
“Mereka lagi bahas apaan sih?” Mocha menajamkan pendengarannya dan memicingkan matanya mengintip di celah pintu gudang.
“Level gue sudah dewa, lo pada pasti kalah sama gue!” seru Vernon memamerkan ponselnya kepada Noah dan Daniel.
“Cupu gitu! Lo masih sepuluh level di bawah gue!” Daniel menunjukkan ponselnya kepada Vernon.
“Wah, hebat lo,” puji Vernon setelah melihat ponsel milik Daniel.
“Level kalian masih jauh sama gue yang sudah master,” Noah melepar ponselnya kepada mereka dan mereka langsung melihat isi ponsel Noah.
“Gila! Hebat banget lo!” pekik Vernon dan Daniel bersamaan.
“Mereka lagi ngomongin level apaan sih? Gue kok jadi bingung,” Mocha menggumam dan mencoba untuk menebak-nebak yang di maksud mereka.
“Kita di sini aja! Gue mau naikin level!” Vernon berseru.
“Bolos lagi nih kita?” tanya Daniel.
“Iya, lagian gue bosen lihat papan terus,” sahut Noah.
“Oke, gue tidur aja kalau gitu,” Daniel mengambil posisi di sofa yang lebih panjang dan merebahkan tubuhnya di sana.
“Jadi, mereka sering bolos? Tapi, kenapa tidak ada catatan di BP?” tanya Mocha pada dirinya sendiri. Ponsel Mocha berbunyi, dia lupa mematikan suaranya.
“Siapa?” tanya Noah membuat Mocha panik dan melirik ke berbagai arah.
__ADS_1
“Ah—gue bisa naik ke atap lewat tembok,” Mocha berlari ke arah tembok dan menaikinya, dia berada di atap gudang. Untung saja mereka tidak menemukannya. Mocha mengintip dari atap, ternyata mereka bertiga sedang mencari keberadaannya. Cukup lama mereka mencari keberadaan Mocha, mereka kembali masuk ke dalam gudang dan menutup pintunya.
“Huh, hampir saja,” Mocha mendesah lega dan menyeka keringat di keningnya.
“Gimana caranya gue bisa kabur ini? Masa gue harus nunggu sampai bel istirahat kedua? Itu lama banget, mereka
pasti berjaga-jaga dari dalam gudang. Gue gak bisa langsung turun dan kembali ke kelas! Terus gue harus gimana? Minta bantuan anak-anak gak mungkin, mereka pasti akan ketahuan juga,” Mocha mengacak rambutnya frustasi dan menatap sekitar atap gudang, tatapannya terpaku pada sebuah pintu berwarna hitam mengkilat yang ada di atap gudang.
“Ada ruangan di atap gudang?” Mocha mengeryit bingung dan mendekati pintu itu. Mocha membuka pintu yang ternyata tidak terkunci, kepalanya melongok ke dalam untuk melihat ke dalam, dia terkejut dengan apa yang di lihatnya. Mocha memilih memasuki ruangan itu dan takjub dengan isi yang ada di dalamnya.
“Gila! Ini timezone yang lengkap! Gue gak percaya di sini ada ruangan seperti ini! Ada kulkas, kompor, sofa dan kasur jangan lupa AC yang dingin, eh—ada wifi juga. Gue betah di sini seharian,” Mocha menatap kajub saat menyusuri ruangan ini. Dia mencoba mencari sesuatu yang menunjukkan ruangan ini milik siapa, Mocha tidak menemukan petunjuk apa pun.
“Sebenarnya ini milik siapa? Tidak mungkin kepala sekolah atau guru di sini! Karena, ini ke kinian banget. Figura?” Mocha melihat figura kecil yang ada di dekat televisi, dia mengambil figura itu.
“What? Ini foto si Noah? Berarti ruangan ini punya dia dong? Tapi, gimana dia masuk kesini? Gak mungkin manjat
dan berharap menemukan pintu tersembunyi.
“Kayaknya itu pintu tersembunyinya deh,” Mocha menemukan pintu berwarna hitam dengan tulisan out di atasnya, dia mendekati pintu itu dan ternyata tidak di kunci. Mocha membuka pintu dan pintu itu langsung terbuka menuju ruangan yang tak kalah bagusnya dengan tadi, tapi ruangan ini hanya tersedia kasur dan lemari es.
“Gila-gila, siapa sebenarnya si Noah itu? Pasti dia kaya banget,” Mocha menggelangkan kepalanya dan menuju pintu yang dia yakini adalah pintu keluar. Dia langsung keluar dan melihat ternyata ruangan ini berada di dekat parkiran.
“Ternyata pintu yang gue lihat waktu itu adalah ruangan rahasia ini?” gumam Mocha sambil melangkah keluar dari
parkiran. Dia melangkahkan kakinya menuju ke kelas, dia sudah siap di marahi oleh guru yang mengajarnya saat dia masuk.
__ADS_1
“Jam masuk memangnya kapan?” tanya guru yang mengajar saat Mocha mengetuk pintu.
“Saya sakit perut tadi bu,” alasan Mocha.
“Ya sudah kamu duduk boleh duduk!” suruh guru yang mengajar dan Mocha menuju tempat duduknya setelah mengucapkan terimakasih. Mocha memberi instruksi kepada Niken untuk diam, karena Niken langsung membuka mulut saat dia baru mendudukkan dirinya.
***
“Gue menemukan fakta baru!” seru Mocha saat mereka berada di rumah Jennie untuk membahas rencana mereka besok.
“Apa?” tanya mereka kompak.
“tadi, sehabis gue tanya-tanya ke bu Septa. Gue ngikuti mereka bertiga yang lagi ngebolos,” jelas Mocha.
“Bukannya mereka tidak mempunyai catatan di BP?” tanya Dewi yang di setujui Mocha.
“Iya, mereka memang tidak memiliki catatan. Tapi, mereka bolos di gudang dan itu bukan pertama kalinya mereka
membolos. Terus, ponsel gue bunyi gara-gara notif dari operator. Gue hampir ketahuan oleh mereka dan gue naik tembok untuk bersembunyi di atap gudang. Di atap gue menemukan pintu berwarna hitam yang ternyata menuju ke dalam ruangan yang berisi timezone, dapur, kasur pokoknya lengkap deh. Coba tebak ruangan itu milik siapa?” Mocha menatap mereka satu-persatu.
“Kepala sekolah?” tebakan mereka salah.
“Bukan, tapi Noah. Bahkan pintu ke luar masih menunjukkan ruangan yang tak kalah bagusnya. Dan pintu yang gue
ceritain waktu itu adalah pintu keluar ruangan tersebut,” jelas Mocha membuat mereka terkejut.
__ADS_1
“Kok gue tambah bingung sama mereka, sebenarnya mereka ini siapa?” Jennie frustasi dengan semua yang dia dengar.
“Apa rencana lo?” tanya Dewi yang di balas seringai iblis dari Mocha membuat Niken takut.