AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Refleks


__ADS_3

Tanpa terasa sudah hampir satu bulan Aurora dan teman-temannya memulai hidup dan perkuliahan di tempat yang benar-benar baru bagi mereka. Pengalaman hidup pun bertambah, kemampuan berinteraksi dengan teman yang memiliki latar belakang budaya sangat berbeda pun terus diasah.


Memasuki bulan kedua mereka mulai disibukkan dengan tugas-tugas makalah. Sistem perkuliahan di tempat mereka menggunakan sistem blok yang berlangsung selama 2 bulan. Artinya setiap mata kuliah hanya akan dipelajari selama 2 bulan saja dan setiap 2 bulan pula akan berlangsung ujian. Kesibukan kuliah semakin terasa, aura berwisata mulai sedikit menyurut.


Selama dua minggu terakhir, Aurora hanya sempat bertemu dua kali saja dengan Awan. Keduanya pun pertemuan yang tak disengaja. Pertama, mereka bertemu pagi hari saat sama-sama naik lift dari lantai dasar. Mereka hanya saling melemparkan senyuman karena di dalam lift Awan bertegur sapa dan berbincang dengan Iqbal dan Singgih. Kali kedua, mereka tak sengaja bertemu di basement apartemen saat Aurora membuang sampah ke kontainer. Saat Aurora membuka pintu hendak keluar, muncul sosok Awan di depan pintu. Aurora sempat terkejut sehingga kehilangan konsentrasi. Dia hanya mampu menjawab gugup sapaan Awan. Aurora mengutuki kebodohannya yang kehilangan kesempatan dapat berbincang berdua dengan Awan.


Hari Rabu pagi ini Aurora dan teman-temannya tidak ada kuliah, tetapi mereka memutuskan berangkat pagi ke kampus, mulai mencari bahan untuk tugas yang akan dikerjakan. Aurora memilih menyepi di perpustakaan, sementara teman-temannya memilih ruang komputer untuk memanfaatkan fasilitas internet yang ada di sana. Lagi pula, suasana ruang komputer tak sesepi perpustakaan.


Sebelumnya Aurora masuk ke perpustakaan hanya untuk meminjam buku. Ia berkeliling sambil menimbang-nimbang lokasi yang pas untuk duduk mengerjakan tugas dengan tenang. Pilihan akhirnya jatuh pada kursi menghadap dinding yang ada di pojokan, terlindung oleh rak buku. Aurora mengeluarkan laptopnya dan kemudian mulai berselancar mencari bahan yang berkaitan dengan tugasnya.


“Bikin tugas, Au?” Suara Awan tiba-tiba muncul dari keheningan.


Aurora tersentak kaget, tak sadar menjerit pelan, ”Aduh!” Dia mengusap-usap dadanya sambil bernapas cepat.


Melihat reaksi Aurora, Awan pun ikut terkejut tidak menyangka akan mengagetkan Aurora. Refleks tangannya mengusap-usap cepat punggung Aurora berusaha menenangkan, sebagaimana biasa dia lakukan pada adik perempuannya. “Aduh, maaf Au. Kamu kaget ya?”


Di tengah rasa kagetnya, Aurora merasakan kehangatan tangan Awan di punggungnya. Aurora menahan napas. Badannya seketika kaku. Jantungnya melemas hingga dia hampir lupa bernapas.


Menyadari punggung Aurora yang tegang, Awan pun tau kesalahan yang dilakukannya. Cepat dia menarik tangannya dari punggung Aurora dan berucap, “Eh, maaf Au. Maaf… maaf ya... refleks.”


Selesai mengucapkan kata terakhir, Awan kembali menyesal. “Aduuuh, kenapa bilang refleks? Ntar dia mikir yang aneh-aneh gak ya?”


“Ha? Refleks? Apa Kak Awan khawatir sama aku?” Hanya sedetik, Aurora langsung mencoba menyadarkan dirinya kembali ke alam nyata.


Awan menggeser kursi di sebelah Aurora dan duduk di sana. “Lagi bikin tugas, Au? Tugas apa?” Awan memulai pembicaraan setelah melihat Aurora sudah tenang.


“Iya Kak, masih nyari bahan-bahan sih… tugas tentang sistem.”

__ADS_1


“Ooooh… dari Pieter ya?” Awan menebak dosen pemberi tugas.


“Iya, Kak. Dulu kakak ada tugas ini juga?”


“He eh, ada. Sesuai dengan kota masing-masing, atau beda lagi?”


“Kota masing-masing, Kak.”


Perbincangan berlanjut hingga menjadi sebuah diskusi. Aurora merasakan ketegangannya semakin mengendur, berganti dengan semangat bak pejuang di tahun Kemerdekaan. Duduk berdua sambil mendiskusikan tugas kuliahnya, Aurora seolah sedang melakukan asistensi kepada Awan, persis seperti masa kuliah sarjana dulu.


“Ini kayak dapat durian runtuh. Untung ke perpustakaan. Tugas lancar, udah gitu bisa berduaan dengan Kak Awan.” Aurora tersenyum senang. Dia ingin sekali berlama-lama ada di sana.


“Anak ini emang pinter, enak diajak diskusi. Manis, pinter… memang idaman…. Terusin diskusi gitu biar lamaan? Kalo ngomongin kuliah dia kayaknya semangat, gak malu-malu.” Awan mulai berpikir bagaimana caranya agar bisa lebih lama berdua Aurora.


“Kalau kamu pingin diskusiin masalah kuliah, silakan aja lho Au. Aku siap aja jadi teman diskusi. Di sini boleh… di apartemen juga bisa. Feel free aja ya.” Awan menawarkan diri sambil tersenyum lebar.


Awan menjawab singkat, “Siaaap.”


Awan melirik jam tangannya. “Eh, udah siang nih. Makan, yuk. Kamu bawa bekal?”


“Enggak, Kak. Gak masak tadi pagi,” jawab Aurora sambil sedikit menarik bibirnya tersenyum, sedikit malu karena tidak mempersiapkan bekal hari ini.


“Oh ya udah. Ke kantin aja, yuk?” ajak Awan.


“Boleh, Kak. Bareng-bareng temen lain aja ya, mereka di ruang komputer.” Aurora menjawab sambil menutup laptop dan mulai membereskan barang-barangnya.


“Hayuk.”

__ADS_1


Keenam mahasiswa Indonesia terlihat berjalan santai menuju kantin. Matahari bersinar cerah dengan suhu yang cukup dingin bagi warga tropis, mendekati 20 derajat. Selesai mengambil dan membayar makanan masing-masing, mereka duduk berkumpul mengelilingi satu meja. Suasanan kantin sudah ramai karena memang waktunya makan siang. Suara riuh rendah terdengar, campuran antara obrolan berbahasa Belanda, Inggris, dan di meja mereka berbahasa Indonesia.


Obrolan santai sambil makan dengan topik beragam. Salah satunya adalah soal sepeda. Belanda dikenal sebagai negara yang jumlah pengguna sepedanya terbanyak di dunia. Lebih dari 80% warga Belanda punya sepeda, bahkan rata-ratanya mencapai 1,3 sepeda/orang. Artinya ada banyak orang yang punya sepeda lebih dari satu. Pengguna sepeda dapat bersepeda dengan aman karena ada sekitar 35.000 Km jalur khusus sepeda di negara ini. Ini belum termasuk jalan raya yang juga bisa dilalui oleh sepeda.



Sejak kuliah master dulu, Awan memilih menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Lebih terasa tinggal di Belanda, alasannya. Di sisi lain, menggunakan sepeda memang bisa sangat menghemat biaya transportasi, meski sebenarnya perjalanannya lebih banyak dilakukan dari rumah ke kampus dan sebaliknya. Saras, Aurora, dan Singgih juga tertarik ingin menggunakan sepeda sebagai alat transportasi harian. Iqbal dan Lukas memilih naik trem saja, dengan alasan ingin santai.


Untuk memiliki sepeda, tidaklah harus membeli sepeda baru. Toko atau penjual sepeda bekas sangat mudah ditemukan, tapi bengkel atau reparasi sepeda justru langka. Pemilik sepeda harus punya peralatan perbaikan sepeda dan punya kemampuan melakukan perbaikan sederhana. Kalau tidak bisa diperbaiki sendiri seringkali sepeda langsung dibuang. Tak heran ada kelakar di antara mahasiswa Indonesia yang kini disampaikan Awan,”Jangan mancing di sungai, entar dapatnya malah sepeda.”


“Kalau memang mau beli sepeda, nanti aja Sabtu, tapi minggu depan lagi bukan Sabtu ini. Aku temenin ntar ke Blaak. Di sana ada yang jual sepeda bekas. Ntar kalau kalian udah selesai mau balik ke Indonesia, sepedanya jual lagi ke dia. Yang penting kuitansinya jangan hilang.” jelas Awan soal pembelian sepeda. Saras, Aurora, dan Singgih setuju dengan usul Awan dan berjanji akan bersama-sama mencari sepeda minggu depan.


Selesai makan mereka masih duduk berbincang, masih ada waktu sebelum kuliah hari ini dimulai. Awan punya permintaan pada Aurora dan Saras, “Kalian jangan panggil Kakak, dong… berasa masih kuliah sarjana jadinya.” Awan melanjutkan permohonannya sambil tersenyum, ”Panggil nama aja kayak yang lain juga gakpapa.”


Aurora hanya diam, Saras yang menjawab dengan cepat. ”Iiiih… kenapa, Kak? Masak manggil nama aja, kayak gak sopan.”


Awan tertawa dan lanjut berbicara. “Kalau dulu di kampus sih iya, banyak yang manggil kakak. Tapi kalo sekarang, kayaknya aneh aja sih…”


“Ya gak nama doang juga kali, Kak…,“ balas Saras sedikit bernada manja.


“Udaaah… panggil Mas aja,” usul Iqbal.


Saras menjawab sambil telunjuknya menunjuk Iqbal,”Naaaah, bener tuuh. Kami panggil Mas Awan aja ya?” Ia melanjutkan,”Mas Awan….” Saras memberikan penekanan pada kata “mas”, mengerlingkan mata dan menaikkan alisnya diiringi senyum jenaka.


Awan dan yang lainnya tertawa melihat mimik dan tingkah Saras, tapi Aurora hanya tersenyum tipis –sedikit merasa terganggu mendengar nada suara Saras menyebut kata “mas”.


“Yaaaaah, bolehlah itu juga,” kata Awan.

__ADS_1


Tanpa sadar bibirnya tersenyum ketika wajah Aurora yang memanggil dirinya berulang kali dengan sebutan “mas” sambil bermimik menggemaskan terlintas dalam benaknya. “Ya ampun, jatuh cinta emang bikin gila.” Ia pun segera menyadarkan diri.


__ADS_2