Agen Mochi

Agen Mochi
40


__ADS_3

“Di mana Mocha? Kenapa dia tidak ada di sini? Mobil gue juga masih belum ke buka,” Noah mencari Mocha yang tidak ada setelah dirinya kembali membawa dompetnya. Kaki Noah terhenti, ketika dia tidak sengaja menginjak sesuatu yang tidak asing dengannya. Dengan cepat dia mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di bawah.


“Ini kunci mobil gue? Berarti Mocha? Astaga! Jangan-jangan Mocha dalam bahaya. Mereka sungguh keterlaluan!” Noah langsung memasuki mobilnya dan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Wajahnya terlihat memerah, karena dia sedang menahan emosinya. Dia sudah tahu di mana keberadaan Mocha yang sekarang dalam bahaya.


“Semoga kamu baik-baik saja, sayang,” gumam Noah yang terus menatap ke arah jalanan. Dia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan kepada Mocha, orang yang sangat di cintainya. Apa pun akan Noah lakukan untuk menyelamat Mocha, meskipun dirinya akan membangkang nantinya.


Sedangkan di suatu tempat yang sangat asing, Mocha masih tidak sadarkan diri. Dia berbaring di atas tempat tidur yang begitu luas dan empuk, sehingga dirinya merasa nyaman dan enggan untuk membuka kedua matanya yang masih terasa berat itu. Mocha sudah terbangun sekitar dua menit yang lalu, namun posisi yang membuatnya


nyaman itu tidak membuat dirinya ingin membuka kedua matanya dan melihat keberadaannya saat ini.


“Nyamannya, di rumah tidak ada kasur yang seempuk ini. Seperti bulu-bulu yang sangat lembut, bahkan badanku terasa seperti di pijat,” gumam Mocha merubah posisi tidurnya.


“Eh…gue di mana ya? Perasaan tadi ada yang kasih gue bisa dan pingsan,” Mocha akhirnya tersadar. Kini, dia mulai beranjak dari tempat nyaman itu menyusuri sebuah kamar yang sangat luas dengan nuansa putih dan krem.


“Rapi dan harum, luas dan mewah!” kagum Mocha menyusuri kamar yang luasnya seperti ruang tamu di rumahnya. Tatapan Mocha terhenti pada sbeuah foto yang tertempel di dinding kamar tersebut. Dia mendekati foto tersebut dan mengamatinya.

__ADS_1


“Bukankah foto ini? Pantas saja, bau ruangan ini tidak asing,” Mocha tersenyum kecut dan menatap foto tersebut dengan tatapan kosong. Dia sangat benci dengan situasi ini, dia ingin keluar. Namun, dia tahu kalau tidak mudah untuk keluar dari sini. Melihat begitu canggihnya teknologi yang ada di kamar ini membuatnya yakin, bahwa di seluruh rumah ini tidak beda jauh.


“Kau sudah bangun ternyata,” suara seseorang yang terdengar begitu tegas dan dewasa membuat Mocha membalikkan tubuhnya. Dia menatap dua orang yang dia yakini adalah sepasang suami-istri yang kini menatap dirinya dengan datar.


“Di mana aku? Kenapa kalian menculikku?” tanya Mocha dengan melangkah mendekati mereka. Dia tidak mau menatap orang yang lebih tua darinya dengan tatapan tajam atau semacamnya, jadi dia hanya menatap mereka biasa saja. Namun, tak ada senyum di wajahnya.


“Kau memang sangat cantik. Pantas saja putraku selalu menyimpan foto-fotomu,” jelas sang wanita yang kini tersenyum kepada Mocha, bukan senyuman ramah atau pun  manis. Melainkan senyuman yang sangat memuakkan. Cukup banyak dirinya bertemu dengan jenis orang-orang seperti di hadapannya ini. Cukup mudah untuknya tidak memasukkan semua omongan mereka, dia akan mengabaikannya dan memilih pergi menjauh.


“Tetapi, kasta yang kau milik jauh di bawah kami! Untuk itu menjauhlah dari putra kami dan kami akan memberimu uang yang banyak,” lanjut sang lelaki. Mocha menundukkan kepalanya dan tangannya terkepal kuat. Dia mencoba untuk tidak mengeluarkan segala emosi atau pun kemampuan yang di miliki olehnya.


“Berani sekali kau berkata seperti itu kepadaku!” marahnya yang hendak menampar Mocha, namun ada sebuah tangan yang menahannya. Sehingga semua tatapan kini beralih menuju ke si pemilik tangan tersebut.


“Ayahanda tidak berhak menampar pacarku!” seru Noah kepada lelaki tersebut yang ternyata ayahnya. Mocha tidak begitu terkejut mendengar itu semua, karena dia tahu wajah Noah berasal dari siapa.


“Kau berani membantah Ayah?” tanyanya dengan sangat marah. Noah melepaskan tangannya dan beralih menggenggam tangan Mocha, namun dengan cepat Mocha langsung menghindarinya. Noah menatap Mocha dengan tatapan bersalah dan menyesal.

__ADS_1


“Ayahanda tidak pernah memikirkan perasaan Noah! Noah selalu patuh dengan aturan yang ada, pergerakan Noah selalu di batasi dan Noah tidak boleh mencintai perempuan yang kastanya berbeda. Apakah kalian tahu? Bukan hanya hati Mocha yang sakit mendengar hinaan kalian! Noah juga, karena Noah pernah merasakan betapa hangatnya keluarga Mocha memperlakukan Noah yang bukan siapa-siapa mereka,” mata Noah mulai memerah.


“Kami lakukan itu demi kebaikanmu dan kebahagiaanmu Noah! Kami tidak ingin kau hidup menderita dan meninggalkan semua yang kau miliki dengan memilih perempuan ini. Posisimu akan terancam dan kau akan menderita putraku! Kami pergi ke tempat ini hanya untuk sementara saja,” jelas ibu Noah.


“Dengarkan kami Noah! Perempuan ini tidak cocok denganmu. Keluarganya sangat rendah dan tidak pantas untuk bersanding dengan keluarga kita. Keluarga kerajaan, kau tahu kan? bahwa putra mahkota harus menikah dengan seorang putri dari kerajaan? Jadi, kami ingn kau memutuskan hubunganmu dengan perempuan dari kasta rendah,”


Mocha terdiam bukan, karena dirinya tidak mampu untuk melawan. Dirinya hanya ingin mengetahui semuanya, baru dia akan berbicara dan pergi dari tempat yang tak layak ini.


“Apakah kalian sudah selesai menghina keluargaku? Saya tidak akan marah ketika kalian menghinaku. Tetapi, saya tidak akan membiarkan kalian menghina keluargaku.” Mocha sudah tidak memikirkan ke sopanan untuk sekarang ini. Dia sudah berdiri tepat di hadapan kedua orang tua Noah dan menatap tajam mereka.


“Beraninya kau menatap seorang raja seperti itu!” marahnya membuat Mocha tersenyum kecil. Dia langsung berdecih untuk membuat raja dan ratu kesal dengan tingkahnya.


“Kenapa saya harus takut? Saya hanya takut kepada Tuhanku. Dialah yang pantas saya takuti. Semua manusia di bumi ini akan mati, setelah mati tidak akan banyak yang mengingatnya lagi. Tahta, jabatan, uang dan gelar semuanya akan musnah! Saya tidak akan takut untuk melawan orang-orang yang menghina keluargaku. Saya rela mati asalkan mereka tidak menderita sedikit pun. Karena, setiap orang akan merasakan apa itu kematian,” suara Mocha terdengar tenang. Namun, dapat membuat kedua orang di hadapannya bungkam.


“Saya permisi dan selesaikan urusan kalian!” Mocha keluar dari sana menyisakan kebisuan di antara ketiga orang di dalam.

__ADS_1


__ADS_2