
“Au ….” Naya berbisik sambil menyikut pelan Aurora yang duduk di sampingnya.
“Hmmm,” jawab Aurora tanpa memindahkan pusat konsentrasi pada buku yang sedang dibacanya.
“Au ….” Kali ini Naya mencondongkan badannya ke arah Aurora dan menyikut Aurora lebih keras.
“Mmm … apa sih?” Aurora menoleh dengan mimik penuh tanya.
Naya menjawab dengan menggerakkan kepalanya ke arah depan dan melirik meja di seberang. Aurora mengikuti arah lirikan Naya dan mendadak langsung menundukkan kepalanya. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang. “Kak Awan.” Aurora menyebut nama itu dalam hatinya.
Awan Surya Pratama, kakak senior sekaligus asisten dosen di kelas Aurora. Pria yang punya banyak penggemar karena pintar dan sikapnya yang ramah, ditunjang wajah yang nilainya di atas rata-rata. Awan memiliki hidung mancung, mata sedikit sipit yang dibingkai dengan alis tebal, dan bentuk rahang yang tegas. Aurora tertarik pada Awan sejak hari pertama menjejakkan kaki di kampus ini, saat ia harus melewati Awan ketika akan memasuki ruang kelas.
Semakin hari penggemar Awan di kelas Aurora semakin bertambah, Aurora pun menyimpan dalam diam ketertarikannya. Satu-satunya yang mengetahui kalau Aurora tertarik pada Awan hanya Naya, sahabatnya sejak SMA yang kuliah di jurusan yang sama. Naya pernah memergoki Aurora yang memandang Awan tak berkedip saat Awan menjelaskan tugas mata kuliah di depan kelas. Aurora tak bisa mengelak dan mengiyakan Naya saat ia bertanya tepat sasaran tentang perasaannya pada Awan.
--
Awan keluar dari lift sambil membuka kancing jaketnya, menghentikan langkah di depan rak gantung, mengambil hanger, lalu memasukkan jaketnya di bagian yang kosong. Tidak hanya Awan yang membutuhkan jaket hari ini kalau melihat deretan jaket dan mantel pada gantungan yang khusus disediakan di depan lift ini. Hari ini masih awal September, tetapi angin berembus cukup kencang membawa udara dingin meski matahari memancarkan sinarnya.
Awan melangkahkan kakinya berbelok ke kanan, menyusuri lorong, dan melihat beberapa orang dengan berbagai warna kulit berkumpul mengelompok di depan kelas.
“Oh iya, hari ini hari pertama angkatan baru.”
Awan tersenyum mengingat kembali bagaimana senangnya dia waktu pertama kali memulai kuliah di tempat ini. Awan berjalan pelan sambil tetap tersenyum dan menganggukkan kepala pada beberapa orang yang ia lewati dan tak sengaja saling bertatapan. Awan melayangkan pandangannya ke dalam kelas, tersenyum semakin lebar melihat kumpulan orang yang semuanya terlihat berwajah sumringah bahagia.
__ADS_1
Deg.
Pandangannya terhenti pada sosok perempuan berwajah khas Indonesia, berlesung pipi samar, memakai kaus berkerah tinggi berwarna peach, celana jeans, dan sepatu olahraga. Tampilannya sangat segar. Perempuan itu tampak sedang asyik berbincang dengan dua orang perempuan lainnya, yang satu juga berwajah Indonesia sementara satunya berkulit hitam, mungkin dari salah satu negara di Benua Afrika.
“Aurora.” Awan membatin sambil mulai merasakan denyut jantungnya berdetak lebih cepat. Awan seolah tak memercayai penglihatannya dan mencoba melihat kembali dengan lebih jelas. Tak ada perubahan, perempuan yang dilihatnya memang Aurora. “Tak salah lagi, itu Aurora.”
Awan sedikit panik, bergegas meninggalkan tempat itu dan melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Namun, pikirannya seperti terbang tak berjejak.
“Apa iya itu Aurora? Iya bener sih, itu Aurora. Apa dia jadi mahasiswa baru? Apa gak salah? Yah mungkin aja sih dia kuliah ke sini juga. Tapi kok bisa ya? Gimana kalau aku ketemu dia? Dia masih ingat nggak ya?”
Berbagai pertanyaan muncul di kepala Awan hingga tiba di perpustakaan. Awan memilih tempat duduk di sudut yang terlindung oleh deretan rak buku. Perpustakaan ini selalu sepi dan menjadi tempat favorit Awan kala ia harus menyelesaikan tugas-tugasnya.
Hari ini Awan berencana melanjutkan mencari beberapa referensi yang masih diperlukan dan merapikan tulisannya yang harus diserahkan akhir minggu. Awan mengeluarkan laptop dari tas, menyalakannya, lalu terdiam. Ingatan Awan melayang kembali ke 6 tahun yang lalu.
--
Di hari pertama, Awan sudah menemukan sosok tersebut. Mahasiswi ini tidak terlihat menonjol, bukan termasuk nama-nama mahasiswi yang langsung menjadi incaran panitia dan senior lainnya. Namun entah mengapa, sekali lihat, Awan tertarik padanya. Wajahnya selintas terlihat biasa saja, tetapi ketika ia tersenyum, dua buah lesung pipi yang samar di kanan dan kiri membuatnya terlihat sangat manis dan menggemaskan di mata Awan. Semakin diperhatikan, Awan semakin tertarik dan tidak bosan memandangnya. Awan melihat nama gadis itu melalui nametag yang tergantung di leher. Namanya, Aurora.
Saat hari terakhir masa orientasi, Awan menemukan fakta lain yang membuatnya lebih memperhatikan Aurora. Mereka ternyata punya nama lengkap yang sejenis. Namanya Awan Surya Pratama, sementara Aurora bernama lengkap, Aurora Mentari Putri. “Apakah orang tua kami sama-sama menyukai benda-benda langit? Atau kebetulan semata??”
Sejak saat itu Awan selalu berusaha mencari-cari kesempatan dapat melihat Aurora, meski hanya dari jauh. Awan sadar kalau dia cukup populer di jurusannya. Beberapa perempuan, baik teman maupun adik angkatan, terang-terangan menunjukkan pendekatan mereka pada Awan. Namun, gayung tak bersambut. Awan tetaplah pria yang ramah pada siapa saja tanpa pernah menjalin hubungan khusus selama kuliah.
Kali ini, meskipun Awan yang sudah lebih dulu tertarik, dia tak berani melangkah lebih jauh. Awan berpikir Aurora tidak punya ketertarikan padanya. Aurora memang tidak termasuk dalam kumpulan adik angkatan yang selalu mencari-cari Awan, untuk benar-benar asistensi maupun sekadar alasan untuk bisa berdekatan dengannya.
__ADS_1
Alasan lain, Awan sebenarnya takut menjalin hubungan. Ia memikirkan keluarganya. Karenanya, Awan hanya menikmati debaran jantungnya lewat kegiatan mencuri pandang pada Aurora, di ruang kelas, ruang himpunan mahasiswa, kantin, dan perpustakaan. Ia sudah sangat puas dengan itu semua.
“Goedemorgen (selamat pagi), Awan.” Suara seorang perempuan memecah lamunan Awan.
“Goedemorgen, Mbak,” jawab Awan sambil menolehkan kepalanya ke arah perempuan itu.
Mbak Hani, demikian Awan dan teman-teman Indonesia lainnya memanggil pustakawan yang berdarah Indonesia ini. Hani sudah lama menikah dengan pria Belanda dan bekerja di kampus ini meski tinggal di luar kota. Setiap hari dia harus naik kereta selama 20 menit hingga stasiun dan melanjutkan perjalanan ke kampus menggunakan sepeda yang diparkir di stasiun kereta. Kecintaannya pada perpustakaan dan kesempatan untuk berjumpa dengan teman-teman dari Indonesia membuatnya bertahan bekerja di kampus ini meski harus menjadi seorang komuter.
“Sudah ketemu buku yang kamu cari waku itu?” Hani bertanya sambil memindahkan buku dari troli yang dibawanya ke dalam rak.
“Sudah, Mbak. Keselip ternyata, pindah tempat bukan di urutan nomornya, “ jelas Awan.
“Syukurlah. Jauh pasti ya keselipnya, makanya gak langsung ketemu. Emang suka gitu, Wan. Asal simpan saja. Makanya kadang Mbak suka cerewet.” Hani berbicara cepat sambil sedikit memajukan bibirnya.
Awan tertawa pelan melihat mimik wajah Hani. “Biasa lah, Mbak … Ada aja pasti yang begitu.”
Hani selesai memasukkan buku-buku yang baru dikembalikan ke dalam rak di depan Awan.
“Ayo, Wan. Mbak lanjut dulu.”
Hani mulai mendorong troli buku ke deretan rak lainnya.
“Iya Mbak.” Awan tersenyum dan melambai ke arah Hani yang juga dibalas dengan senyuman dan lambaian tangan.
__ADS_1
Awan kembali teringat pada lamunannya tadi dan mulai berpikir, “Lima tahun berlalu ternyata tak mampu menghapus rasa itu. Melihatnya kembali di tempat ini, debar itu masih terasa. Bagaimana ini?”