
Sejak naik sepeda ke kampus, Awan dan Aurora semakin sering bersama. Awan berusaha menyamai jadwal kuliah Aurora agar bisa lebih banyak waktu yang dia habiskan bersama Aurora. Meskipun dalam perjalanan sebenarnya mereka tidak bisa selalu bersisian, terkadang hanya melihat punggung Aurora saja hati Awan sudah bahagia.
Perasaan Aurora pun tak jauh berbeda. Ia mengakui kalau menggunakan sepeda ke kampus membutuhkan upaya ekstra, tidak seperti naik trem yang tinggal duduk santai saja. Hanya saja, mengingat kalau dengan naik sepeda dia bisa semakin dekat dengan Awan, Aurora memilih berlelah naik sepeda mengawali paginya.
Mendekati minggu ujian Aurora semakin sering mengunjungi perpustakaan untuk mengerjakan tugas maupun hanya sekadar membaca. Kepada teman-temannya Aurora beralasan dia lebih bisa berkonsentrasi di ruangan yang sepi. Tak satu pun membantah hal itu. Padahal alasan sebenarnya karena di perpustakaan lah Aurora bisa sering berdua Awan.
Hani yang sering melihat mereka berdua di perpustakaan ini hanya tersenyum maklum. Hani tahu persis, ada banyak cinta yang berkembang di kampus ini, bahkan cinta antarnegara. Jadi sebenarnya dia tidak terlalu heran kalau di kemudian hari hubungan Awan dan Aurora berkembang dari pasangan diskusi menjadi pasangan kekasih.
Sejujurnya, Aurora tidak terlalu mudah berkonsentrasi saat duduk berdampingan dengan Awan di sudut perpustakaan ini. Dia harus melawan denyut jantungnya yang sering berlari cepat, yang seringkali membuat kata-kata yang hendak ditulis melompat ke sana ke mari atau tulisan yang ada di buku buram tak terbaca.
Apalagi kalau secara tak sengaja tangan mereka bersentuhan. Ooooh, sengatan listrik tegangan tinggi yang dia rasakan mendorongnya berdoa, “Ya Allah… kuatkan hamba-Mu. Baru bersentuhan saja sudah seperti ini, bagaimana kalau dia menggenggam tanganku? Jangan biarkan aku mati berdiri.”
Suatu hari, di tengah-tengah deadline pemasukan tugas, Aurora memaksa dirinya memfokuskan pikiran agar bisa menyelesaikan tugasnya. Awan duduk diam di sebelahnya menemani dengan buku tebal yang terbuka di hadapannya.
Tanpa Aurora sadari, Awan sesekali menatap lekat dirinya dari samping. Ia sedang fokus pada laptopnya, sementara Awan fokus pada dirinya.
Awan tertawa dalam hati. “Dia gak nyadar juga nih aku liatin. Tetep ya, lagi serius gitu juga menarik.” Senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Ya iyalah menarik. Kalo lagi jatuh cinta semua-mua juga menarik, kali…” Suara hatinya yang lain bernada tajam menohok Awan, membuatnya hanya mampu cengar-cengir menyadari kelemahan hatinya.
“Nih anak sebenernya nyadar gak ya kalo aku tuh suka sama dia?”
Untuk ketiga kalinya Awan memperhatikan Aurora diam-diam. Kepalanya menoleh miring dan pipinya bertumpu pada tangannya yang menyiku di atas meja.
Kali ini Aurora sadar.
Menghentikan ketukan pada keyboard laptop, cepat kepalanya menoleh ke kiri, menemukan Awan dengan alis yang hampir bertemu dan mata tajamnya menghujam Aurora.
Awan tak bergeming. Tatapannya tetap seintens sebelumnya, malah senyuman lebar dia tambahkan pada wajahnya.
Pipi Aurora bersemu merah.
“Haduh. Kenapa juga ini ngeliatin pake senyum-senyum kayak gitu?”
Jantungnya terasa melompat ingin keluar.
__ADS_1
“Please… udahan, Mas. Kamu tega bener bikin aku kayak gini.”
Kepalanya menunduk melihat jemari tangannya yang mulai bergetar.
Melihat Aurora yang kikuk, Awan semakin tersenyum gemas. “Lucu deh kamu kalau lagi salting gitu.”
Tak mendengar suara apa pun dari Awan, Aurora memberanikan diri secara perlahan mengangkat lagi kepalanya dan menoleh ke arah Awan.
Suaranya tersendat,”A-ada apa, Mas?”
Tangan kanannya terangkat menyentuh pipi lalu jemarinya berpindah menutup bibirnya.
“Ada yang aneh ya?”
Sambil tetap tersenyum yang membuat Aurora semakin meleleh, Awan menjawab,”Enggak. Gak ada yang aneh. Cuma lagi eksperimen aja.”
Tangan yang menopang wajahnya diturunkan hingga kedua tangannya saling menumpuk di atas meja. Awan melanjutkan sambil mengangguk-angguk kepalanya masih menoleh ke arah Aurora,”Kamu itu kalau lagi serius ternyata bisa abai sekitar juga ya?”
Mendengar perkataan Awan, Aurora langsung bereaksi.
“Huuuu….” Suara pelan keluar dari bibirnya yang mencucu.
“Nyebelin!” Dalam hati ia mengeluarkan nada kesal meski sebenarnya bungah menerima godaan Awan.
Melihat bibir Aurora dan mimik kesal di wajahnya, Awan justru menyesal.
“Ya ampuuunn… kenapa makin ngegemesin?? Pengen deh narik itu bibirnya. Cute banget!”
Suara lain muncul di kepalanya. “Narik pake jari atau pake apa?” Suara terakhir tak pelak membuat Awan tersipu malu dan menyadarkannya agar tak berimajinasi berlebihan.
Satu hal yang bisa dia akui,”Aku memang bisa gila kar’na terjerat pesonanya.”
--
Masa ujian telah selesai. Hari-hari penat yang dipenuhi dengan deadline tugas dan harus membaca bahan serta catatan kuliah membutuhkan pengalihan. Kelima mahasiswa Indonesia sudah punya rencana, bahkan sebelum ujian dimulai, untuk mengisi weekend setelah ujian ini dengan jalan-jalan ke Amsterdam.
__ADS_1
Di hari terakhir ujian mereka berkumpul di ruang komputer membahas rencana kepergian ke Amsterdam.
“Kita berlima aja nih besok perginya?” tanya Iqbal.
“Kenapa memang?” Singgih balik bertanya.
“Enggak… siapa tau mau ngajak temen-temen yang lain,” jawab Iqbal kembali.
“Oooh... ajak Awan aja paling,” usul Singgih.
Saras cepat menjawab,”Iya bener. Ajak Mas Awan juga….”
Aurora hanya diam menunduk, tapi matanya melirik ke arah Saras.
“Ya udah, kita ajak Awan ya,” pungkas Iqbal lalu menoleh ke arah Lukas. “Lu gak mau ngajak Svetlana, Kas?”
Lukas tertawa. “Ha? Ngapain ngajakin dia bareng lu-lu pada. Kalo sama dia sih gue mending berdua aja kale’.”
Keempat orang lainnya jadi ikut tertawa ditimpali respon Iqbal, ”Aaah, dasar lu!”
“Eh,” suara Singgih terdengar. “Apa Awan kita masukin grup aja ya? Biar gampang kalo mau janjian pergi-pergi.”
“Iya, iya… masukin grup aja deeeh… Kayaknya kita bakalan sering bareng kan sama Mas Awan.” Lagi-lagi Saras yang dengan cepat menjawab usulan Singgih.
“Mmmm… ya gakpapa juga sih. Kalo kita ngomongin soal kuliah di grup kan Awan bisa juga sekali-kali nimbrung. Lumayan, untung deh kita.” Lukas menyampaikan pendapatnya.
“Deal nih ya, kita masukin Awan ke grup.” Singgih tidak menanti jawaban dari Iqbal dan Aurora karena melihat wajah mereka yang tidak menunjukkan rasa keberatan. Ia langsung membuka grup dan menambahkan Awan ke dalamnya.
Entah mengapa Aurora menjadi gelisah. Di satu sisi ia senang melihat nama Awan di dalam grup mereka. Tetapi di sisi lain, ia juga khawatir itu membuat Saras, bukanlah dirinya, yang semakin dekat dengan Awan.
Obrolan di grup chat pun dimulai dengan ajakan Singgih pada Awan agar ikut bersama-sama yang lain pergi ke Amsterdam esok hari. Awan merespon cepat dengan mengiyakan ajakan Singgih karena dia memang belum punya rencana apa-apa akhir minggu ini. Mengunjungi Amsterdam berkali-kali tetaplah menyenangkan.
Pembicaraan pun berlanjut seru untuk mematangkan rencana agar waktu satu hari bisa maksimal menjelajah Amsterdam.
Iqbal menutup rembukan mereka dengan kembali mengingatkan teman-temannya, "Jangan pada telat ya! On time, kita naik kereta yang jadwal 07.41. Bawa bekal masing-masing juga, biar gak repot nyari-nyari makan siang. Okay?”
__ADS_1
“Siaaap!” “Oke!” “Siap, Bro!”
Beragam jawaban yang terdengar, termasuk anggukan persetujuan dari Aurora yang tak mengeluarkan suara.