AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Say Cheese!


__ADS_3

Hari-hari menjelang jadwal sidang membuat kesibukan Aurora dan teman-temannya meningkat berkali-kali lipat. Mereka harus memastikan semua pemikiran dan ide yang ada bisa tertuang dalam tulisan yang tersusun dengan terstruktur. Sebelum diputuskan layak sidang, setiap mahasiswa diwajibkan menyerahkan draft thesis pada dosen yang ditunjuk sebagai pembaca kedua. Berdasarkan masukan dari dosen terpilih ini barulah dilakukan perbaikan, supaya thesis mereka menjadi lebih sempurna dan siap untuk dipertanggungjawabkan.


Awan dengan setia menemani Aurora saat mengerjakan thesis, kapan pun dia ada waktu. Tak heran kalau Awan bisa dengan mudah ditemukan di unit Aurora, entah itu di kamar atau di dapur. Kalau Aurora berkonsentrasi di kamar, maka Awan ada di sana, sekadar hadir sosoknya karena sesekali dia kedapatan tertidur sambil memeluk buku bacaannya. Aurora sering merasa terharu kalau melihat bagaimana Awan mendukungnya selama pengerjaan thesis ini. Meskipun Awan hanya diam saja tak bersuara, tetapi mengingat sosoknya ada di dekat Aurora, hati Aurora pun bersemangat.


Kadang kala Aurora merasa penat di kamar dan memilih untuk bekerja di dapur, terutama bila pekerjaannya lebih banyak melakukan proses editing. Bila di dapur, selain Awan biasanya akan ada Saras juga yang bersama-sama bekerja. Diselingi obrolan dan canda tawa, rasa lelah memang tak terlalu terasa. Pekerjaan pun seolah menjadi lebih ringan dan nyata progresnya.


Aurora dan teman-temannya harus pintar-pintar memanfaatkan waktu yang ada pada masa-masa penyelesaian thesis ini. Bukan apa-apa, semakin mendekati hari terakhir sebelum bertolak ke Indonesia, baru terasa ada banyak tempat yang belum dikunjungi dan ada banyak aktivitas yang belum sempat dilakukan.


Akhir minggu, sesuai rencana mereka pergi ke Volendam, desa nelayan kecil yang menjadi salah satu tempat wajib untuk dikunjungi bila pergi ke Belanda. Di desa ini lah pengunjung bisa memiliki foto unik dengan mengenakan baju tradisional khas Volendam, berlatarkan lukisan suasana ruang keluarga atau teras rumah khas Belanda.


Sebelum ke Volendam mereka memutuskan untuk singgah ke Edam, sebuah kota kecil yang sangat tersohor sebagai penghasil keju, sehingga keju yang ada pun dikenal dengan nama Keju Edam. Untuk mencapai Edam mereka harus menuju Amsterdam terlebih dahulu, baru melanjutkan perjalanan menggunakan bus.


Di sana terdapat Edam Cheese Market atau Pasar Keju Edam yang bukan sekadar pasar karena ada atraksi pembuatan dan penjualan keju yang dikemas menarik. Aurora dan teman-temannya sangat terkejut melihat bentuk keju yang dipertontonkan. Seluruhnya masih dalam keadaan utuh dengan ukuran yang sangat besar, bahkan ada yang bentuknya hampir menyerupai roda dan memang bisa digelindingkan saat perlu dipindahkan.



Selain bisa membeli keju dengan berbagai varian dan tingkat kematangan, pengunjung juga bisa mencoba untuk menimbang badan dengan menggunakan timbangan keju yang bentuknya tidak seperti timbangan biasa. Data hasil timbangan dituangkan pada sertifikat yang kemudian bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Sungguh membuat mereka tertarik untuk mencoba menimbang badan, bukan sendirian, tetapi sekaligus bertiga.


Jarak dari Edam ke Volendam sangat dekat dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit menggunakan bus. Menyusuri pertokoan souvenir di tepi laut lepas, Aurora dan teman-temannya tidak lupa berbelanja, memilih benda-benda unik dan menarik khas Belanda untuk dijadikan sebagai buah tangan saat kembali ke Indonesia. Deretan toko sejenis dengan penataan yang dibuat semenarik mungkin memang membuat Aurora dan teman-temannya cukup bingung untuk memilih toko mana yang perlu mereka masuki.


Selesai berkutat dengan memilih dan memilah oleh-oleh, mereka pun melaksanakan tujuan utama mereka datang ke Volendam. Foto! Memang tidak hanya satu dua toko yang menyediakan pelayanan foto dengan baju tradisional, tetapi mereka tidak bingung karena sudah mendapat saran dari Awan yang juga diturunkan dari para senior. Carilah toko paling ujung yang ada foto Alm. Gus Dur di etalasenya! Begitulah pesan yang mereka terima. Setiap toko memang memajang hasil foto orang-orang terkenal di etalase depan sebagai pemikat, termasuk orang penting dan selebriti dari Indonesia.


__ADS_1


Karena begitu banyaknya wisatawan asal Indonesia, para pelayan di toko ini memang bisa sedikit berbahasa Indonesia. Di tempat penyimpanan barang dan baju, tertulis “Awas Copet”, peringatan yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang paham bahasa Indonesia. Tempat ini menjadi pilihan dari sekian banyak toko sejenis karena di tempat ini pengunjung bisa mengambil foto dengan menggunakan kamera sendiri menggunakan latar yang tersedia.


Kesempatan itu tentu tak disia-siakan Awan dan Aurora, juga teman-temannya. Sambil menunggu pelayanan foto siap, mereka menyempatkan berfoto dengan kamera di HP masing-masing. Pose foto yang memang resmi dan harus mereka bayar adalah foto bersama-sama serta Saras yang ingin difoto sendirian. Awalnya Awan merasa tidak enak ikut berfoto dengan mereka karena sebenarnya hanya Aurora dan teman-temannya lah yang benar-benar teman kuliah satu angkatan.


Ketika Awan mengungkapkan ketidaknyamanannya, Lukas hanya berkata, “Gak apa-apa, Wan ... kalian kan kembar dempet.” Saat itu semua teman-temannya tertawa kecuali Awan dan Aurora yang tersipu karena digoda.


Puas menikmati pengalaman menggunakan baju tradisional Volendam, mereka memutuskan pergi ke arah penjaja makanan dan berniat mencoba makan ikan herring mentah yang hanya diberi bawang bombay. Pada akhirnya hanya Lukas dan Singgih yang berani mencoba makan ikan ala Belanda itu. Iqbal yang semula sudah berniat, ternyata mundur ketika melihat langsung ikan berwarna keperakan yang bau amisnya masih bisa tercium. Kalau Awan, dia sudah pernah mencoba sebelumnya dan tak ingin mengulangi untuk kedua kalinya. Sementara Saras dan Aurora, hanya membayangkannya saja mereka sudah tidak tertarik.


Cara memakan ikan ini pun sedikit tak biasa. Ikan herring yang sudah tidak berkepala itu harus dipegang pada bagian ekor, lalu ikan dimasukkan ke dalam mulut dari bagian kepalanya terlebih dahulu dan terus dikunyah dan ditelan hingga bagian ekornya saja yang tersisa.



“Kas, seriusan mau nyoba?” Saras memastikan keteguhan hati Lukas ketika mereka sama-sama melihat bagaimana seorang penduduk lokal mendemonstrasikan cara memakan ikan herring mentah.


Lukas cengar-cengir tapi menjawab Saras dengan mantap, “Iya doooong … kapan lagi? Rugi lah, udah jauh-jauh ke Belanda masak gak nyoba.”


Iqbal yang sudah menyatakan mundur malah iseng menantang Lukas. “Dimakan sampai habis ya, Kas. Kalau berhasil ntar gue traktir deh di Kim Foei.”


Lukas merespon cepat. “Bener ya. Gue tagih!” Iqbal terkekeh melihat Lukas yang bersemangat.


Singgih yang mendengar tantangan Iqbal ikut nimbrung, “Bal, kok aku gak ditawari? Gak berani nantang aku ya, soalnya pasti habis.”


“Iya lah, kamu kan pemakan segala!” ujar Saras lalu menertawai Singgih.

__ADS_1


Singgih mulai mengambil ikan yang sudah disediakan di atas piring kertas dilengkapi dengan cacahan bawang bombay dan helaian acar timun. Melihat Singgih sudah mengangkat ikan herring mentah itu dengan ujung jarinya mencapit ekor ikan dan mulai menengadahkan kepalanya, Aurora beringsut bersembunyi sambil mengintip di belakang Awan. Saras menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil terlihat ekspresinya yang menunjukkan rasa cemas, sementara Iqbal sudah siap dengan HP di tangannya untuk membuat video detik-detik ikan herring tertelan sempurna di kerongkongan Singgih.


Persis seperti perkataan Saras, Singgih memang pemakan segala. Dia tak mengalami kesulitan saat memulai kunyahan pertama, bahkan tampak dia seperti bisa menikmati, selayaknya penduduk lokal tadi. Ketika seluruh badan ikan tak lagi terlihat, Saras bersama Awan dan Aurora langsung bertepuk tangan. Singgih dengan ekspresi bangga membungkukkan badannya seolah-seolah telah selesai menunjukkan penampilan terbaiknya di atas panggung mewah.


Berikutnya giliran Lukas. Melihat Singgih lancar sekali memakan ikan herring mentah itu, kepercayaan dirinya pun bertambah. Aroma amis sangat kuat memasuki indra penciuman Lukas saat ikan mulai mendekat masuk ke mulutnya, tetapi Lukas berusaha bertahan. Begitu bagian ikan tak berkepala itu mulai dapat dirasakan oleh lidahnya, secepat mungkin Lukas berusaha menelan bahkan tanpa mencoba untuk mengunyah dengan benar terlebih dahulu. Dengan cepat seluruh badan ikan telah habis dan Lukas memaksa kerongkongannya untuk menelan seluruh daging ikan yang sedikit terkunyah dan mendorongnya masuk ke saluran pencernaan. Rasa amis ikan bercampur rasa bawang bombay mentah mengisi seluruh rongga mulutnya dan seperti menyangkut tak bisa dihilangkan.


Matanya terpejam kuat dengan wajah yang seluruhnya mengernyit sambil menggelengkan kepalanya cepat dan menghentak-hentakkan kakinya, berusaha menghilangkan aroma dan rasa dari indranya. Cepat-cepat dia mengambil botol minum yang disodorkan Saras lalu menghabiskan hampir satu botol untuk menghapus seluruh rasa yang masih tersisa.


Awalnya teman-temannya merasa prihatin tetapi tak lama satu per satu mulai tertawa melihat ekspresi dan tingkah laku Lukas. Sungguh berbanding terbalik antara Singgih yang begitu tenang dengan Lukas yang blingsatan. Meski penuh perjuangan, tetapi Lukas bangga pada dirinya yang berhasil menuntaskan rasa penasarannya.


“Dari pada kagak berani sama sekali!” ejek Lukas pada Iqbal yang masih tak bisa menghentikan tawanya.


Ketika sore menjelang dan mereka harus kembali, Aurora dan teman-temannya pulang dengan hati yang riang. Setidaknya mereka bisa menikmati kesegaran angin laut dan keriaan di desa nelayan sebelum jadwal sidang diumumkan.


Aurora dan Singgih ternyata mendapatkan kesempatan untuk mempertanggungjawabkan thesis mereka di hari yang sama. Hanya saja Aurora mendapat giliran menjelang siang, sementara Singgih kebagian jadwal di sore hari. Saat sidang yang berlangsung terbuka itu tampak Awan hadir di antara teman-teman kuliah Aurora. Kehadiran Awan memberikan semangat tersendiri bagi Aurora dan juga menambah rasa percaya dirinya.


Dengan mantap dan yakin Aurora mempresentasikan hasil thesisnya dan dengan tegas pula dia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh dosen penguji. Hansen, dosen pembimbingnya, memberikan pujian atas kerja keras Aurora menyelesaikan penelitiannya yang membuat Aurora sedikit berbangga hati. Usahanya tidak sia-sia. Begitu Hansen menyatakan sidang Aurora selesai, segera dia menaikkan doa syukur, “Ya Allah, terima kasih untuk pertolongan-Mu.”


Saat duduk kembali di tempatnya semula, Awan yang di sebelahnya langsung menggenggam tangan Aurora dan bisa merasakan tangannya yang dingin. Sambil mencondongkan badannya ke samping, Awan berbisik mendekati telinga Aurora, “Kamu hebat, bikin aku bangga.” Pujian Awan membuat Aurora semakin bungah dan bersyukur atas keberadaan Awan menemani hari-harinya.


Hari itu Aurora dan Singgih sudah bisa bernapas lega dan tidur nyenyak, sementara Saras, Lukas, dan Iqbal masih harus berdebar-debar menanti giliran. Mereka bertiga juga mendapatkan jadwal di hari yang sama, bergantian dari pagi hingga sore. Seperti hari sebelumnya, sidang juga diikuti oleh para mahasiswa, termasuk mereka yang sudah lebih dulu selesai seperti Aurora dan Singgih.


Sidang yang dijalani Saras, Lukas, dan Iqbal berjalan lancar, semua berhasil memaparkan thesis mereka dengan baik tanpa kendala. Pulang dari kampus dengan perasaan lega bercampur bahagia, keenam mahasiswa Indonesia itu pun memilih menikmati makanan di restoran Asia yang lokasinya tidak jauh dari apartemen, untuk merayakan keberhasilan mereka menuntaskan perjuangan kuliah sampai selesai meskipun belum mengetahui nilai akhirnya. Restoran ini pula lah yang dijanjikan Iqbal sebagai tempat dia mentraktir Lukas atas kesuksesan Lukas menjawab tantangan menghabiskan ikan herring di Volendam.

__ADS_1


 


 


__ADS_2