
Mocha menunggu ketiga rekannya di gazebo belakang rumahnya, sekarang hari sabtu dan mereka libur sekolah. Mocha menguhubungi agen mochi untuk membicarakan tentang kejadian malam tadi malam dan akan mendiskusikan rencana apa yang akan di lakukan selanjutnya oleh agen mochi. Molen yang berisi pisang menjadi teman santai Mocha di gazebo, adiknya memang sering ke pasar pagi-pagi untuk jalan-jalan sekaligus membeli makanan kecil, seperti molen itu. Tapi, sekarang adiknya itu akan bermain game bersama teman-teman sekolahnya, nanti siang dia akan pulang untuk makan dan kembali lagi setelah perutnya kenyang.
“Hah, mereka kemana dulu sih? Lama banget!” kesal Mocha yang mulai bosan menunggu agen mochi, molennya sudah tandas beserta beberapa bungkus kripik kesukaannya.
“Jadi, lapar lagi kan?” Mocha memilih kembali masuk ke dalam rumah untuk mencari sesuatu yang dapat di makan olehnya. Dia masih lapar setelah menghabiskan sepiring penuh nasi goreng buatan mamanya dan jajanan yang di belikan adiknya, dia belum merasa kenyang.
“Kakak ngapain?” tanya mama Mocha mengagetkan Mocha yang sedang mencari sesuatu di tempat biasa mamanya menyimpan lauk untuk di makan.
“Hehe, Mocha masih lapar, Ma,” jawab Mocha membuat mamanya menggelengkan kepalanya.
“Makan banyak, tapi badannya tetap terus. Kalau habis makan itu jangan di buang di jamban, tunggu jadi daging dulu biar badannya gak kurus kayak gitu,” omel mamanya membuat Mocha cemberut, siapa juga yang ingin langsung mengeluarkannya di jamban. Itu adalah hal alami yang selalu terjadi padanya setelah selesai makan harus wajib setoran juga. Jadi, nasi atau makanan yang habis di lahapnya hanya numpang lewat sebentar di perutnya.
“Mama ngomongin Papa ya?” suara papa Mocha mulai terdengar, terlihat papanya itu baru selesai membersihkan kolam lele dan ada beberapa lele di sebuah wadah kecil yang di pegangnya.
“Ya, ini kenapa pencernaan Mocha sama persis kayak Papa. Habis makan harus di keluarin lagi,” jawab mama Mocha membuat Mocha dan papanya saling bersitatap dan sama-sama cemberut.
“Ma, jijik tahu. Agra lagi makan ini!” kesal Agra yang di abaikan keberadaannya, Mocha menahan tawanya saat melihat wajah memerah adiknya itu. Agra tidak seperti dirinya yang tidak pernah merasa jijik dengan hal seperti itu kalau hanya mendengarnya, kecuali melihatnya secara langsung.
“Kamu kenapa makan lagi?” tanya mamanya saat mengetahui Agra kembali makan, padahal dia sudah menghabiskan dua piring nasi goreng tadi.
“Ya elah, Agra kan kelaparan Ma,” jawab Agra kembali melahap makanannya.
“Tadi nasigoreng itu apa? Kemana perginya?” tanya mamanya yang sudah selesai dengan sepiring nasi lengkap dengan lauk yang sama persis dengan yang di makan Agra. Mocha langsung mengambil alih piring tersebut dan melangkah ke arah adiknya untuk kembali makan.
“Papa juga lapar, habis nguras kolam,” ujar papa Mocha sambil mengusap perutnya, mama Mocha menatap suami dan kedua anaknya dengan tatapan datarnya.
__ADS_1
“Nih,” mama Mocha meletakkan sepiring nasi dengan lauk lengkap di depan suaminya, lalu beliau duduk di sebelah Mocha sambil membawa piring juga.
“Mama makan juga?” tanya Mocha sambil mengunyah makanannya.
“Kalian pada makan lagi, masa Mama gak ikutan. Rugi dong,” balas mamanya. Keluarga Mocha memang selalu begini, setiap ada satu orang yang kembali makan maka semuanya akan ikut makan meski pun sudah makan. Apalagi Agra yang paling banyak menghabiskan beras dan lauk, badannya saja sudah melebihi Mocha dan Mocha tidak bisa menggendongnya seperti dulu kala. Bahkan, wajah imut Agra sudah berubah dan membuat Mocha tidak begitu gemas, kecuali perut Agra yang sedikit membuncit membuat Mocha sering menggodanya dan menggigitnya sampai mengagetkannya. Alhasil, mereka akan bertengkar dan berakhir Agra akan menangis kencang, sedangkan Mocha memilih kabue sebelum di marahi oleh mamanya.
“ASSALAMUAIKUM, MAMA, PAPA DEDEK AGRA!” teriak Jennie dan Niken menggelegar di dalam rumah Mocha, mereka memang terbiasa bar-bar jika bertamu di rumahnya.
“WAALAIKUMSALAM!” balas mama Mocha tak kalah kencang membuat Mocha terkejut dan melepar ponselnya sampai tergeletak mengenaskan di lantai.
“Ini anak, main di buang aja! Memangnya kamu punya banyak uang buat belin ponsel baru?” kesal mamanya saat melihat ponsel Mocha tergelak di lantai.
“Coret dari kartu keluarga aja, Ma!” seru Jennie yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Mocha.
“Ah Mocha kesal pengin makan martabak!” seru Mocha langsung mengambil ponselnya.
“Ini gue bawa martabak biasanya,” Jennie mengangkat kantung kresek putih yang terdapat tiga kotak di dalamnya, Mocha hendak mengambilnya tapi keduluan oleh mamanya.
“Mama siapin dulu, sana ke gazebo!” usir mamanya dan Mocha menghentakan kakinya kesal menuju ke arah gazebo di ikuti agen mochi.
“Nih, di habiskan ya!” seru mama Mocha sambil meletakkan martabak yang di bawa Jennie lengkap dengan minumannya juga.
“Makasih, Ma,” ucap kompak agen mochi sebelum mama Mocha kembali masuk.
“Jadi\, tadi malam gue gak sengaja lihat Daniel. Terus gue ikut dia pergi kemana\, ternyata dia pergi ke sebuah klub ***. Gue kaget dong dan gue bingung harus masuk atau pulang aja. Tapi\, setan lewat di samping gue dan bisikin gue harus masuk ke dalam. Ya sudah gue akhirnya masuk dan gue gak kuat di dalam pengap banget dan sesak. Gue cari Daniel dan gue lihat dia di sana bareng sama Vernon\,” Mocha menjeda ucapannya\, dia meneguk air minumnya. Dia sudah haus\, baru kali ini dia berbicara panjang lebar seperti ini\, dia jadi kagum dengan Jennie yang tak kehausan sama sekali.
__ADS_1
“To the point aja! Daripada lo minum terus!” seru Dewi membuat Mocha melebarkan sudut bibirnya, tidak biasanya dia akan bercerita panjang lebar, biasanya langsung ke intinya.
“Noah datang juga ke sana dan mereka minum kalian pasti paham kan? Tapi, Noah gak minum, katanya dia kembali ke rumahnya dan gak mungkin dia mabuk,” jelas Mocha.
“Jadi, apa rencana selanjutnya?” tanya Dewi yang tak sabar.
“Lo mau ke mana sih? Kok ngebet banget gitu?” kesal Jennie.
“Iya, tumben Dewi gitu,” sambung Niken membuat Dewi mendengus.
“Gue kebelet boker!” seru lantang Dewi.
“Oh,” balas ketiganya sambil menganggukan kepalanya.
“Lo mata-matai kemana mereka pergi bersama Niken!” perintah Moche untuk Dewi dan Niken.
“Jennie! Lo punya kenalan yang sering ke klub itu gak?” tanya Mocha kepada Jennie yang mengembangkan senyumnya. Mocha menganggukkan kepalanya.
“Mantan teman gebetan gue yang punya tuh tempat,” jawab Jennie.
“Lo coba tanya informasi tentang target kita ke yang punya itu, pasti dia tahu semua yang di lakukan target kita di sana!” perintah Mocha yang langsung di balas sikap hormat dari Jennie.
“Gak usah tanya gue ngapain!” seru Mocha sebelum mereka bertiga menyakan tugas untuknya sendiri.
“Gue mau ketemu orang yang tahu tentang lencana itu dan pesan gue untuk kalian! Tetap hati-hati dan jangan terlalu gegabah dalam menjalankan misi ini!” lanjut Mocha sebelum Dewi ngacir ke dalam rumahnya, sudah menjadi langganan Dewi setiap datang ke rumahnya pasti mampir ke jamban.
__ADS_1