semua rencana yang tersimpan di otaknya.
“Bagus! Gue akan hubungi kalian nanti siang. Jangan pernah abaikan pesan dari gue!” ancam Noah sebelum pergi meninggalkan mereka yang mulai ketakutan.
__ADS_1
“Sangat menyeramkan,” ujar Daniel yang di setujui oleh Vernon.