
“Kita tidak dapat mempercayai siapapun di sekolah! Aku merasa kita tidak mengenali sekolah kita. Terlalu banyak teka-teki yang membuatku semakin bingung dansemuanya seolah tunduk kepada Noah. Seakan-akan dia adalah pemegang kendalinya,” ujar Mocha saat mereka berkumpul di kamar Jennie, kenapa Jennie? Agar mereka bisa makan enak dan gratis. Semua jenis makanan bisa di pesan dan dalam beberapa menit sudah tersedia, itu lah bedanya orang kaya yang punya banyak chef di dalam rumahnya. Tidak seperti rumah Mocha, hanya ada satu asisten rumah tangga dan itu pun tidak bekerja dua puluh empat jam, hanya pagi sampai sore saja.
“Iya, semua yang kita ketahui itu belum tentu kebenarannya. Tapi, kenapa baru sekarang kita merasakan hal itu? Padahal selama dua tahun lebih kita merasa biasa saja?” tanya Jennie sambil memakan buah kiwi yang di letakkan di piring emas dan berlian. Orang kaya mah serba beda.
“Itu, karena kita terlalu fokus sama target sebelumnya dan tidak menyadari sesuatu yang aneh di sekitar,” jawab Dewi yang di setujui Mocha.
“Iya, Niken juga merasa semua guru di sekolah kalau berpapasan dengan Noah, pasti menundukkan kepalanya,” ujar Niken membuat semuanya menatapnya.
“Kapan lo lihat itu?” tanya Mocha yang mendekatkan tubuhnya ke arah Niken.
“Sudah seminggu ini Niken perhatiin mereka begitu semua, tapi tidak terlalu menunduk, seperti memberi salam,” jawab Niken membuat Mocha menganalisinya.
“Jadi, benar dugaan gue!” seru Mocha dengan suara lantangnya di telinga Jennie, lagi-lagi Jennie terkenal sial dan Mocha hanya menyengir lebar menatap polos ke arah Jennie yang mendelik ke arahnya. Mocha membenarkan duduknya dan merea bertiga menunggu Mocha untuk berbicara.
“Gue rasa Noah itu bukan orang biasa,” jelas Mocha membuat Niken mendelik, dia merapatkan tubuhnya ke arah Dewi yang langsung di dorong oleh Dewi. Niken mengerucutkan bibirnya kesal, Dewi memang seperti itu, selalu tidak ingin dia dekati. Padahal dia tidak bau dan sangat harum.
“Maksud Mocha? Noah itu hantu?” tanya Niken dengan mata membulat sempurna membuat wajah polosnya semakin imut dan membuat Mocha gemas ingin mencubit-cubit wajahnya. Tapi, dia urungkan saat Dewi mendesaknya dengan mentapnya tanpa kedip.
“Iya-iya, gue rasa Noah itu orang yang istimewa,” jawab Mocha membuat mereka bertiga semakin tidak mengerti, Mocha menghela nafas dan menyuruh mereka lebih dekat lagi. Ini adalah sebuah rahasia besar dan tidak boleh ada yang mendengarnya. Dewi, Niken dan Jennie masih menunggu Mocha yang tak kunjung berbicara sampai
__ADS_1
dua menit lamanya.
“Lo mau ngomongin apaan sih? Dari tadi kita nunggu lo gak ngomong-ngomong!” kesal Jennie yang akhirnya menjauhkan tubuhnya dan memilih kembali menikmati buah kiwi.
“Yah, malah ngambek! Ini tuh rahasia dan gak boleh ada yang dengar!” seru Mocha membuat Dewi memutar bola matanya jengah, padahal hanya ada mereka berempat dan dari tadi mereka sudah membahasnya. Kenapa baru sekarang mereka ngomongnya berbisik begini, bukannya dari tadi.
“Awas aja kalau yang lo omongin gak guna! Gue lelepin lo di kolam lele punya bokap lo!” ancam Dewi yang di balas kekehan dari Mocha.
“Para lele Papa gue sudah jinak sama gue, secara gue kan kakak mereka!” titah Mocha membuat Dewi mendengus dan melepar bantal yang di pegangnya ke arah Mocha, tapi lagi-lagi Jennie yang menjadi tempat bantal itu mendarat. Mocha menahan tawanya melihat penderitaan Jennie yang tidak ada habisnya, mungkin ini adalah salah satu balan Jennie yang sering menggibah di sekolah.
“Oke! Saatnya kembali serius. Jadi, istimewa yang gue maksud itu dia bukan orang biasa seperti kita. Di—,” perkataan Mocha langsung di potong oleh Jennie.
“Iya-iya orang kaya mah beda!” seru Dewi membuat Jennie mengibaskan rambut panjangnya dan mengenai wajah Niken.
“Harum! Rambut Jennie sangat harum, Niken mau dong!” seru Niken semangat dan Jennie melangkah mengambil tiga botol shampo yang Mocha yakini tidak di jual di Indonesia.
“Ini gratis untuk kalian semua!” seru jennie sambil menaruh botol shampo di depan mereka.
“Lanjut gak nih?” tanya Mocha yang mulai jengah dan ingin rebahan.
__ADS_1
“Oke, next!”
“Gue rasa dia atau orang tuanya punya kekuasaan atau semacamnya dan itu ada hubungannya sama sekolah kita. Kalian tahu kan pemilik sekolah kita katanya, katanya lho bukan sembarang orang. Bisa jadi dia keluarga presiden, mentri, dpr atau semacamnya. Gue juga gak paham juga. Jadi, kita harus menanyakan ini kepada bos. Minimal kita tahu nama orang tuanya deh,” ujar Mocha membuat mereka bertiga menganggukkan kepalanya. Niken langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi bos mereka, Mocha berharap ini akan memudahkan misi mereka.
“Gimana?” tanya Mocha saat Niken menutup panggilannya.
“Kata bos, dia tidak bisa memberitahu kita. Soalnya mereka minta identitas mereka tidak di sebarkan, jadi sesuai prosedur bos tidak bisa mengatakannya,” jelas Niken membuat Mocha mendelik dan merebahkan tubuhnya, punggungnya begitu sakit dan dia merasa sudah tua saja.
“Oke, kita cari sendiri!” tegas Mocha sambil menatap langit kamar Jennie.
***
Agen mochi rela datang pagi-pagi ke sekolah untuk mencari bukti lagi, mereka berniat untuk mencari bioadata ketiga target mereka di ruang tata usaha, lebih tepatnya di administrasi para siswa. Mereka manatap sekolah yang masih gelap, karena ini memang masih pukul empat pagi. Bahkan Jennie sedang terlelap dengan bahu Niken sebagai sandarannya, Mocha juga terus-terusan menguap. Tidak biasanya dia bangun sepagi ini, beda dengan Niken dan Dewi yang terlihat bugar.
“Ayo sekarang sebelum ada yang datang!” seru Mocha melangkah di koridor sekolah, mereka menatap pintu tata usaha yang masih di kunci. Dewi mulai beraksi dengan membuka kunci pintu dengan keahliannya, sedangkan Mocha menyandarkan tubuhnya di tembok pinggir pintu.
“Masuk!” seru Dewi yang sudah masuk duluan, Mocha langsung bergegas ke arah rak-rak yang berisi data para siswa di sini. Dia mencari di bagian IPA kelas dua belas. Dewi mengelilingi ruangan dan mencari sesuatu yang bisa di manfaatkan untuk misi mereka, Jennie berjaga di dekat pintu dan Niken membantu Mocha yang sedang mencari kelas Noah, dia lupa Noah kelas IPA apa.
“Ini!” seru Niken memberikan data siswa kelas Noah. Mocha tersenyum senang dan dia mulai membuka buku tebal tersebut.
__ADS_1
“Kalian sedang apa di sini pagi-pagi?” tanya seseorang membuat buku yang berada di tangan Mocha terjatuh dan semuanya membeku di tempat. Termasuk Jennie yang tadinya tidur dengan menyender di tembok kini matanya terbuka sempurna saat mendengar suara yang sangat familier di telinga mereka.