
Pukul 07.30 enam mahasiswa Indonesia sudah terlihat berkumpul di Stasiun Rotterdam. Tiket kereta api sudah di tangan, perjalanan mereka akan dimulai. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 40-an menit mereka telah tiba di Stasiun Amsterdam yang dari luar tak tampak seperti sebuah stasiun itu.
Meski pagi hari di hari Sabtu, suasana stasiun sudah terlihat sibuk. Awan dan teman-temannya tak merasa perlu bergegas sehingga mereka benar-benar memanfaatkan waktu yang ada untuk wisata santai. Sambil keluar stasiun tak lupa mereka menyempatkan diri untuk mengambil foto dari berbagai sudut.
Tujuan pertama mereka pagi ini adalah sebuah lingkungan perumahan yang dikenal dengan nama Jordaan. Setiap hari Sabtu ada sebuah jalan di lingkungan ini yang berubah menjadi pasar. Sebenarnya mereka tidak bermaksud berbelanja, tetapi hanya ingin menikmati suasana perumahan dan keriaan di dalamnya. Melewati deretan gedung di sisi kiri dan kanan kanal yang bentuknya sangat khas Eropa, memberi kesan yang berbeda bagi mereka.
Puas melihat-lihat di pasar dan membeli kudapan yang sangat Asia, yaitu lumpia, mereka pun mengarah ke sebuah bangunan rumah. Lokasinya masih di lingkungan perumahan yang sama, rumah ini dikenal sebagai rumah Anne Frank, seorang gadis muda yang terkenal karena menulis buku harian semasa bersembunyi kala Perang Dunia II dan telah dibuatkan filmnya.
Cukup lewat di depannya saja sambil mengambil beberapa foto, mereka pun meneruskan perjalanan dengan jalan kaki hingga mencapai Istana Kerajaan (Royal Palace) yang sampai sekarang kadang kala masih digunakan untuk upacara kerajaan.
Di belakang istana terdapat sebuah lapangan seperti alun-alun dengan tugu yang terletak di tengahnya.
Tempat ini namanya Lapangan Dam (Dam Square) dan tugu peringatan perang tersebut namanya adalah Monumen Nasional.
Tapi jangan bayangkan Monas yang ada di Jakarta.
Aurora dan Saras menyempatkan diri bermain-main dengan merpati yang ada di lapangan ini. Bersama-sama mereka juga terlihat turis-turis dari berbagai negara duduk santai menikmati Lapangan Dam.
Dari lokasi itu mereka kembali berjalan kaki menuju Bloemenmarkt atau Pasar Bunga Terapung. Semua penasaran karena membayangkannya seperti pasar terapung yang ada di Banjarmasin. Ternyata bentuk pasar ini tetaplah seperti kios-kios tetapi lokasinya memang di sisi kanal.
Beragam bunga berwarna-warni serta bibit yang dijual terlihat menarik hati. Saras yang memang menyukai bunga tak henti-hentinya berdecak kagum dan sibuk mendokumentasikan berbagai jenis bunga yang ia lihat. Dia selalu ketinggalan dari teman-temannya karena berhenti hampir di setiap kios yang ada.
Tanpa terasa perjalanan sudah berlangsung selama dua jam. Tujuan mereka berikutnya adalah makan siang sambil bersantai di taman. Tidak lagi berjalan kaki, kali ini mereka menggunakan trem untuk mendekati lokasi taman yang terkenal di Amsterdam, yaitu Taman Vondel (Vondel Park).
Menjelang siang sudah banyak warga lokal dan wisatawan yang menikmati taman ini, sekadar duduk bersantai, naik sepeda, atau berjalan-jalan. Untung masih ada kursi kosong tidak jauh dari jalan setapak yang bisa mereka gunakan untuk beristirahat.
Seperti dikomando, setiap orang langsung membuka tas ransel bawaan masing-masing dan mengeluarkan botol minum. Bunyi air minum yang ditelan cepat pun terdengar.
“Wuih, capek juga ya ternyata,” Iqbal yang pertama bersuara setelah menyelesaikan tegukannya.
Saras menjawab sambil menyeka mulutnya, ”Iya nih… gempoooorrrr. Udah jalan berapa kilo kita?”
Dia melontarkan pertanyaan yang sesungguhnya tak perlu dijawab.
Sambil mengembuskan napas berat dan mengendurkan bahu serta punggungnya, Saras meluruskan kakinya yang dirasa menjerit letih.
“Makan siang di sini, kan kita?” Kali ini Aurora yang bertanya dan langsung dijawab Singgih, ”Iya. Belum jam 12 sih, tapi gak apa-apa lah. Perjalanan masih panjang.”
“Kalian bawa bekal apa?” tanya Saras sambil mengeluarkan tempat bekal dari dalam tasnya.
“Aaaah, yang simpel-simpel aja. Bawa sandwich. Ini juga Singgih kok yang bikin.” Lukas menjelaskan bekal mereka bertiga.
Saras menjawab cepat, “Enak amat kalian berdua tinggal makan.”
“Yeeeee… ngiri ya? Singgih aja nyantei kok!” Lukas menggoda Saras.
“Huuuu, ngapain!” Sergah Saras sambil bibirnya ditekuk.
__ADS_1
Lukas dan teman lain hanya tertawa ringan menanggapi rajukan Saras.
Tak terdengar suara seorang pun, hanya desau angin yang beradu dengan dedaunan, tatkala mereka menikmati bekal masing-masing. Entah apa yang ada di pikiran mereka, tetapi semua terlihat menikmati makan siang sederhana di areal terbuka diimbuhi udara yang segar.
“Nikmat banget ya, Au.” Saras menyenderkan badannya sambil berbicara pada Aurora yang duduk di sebelahnya.
“Iya, Ras. Bisa santai kayak gini, pemandangannya segar, otak juga berasa fresh ya.”
Singgih yang duduk di sebelah Saras menimpali, ”Iya, tapi besok Senin mulai mumet lagi, kuliah blok baru.”
Saras memukulkan tangan kirinya ke tas ransel Singgih yang sedang dipangkunya.
“Iiiiih, jangan ngingetin dulu ‘napa!”
Kepalanya menoleh ke arah Singgih.
“Lagi santai ini lagi santaaaiii….” Saras menekankan kata ‘santai’ sambil alisnya terangkat dan matanya sedikit membelalak, seolah-olah sedang marah besar.
Singgih hanya tertawa lalu menjawab polos, ”Kan realita.”
Saras berpura-pura masih tidak terima lalu mengangkat tangannya ke arah Singgih dan melakukan gestur seperti sedang mencubit sambil tersenyum mengancam.
Singgih sontak berdiri sambil memeluk tasnya dan terbirit menjauh dari Saras.
”Ampun Buuuu … ampun.”
Suaranya terdengar memelas mohon ampun ditambah dengan badannya yang disengaja membungkuk hormat, tetapi seringai menggoda yang muncul di wajahnya.
Aurora tertawa lebar tanpa suara melihat tingkah polah kedua temannya itu. Di kursi lain, sepasang mata Awan menikmati wajah indah Aurora sambil berpura-pura sibuk merapikan tasnya.
Aurora sebenarnya penasaran dengan isi museum-museum tersebut, hanya saja teman-teman yang lain tidak begitu tertarik karena mempertimbangkan tiket masuk yang cukup lumayan harganya. Belum lagi antrian pembelian tiket biasanya panjang. Jadi mereka hanya berkeliling melihat-lihat museum tersebut dari luar, sambil tentu saja mengambil banyak foto sebagai kenang-kenangan.
Di depan Museum Rijk terdapat sebuah taman yang juga terlihat ramai. Anak-anak berkerumun di sekitar air mancur yang menari, orang tua menunggu sambil duduk-duduk di kursi yang tersedia. Di dalam taman ini juga terdapat papan catur dengan bidak yang berukuran jumbo. Sayang sedang tidak ada wisatawan yang bermain catur di situ.
Saras dan Aurora terlihat bergantian mengambil foto di depan tulisan besar yang berbunyi ‘I amSterdam’.
Awan menghampiri mereka. “Sini aku bantu fotoin kalian berdua.”
Saras menyerahkan HP-nya pada Awan dan langsung mengambil posisi untuk difoto berdua dengan Aurora.
Begitu selesai Saras langsung memanggil Awan, ”Ayo foto berdua, Mas. Gantian ….”
Awan tak enak untuk menolak sehingga ia menyerahkan HP Saras kepada Aurora dan matanya pun sempat beradu dengan Aurora.
“Eh, dia marah?"
Saat Aurora mengambil foto, Awan sudah tak melihat lagi tatapan maupun raut marah di wajah Aurora.
“Mmm, apa salah ya tadi?” pikir Awan.
__ADS_1
Karena hari sudah semakin beranjak meninggalkan tengah hari, Awan dan teman-temannya kembali melanjutkan perjalanan. Dengan berjalan kaki mereka ingin melihat Leidseplein, area yang katanya adalah pusat kehidupan malam di Amsterdam dan tempat pilihan warga lokal maupun wisatawan untuk nongkrong hingga larut malam. Tentu saja mereka tidak bisa menikmati suasananya karena saat itu memang belum waktunya.
Sebelum tiba di Leidseplein mereka menyempatkan diri untuk mengabadikan diri di jembatan yang membelah kanal yang cukup lebar. Pemandangan kanal dengan bangunan rumah belanda dan sepeda di sisi jembatan merupakan potret kanal yang seringkali disuguhkan bagi wisatawan.
Tujuan terakhir mereka sebelum kembali ke Stasiun Amsterdam adalah Red Light District. Area ini sebenarnya merupakan area prostitusi, tetapi legal.
Itulah sebabnya ada yang menyebut Amsterdam sebagai ‘Sin City’. Selain prostitusi, ganja dan mariyuana juga bisa dikonsumsi secara sah di kota ini.
Dari mereka ber-enam hanya Awan yang sudah pernah melewati tempat yang tersohor ini. Kelima orang lainnya ingin sekali melihat tempat ini sesungguhnya karena penasaran. Seperti apa sih?
Meski hari baru menuju sore dan langit masih cukup terang, ternyata kegiatan di area tersebut sudah berlangsung. Namun, karena ini memang belum malam hari, maka tak terlihat lampu-lampu berwarna merah menerangi sepanjang jalan.
Deretan toko dengan etalase kaca besar di bagian depan dengan jelas bisa memperlihatkan perempuan-perempuan muda dengan pakaian yang sangat minim berada di dalamnya.
Tidak boleh ada kamera atau pengambilan foto di tempat ini, tidak boleh menggoda mereka yang ada di balik kaca itu, dan tidak boleh berdiri memperhatikan tetapi kemudian melenggang pergi.
Semua ada aturannya.
Aurora dan Saras berjalan gugup sambil berpegangan tangan dengan tatapan lurus ke depan tetapi mencoba melirik ke barisan toko-toko tersebut.
Aurora berkata pelan, ”Duh Ras, kok bisa ya mereka kayak gitu.”
Saras pun menjawab dengan volume rendah hampir berbisik, ”Yah kita gak tau Au apa yang mereka alami, rasakan, dan pikirkan.”
Aurora bergumam, “Iya sih, Ras.”
Keempat pria lainnya berusaha berjalan santai meski mengakui jantung mereka sama-sama berdetak lebih cepat. Tak ada yang berkata-kata hingga tiba di ujung jalan suara Lukas yang pertama terdengar.
“Astagaaa… gue sampe nahan napas lama banget tadi.”
Mendengar kalimat Lukas tak pelak kelima orang lainnya langsung tertawa terbahak-bahak.
“Halaaaah, kayak lu enggak aja, Bal!” Lukas masih tersipu malu sambil meninju pelan bahu Iqbal.
Tidak menjawab tetapi Iqbal tertawa semakin keras seolah mengiyakan tuduhan Lukas.
Selain toko-toko tadi di area ini juga bisa ditemukan toko yang menjual peralatan yang berhubungan dengan kegiatan seksual. Karena penasaran mereka pun mencoba masuk dan melihat-lihat.
Aurora dan Saras hanya tertawa kecil melihat barang-barang yang diperjualbelikan sambil lebih banyak bingung benda apa saja yang mereka lihat. Di belakang mereka mengikut teman laki-laki mereka yang malah berbisik-bisik membahas fungsi barang-barang yang ada.
Sekeluarnya dari toko Aurora dan Saras sama-sama langsung menyemburkan tawa karena ulah teman-temannya.
“Ih kalian itu ya, pake acara dibahas pula.” Sambil masih tersenyum lebar Saras mengarahkan telunjuknya pada keempat laki-laki yang cuma cengengesan tak berniat membantah.
Bagi Awan, meski perjalanan keliling Amsterdam ini bukanlah yang pertama, hatinya terasa bahagia. Berjam-jam bisa menghabiskan waktu bersama Aurora, rasanya tak tergantikan. Ia bisa punya banyak waktu memperhatikan gerak gerik Aurora, menikmati wajahnya, dan tentu saja melancarkan pendekatan pada Aurora.
“Dari antara cowok-cowok ini kayaknya sih aku gak ada saingan. Gak ada yang menunjukkan tanda-tanda suka sama Aurora.” Awan melamun di dalam kereta yang membawanya kembali ke Rotterdam.
Sebelum tidur Aurora memanjatkan doa agar kiranya kebahagiaan seperti hari ini bisa terus bersamanya.
“Makin kenal Mas Awan aku jadi makin kagum dan suka. Lebih dari waktu dulu pas di kampus. Apalagi tadi dia banyak nemenin pas jalan. Perhatiannya itu lho, bikin aku klepek-klepek.”
__ADS_1
Aurora tersipu malu hingga menarik selimut menutupi wajahnya.
“Tapi Mas Awan suka aku juga gak ya?” Matanya menutup berharap mimpi indah menghampirinya.