
Mocha berjalan sendirian di koridor sekolah waktu pulang sudah dua jam yang lalu, ketiga rekannya juga sudah pulang duluan. Mocha menyelesaikan hukuman tambahannya, karena sudah menghasut yang lain melanggar, itu semua gara-gara mulut ember dari Vernon. Rasanya Mocha ingin menyumpal mulut Vernon dengan lele-lele milik papanya.
“Badan gue mati rasa!” Mocha merengakkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku, ini adalah salah satu efek dia malas berolah raga fisik dan hanya mengandalkan olah raga pernafasan saja.
“Sudah selesai?” tanya seseorang tiba-tiba membuat Mocha menghentikan langkahnya dan merasa ketakutan. Sekolah sudah sepi dan tidak ada orang satu pun di sekitarnya, lalu siapa yang berbicara itu? Mocha kembali melangkah dengan cepat dan menggenggam erat tali tasnya. Dia sangat takut dengan makhluk tak kasat mata dan dia tidak ingin bertemu dengan mereka sekali pun dalam hidupnya.
Mocha terus melangkah sampai ke parkiran yang hanya tersisa mobil miliknya, dia melangkah cepat ke arah mobilnya dan tidak memperhatikan batu besar di dekat tiang parkirang. Mocha tersandung batu itu dan membuatnya terjatuh di tanah, Mocha meringis dan merasakan sakit pada pergelangan kakinya, karena terbentur tiang. Dia sudah menduga akan ada bekas keunguan di pergelangan kakinya.
“Lo ngapain di bawah?” tanya seseorang pada Mocha.
“Lagi renang! Gue jatuh!” jawab ketus Mocha kepada orang tersebut, dia masih belum menyadari siapa yang menjadi lawan bicaranya itu. Mocha memegangi kakinya yang terasa terkilir, dia tidak tahu nanti bisa pulang sendiri atau tidak.
__ADS_1
“Suruh siapa lari-lari begitu!” seru orang itu kembali membuat Mocha mendengus.
“Kan gue takut setan, makanya gue lari,” jawab Mocha yang masih belum sadar siapa lawan bicaranya, dia terus meringis merasakan nyeri di kakinya.
“Jadi lo samain gue dengan setan!” protes lawan bicara Mocha dengan menjitak jidat Mocha dan membuat Mocha tersadar. Mocha mengusap bekas jitakan yang menyakitkan itu dan menatap orang yang berjongkok di depannya dengan mata berkaca-kaca. Siapa sangka orang yang menyapanya tadi adalah Noah dan sekarang Noah malah memarahinya, karena merasa derajatnya sudah di rendahkan oleh Mocha dengan makhluk sejenis setan.
“Mana gue tahu kalau tadi itu lo!” ketus Mocha mencoba untuk berdiri, namun dia tidak bisa. Kakinya begitu sakit dan dia merasakan nyeri dua kali lipat dari sebelumnya, belum lagi jidatnya yang masuh perih.
“Gak bisa berdiri?” pertanyaan Noah yang membuat Mocha menahan emosinya, sudah tahu dia kesakitan dan tidak dapat berdiri masih di tanya.
“Sini!” Noah langsung membantu Mocha untuk berdiri dan menarik lengan Mocha untuk merangkul pundaknya, tangan Noah bertengger di pinggang Mocha membuat Mocha reflek melepaskannya dan hampir membuatnya kembali terjatuh sebelum Noah berhasil menangkapnya.
__ADS_1
“Lo mau tetap di sini sampai besok?” tanya Noah yang di balas gelengan cepat oleh Mocha.
“Ya sudah, lo diam aja! Biar gue yang tuntun lo!” seru Noah kembali merangkul pinggang Mocha dan menuntunnya ke arah mobil Mocha, Mocha menyerahkan kunci mobilnya kepada Noah dan Noah membuka pintu belakang, dia menuntun Mocha untuk duduk di jok belakang dan menarik kaki Mocha yang terkilir. Noah membuka sepatu dan kaos kaki Mocha, dia memijat pergelangan kaki Mocha yang terkilir membuat Mocha reflek menarik rambut Noah, karena kesakitan.
“Coba gerakin kaki lo!” perintah Noah yang langsung di lakukan Mocha, pergelangan kakinya tidak sesakit tadi dan dirinya sudah bisa berdiri, Mocha tersenyum dan meringis saat melihat rambut Noah yang berantakan. Dia begitu kuat menarik rambut Noah dan di tangannya juga terdapat beberapa helai rambut Noah.
“Makasih, untuk rambut lo gue minta maaf,” cicit Mocha untuk kalimat terakhirnya.
“Lo kira ucapan terimakasih dan maaf bisa ngurangi sakit kepala gue? Lo harus bayar!” bisik Noah membuat Mocha mengerjap mendengar suara indah Noah.
“Gue gak punya uang, yang gue punya hanya dua ginjal yang berharga,” jawab Mocha dengan wajah melasnya membuat Noah tertawa kencang, Mocha terdiam menikmati tawa yang mengalun indah itu. Dia sangat menyukai suara Noah, ingat hanya suaranya bukan orangnya! Kalau orangnya tidak tahu ke depannya dia akan menyukainya juga atau tidak.
__ADS_1
“Lo gemasin juga ternyata,” ucap Noah membuat pipi Mocha merona, astaga ada apa dengan Mocha kali ini? Kenapa sekarang jantungnya berdebar? Apa ini efek dari dia takut setan tadi? Mungkin saja, dia sangat takut dengan makhluk yang bernama setan.
“Bayarnya lo traktir gue makan! Sekarang gue yang nyetir dan lo masuk!” Noah mendorong Mocha untuk masuk ke dalam mobil Mocha, Mocha nurut saja masuk dan duduk di jok depan. Noah duduk di kursi pengemudi dan mulai menyalakan mobil. Mereka meninggalkan parkiran dan pikiran Mocha masih belum kembali, dia tidak sadar Noah membawanya pergi.