
“Sepertinya ada acara ulang tahun di sini, Niken rasa Kafe-nya sudah di sewa,” ujar Niken ketika mereka berempat memasuki Kafe yang sudah di dekor dengan bunga-bunga di setiap sudutnya, meja dan kursinya berwarna sama dengan bunga mawar merah.
“Iya, sangat indah,” sambung Mocha yang kagum dengan interior dan desain Kafe ini. Padahal, warna sebelumnya krem dengan beberapa warna pastel lainnya sehingga terlihat begitu elegan. Namun, sekarang lebih terkesan romantis dan sangat indah. Mereka beremoat terus menatap isi Kafe tanpa menutupi rasa kagum yang mereka rasakan.
“Gue gak yakin ini Kafe Uncle!” seru
Jennie yang menanyakan keberadaan unclenya kepada pelayan Kafe yang sempat melintas. Namun, mereka mengatakan kalau beliau tidak ada di Kafe. Mereka mulai merasa aneh, karena tidak ada pengunjung yang datang hanya ada mereka berempat yang terlihat kebingungan berada di tempat tersebut.
“Gue.rasa ada yang tidak beres!” semuanya menyetujui ucapan Dewi.
“Kalian sudah datang?” suara seseorang membuat keempatnya kompak menoleh ke arah sumber suara, di sana terdapat Daniel dan Vernon dengan pakaian santai mereka, bukan seragam kerja mereka. Hal ini semakin membuat Mocha merasa tidak beres dengan pemanpilan mereka.
“Ada apa di sini? Kenapa tidak ada pengunjung dan dekorasi ini?” tanya Mocha yang berdiri di hadapan mereka berdua. Mocha melihat laki-laki di hadapannya ini terlihat menyembunyikan sesuatu, sehingga dia mencondongkan wajahnya untuk melihat jelas mereka.
“Lo jangan dekat-dekat!” Vernon mendorong wajah Mocha untuk menjauh.
“Katakan ada apa ini? Pasti ada yang kalian sebunyiin!” tuduh Mocha yang membuat mereka berdua gelagapan. Mereka merasa kebingungan dengan situasi mereka yang serba salah.
“I—itu kita tidak tahu apa-apa, ya kan?” tanya Daniel dengan menyenggol lengan Vernon membuatnya cukup terkejut.
“I—iya, kita tidak tahu apa-apa,” jawabnya dengan suara yang sangat ketara ketakutan dan gugup. Mocha semakin menajamkan tatapannya membuat mereka berdua mengeluarkan keringat dingin, mereka terlihat begitu gelisah dan ingin segera pergi dari hadapan Mocha.
Hoohoo… yeah…
Semua langsung terdiam, apalagi Mocha yang sangat tahu suara tersebut, mereka semua mengalihkan pandangannya ke arah panggung kecil yang terdapat seorang laki-laki memegang gitar dengan tatapan menuju ke arah Mocha yang hanya terdiam menatapnya.
*Please don’t see…
Just a boy caught up in dreams and fantasies…
Please see me…
__ADS_1
Reaching out for someone I can’t see
Take my hand, let’s see where we wake up tomorrow
Best laid plans sometimess are just a one night stand
I’ll be damned, Cupid’s demanding back his arrow
So let’s get drunk on our tears and
God, tell us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning, but are we all lost stars, trying to light up the dark
Who are we? Just a spec of dust whitin the galaxy
Don’t you dare let our best memories bring you sorrow
Yesterday I saw a lion kiss a deer
Turn the page maybe we’ll find a brand new ending
Where we’re dancing in our tears and
God, tell us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning, but are we all lost stars, trying to light up the dark*
__ADS_1
Woohooho…
*I thought I saw you out there crying, ooh
And I tought I heard you call my name, yeah
And I tought I heard you out there crying, oh
Just a same, oh, yeah*
But are we all lost stars, trying to light up the dark
But are we all lost stars, trying to light up the dark
Semua yang di sana menikmati alunan musik dan suara yang sangat indah itu, Mocha tak dapat menahan air matanya. Dia segera keluar dari sana membuat semuanya panik. Saat ketiga temannya ingin menyusul dengan cepat di tahan oleh Daniel dan Vernon.
“Maafkan aku, kamu menangis gara-gara aku,” seseorang memeluknya dari belakang membuat Mocha langsung terdiam seketika. Tangisannya semakin kencang dan tubuhnya mulai bergetar, dia merasakan pelukannya semakin mengerat.
Setelah cukup lama Mocha menangis, kini dia duduk di kursi taman. Keduanya terlihat canggung satu sama lain, sehingga saat mereka ingin menoleh tak sengaja mereka sama-sama bertatapan. Sehingga mereka menjadi semakin canggung.
“Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu,” ucapnya dengan sangat lembut membuat Mocha langsung menatap ke arahnya. Sekilas dia melihat tatapan rindu terpancar di tatapan tajamnya itu. Dia menggenggam tangan Mocha sangat erat dan membawanya menuju dadanya di mana Mocha dapat merasakan detak jantungnya sama dengannya.
“N—Noah,” Mocha hendak menarik tangannya, namun Noah menggenggamnya sangat erat. Membuat hati Mocha terasa sakit, dirinya juga tidak ingin melepaskan tangan hangat itu.
“Lagu itu aku persembahkan untukmu, di mana aku akan kehilangan bintangku kalau kamu tidak di sisiku. Aku tidak ingin melepaskanmu, aku ingin kita kembali bersama. Aku bisa menentang kedua orang tuaku untukmu,” Mocha menahan ucapan Noah.
“Kamu tidak boleh menentang mereka! Bagaimana pun mereka adalah orang tuamu. Kamu tidak perlu membantahnya dengan keras, lakukanlah dengan lembut dan tulus. Aku yakin, semua orang memiliki sisi lembut, begitu pun dengan mereka. Aku yakin mereka akan berubah cepat atau lambat. Karena, semua itu butuh proses. Kamu harus sering-sering bersama mereka dan menceritakan bagaimana hari-harimu kepada mereka. Perlihatkanlah sisimu yang begitu menyayangi dan menghormati mereka,” Mocha menjeda kalimatnya.
“Kalau mereka salah jalan, kamu bisa membawa mereka menuju jalan yang benar. Tuntun mereka dengan perlahan dan buat mereka sadar dengan sisi lembutmu. Jangan pernah mencela sebelum mereka selesai berbicara, setelah mereka selesai. Kamu bisa mengeluarkan pendapatmu dan tutupi emosimu, aku yakin dengan perubahan dan ketulusan dari hatimu. Mereka akan mengerti,” Noah langsung memeluk Mocha dengan sangat erat, dia sangat merindukan Mocha begitu pun dengan Mocha yang juga merindukannya.
“Aku akan mencoba. Terimakasih sudah membuka jalan pikiranku, aku tidak salah menitipkan hatiku kepadamu. Aku sangat mencintaimu dan tidak akan melepaskanmu, jangan menjauhiku lagi. Aku sangat terluka dengan semua ini,” ujar Noah dengan sangat tegas. Mocha hanya mengusap pelan punggung bergetar Noah.
__ADS_1
“Restu.orang tua lebih penting dari segalanya, aku tidak akan menjauhimu. Tetapi, aku tidak bisa menerimamu lagi. Aku tidak ingin membuatmu terluka, kalau suatu saat nanti kita tidak bisa bersatu. Karena, kita tidak tahu siapa takdir yang di tetapkan untuk kita. Aku mencintaimu, tetapi aku tidak bisa memilikimu.”