AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Menguak Rahasia


__ADS_3

Aurora duduk bersila menghadap sisi tempat tidur dengan kepala yang ditopang oleh sebelah tangannya yang bersender menyiku di tempat tidur. Di depannya terlihat laptop di atas kasur yang terbuka sedang menayangkan drama. Di sebelahnya Awan duduk bersandar pada sisi tempat tidur dengan kaki panjangnya yang terulur ke depan, sedang berselancar menggunakan HP. Karena tidak ada kuliah dan keperluan di kampus, mereka memutuskan untuk bersantai di kamar Aurora menikmati saat-saat lepas dari aura perkuliahan, meski hanya sejenak di antara padatnya tugas kuliah.


“Aurora, kayaknya Bima tuh suka deh sama kamu,” suara Awan terdengar di sela dialog drama yang keluar dari laptop dengan volume rendah.


“Ah, masa? Kok Mas bisa bilang gitu?” Aurora menjawab tanpa memindahkan fokusnya pada layar di hadapannya.


Awan juga masih tetap mengarahkan pandangan pada HP-nya sambil jarinya terus bergerak menggeser layar dan berkata, “Iya, kelihatan kok. Coba deh … tiap hari dia pasti cari kamu terus pingin ngobrol sama kamu. Kalau kamu ada kuliah sampai sore, kelihatan banget dia hampir selalu nungguin kamu keluar kelas. Dia udah main ke sini juga, kan? Kamu juga bilang kalau dia sering kirim pesan. Iya, enggak?”


Aurora menoleh ke arah Awan. “Iya, ya? Aku gak ngeh lho, Mas … tapi bener juga ya.” Kepalanya kembali mengarah ke depan, dengan dahi mengernyit kelihatan sedang berpikir.


Aurora kembali melihat ke arah Awan, rona wajahnya menunjukkan kalau dia sedang menimbang-nimbang pendapat Awan dalam pikirannya. Gantian Awan yang menoleh ke arah Aurora dengan sedikit tersenyum. “Aku kan cowok juga, Au … tau lah kalau dia itu lagi deketin kamu. Kelakuan kayak gitu pasti ada maunya.”


Secara perlahan ekspresi Aurora berubah dengan senyum jahil yang terbit di wajahnya. “Oooh gitu … kayak Mas Awan dulu berarti ya. Ajak bareng ke kampus, kirim pesan nanya ini itu, terus nemenin aku di perpustakaan ... itu lagi pendekatan ya?” Matanya mengerling menggoda Awan.


Kalimat Aurora sontak membuat Awan tertawa. “Nah, itu tau.… Emang waktu dulu aku deketin, kamu ngerasa?”


Aurora ikut tertawa sambil tangannya menggerakkan cursor menyentuh lambang pause menghentikan drama yang sedang ditontonnya. Posisi duduknya digeser sedikit lebih mengarah menghadap Awan.


“Sempat sih mikir ke sana, Mas. Cuma aku gak terlalu yakin gitu … soalnya takut salah, gak mau baper juga.” Kepalanya manggut-manggut pelan saat mengatakan kalimat itu sementara Awan tertawa kecil saat mendengarnya.


“Terus ini si Bima, kamu gak ngerasa sama sekali?” Awan bertanya dengan nada sedikit keheranan.


“He? Enggak tuh!” Aurora diam sebentar, berpikir, lalu melanjutkan, “mungkin karena aku gak ada perasaan apa-apa sama dia ya … jadi aku anggap biasa aja, Mas.”


Kali ini Awan yang tersenyum jahil dan berbicara dengan nada menggoda. “Berarti dulu kamu nyadar aku lagi pendekatan, itu karena kamu ada rasa juga sama aku?” Awan pun terkekeh.


Aurora tersenyum malu-malu dan dengan sikap dan nada manja menjawab Awan. “Aaaah, Mas Awan pake nanya.”


Mereka pun sama-sama tersenyum lebar, mengingat kembali bagaimana debar-debar yang terasa saat masa-masa pendekatan. Perasaan bingung dan bertanya-tanya yang dulu terasa mengesalkan, kini sudah berbuah manis.


“Mmm, tapi Mas, sebenarnya aku ingin tau juga sih ... sejak kapan Mas suka sama aku?”


Tawa Awan terlepas. “Mmmm, sejak kapan ya? Beneran kamu mau tahu sejak kapan?” Awan menggoda Aurora dengan lirikan dan ujung bibirnya yang terangkat.


Aurora tertawa melihat Awan yang mencoba menggodanya. “Iya … soalnya itu tadi. Aku sempat mikir Mas lagi pendekatan, tapi kadang-kadang kayak enggak juga. Pastinya kapan sih mulai suka aku?” Aurora mulai menuntut.

__ADS_1


“Beneran ini … ntar kamu kaget kalau tahu.” Awan tersenyum penuh misteri membuat Aurora mulai bertanya-tanya.


“Iya, beneran aku mau tahu. Kenapa emangnya, Mas … kok bikin kaget?”


Awan menggeser badannya ke arah Aurora, bertopang pada salah satu tangan di sisinya. Wajahnya mendekat ke arah Aurora sambil berbicara dengan suara agak berbisik.


“Aku kasih tahu satu rahasia ya ….” Awan menggantung kalimatnya membuat Aurora malah menjadi penasaran, matanya mulai membesar – alisnya mulai terangkat.


Tak ada suara terdengar, Awan malah diam tak melanjutkan kalimatnya.


Aurora menjadi tidak sabar dan segera mendesak Awan. “Iiih, buruan! Apanya yang rahasia?”


Awan tertawa terbahak-bahak. Dia senang sekali karena berhasil membuat Aurora penasaran. Aurora pun memukul pelan lengan Awan karena sadar termakan kejahilan Awan. Bibirnya merengut. Awan seketika menahan dirinya untuk tidak bertindak lebih jauh, kepalanya ia tarik mundur menjauh dari wajah Aurora.


Awan berdehem menghilangkan keinginan yang sempat hadir di hatinya sebelum kembali bersuara.


“Ini rahasiaku, sekarang aku buka ya. Aku itu ….” Awan terdiam. Aurora merasa tegang menunggu kelanjutan kalimat Awan. Terlihat benar dari wajahnya kalau dia semakin penasaran.


Awan malah tertawa geli karena melihat air muka Aurora yang langsung dibalas cubitan pelan dari Aurora. Tindakan Aurora malah membuat Awan kembali tertawa. Mata Aurora membesar, membelalak menatap Awan membuat Awan akhirnya menyerah.


“Lama? Berapa lama?” Cepat sekali pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut Aurora sambil dalam pikirannya rasa penasaran terus mengganggu. “Selama apa ya yang dimaksud Mas Awan?”


Awan menjawab dengan senyum simpul terulas di bibirnya. “Lamaaaaaaa … banget.”


Rasa penasaran Aurora semakin bertambah, dahinya mulai mengerut, alisnya bertemu, dan matanya ikut menyipit.


Awan mengangkat tangan kanannya, menempatkannya di pipi Aurora dan bergerak menangkup seluruh bagian rahang kiri Aurora. Nada suaranya terdengar lembut.


“Aku itu suka sama kamu sejak lihat kamu ada di kampus, dulu waktu di Bandung.”


Aurora tersentak kaget. Cepat tangannya terangkat memegang pergelangan tangan Awan yang sedang menangkup wajahnya. Sempat terdiam sebentar, barulah keterkejutannya disuarakan. “Ha?? Serius, Mas?”


“He eh.” Awan menggangguk mengiyakan.


Begitu anggukan Awan selesai, Aurora malah berulangkali melepaskan pukulan pada tangan Awan yang masih dicekalnya sambil bersuara dengan nada kesal. “Aaah, Mas Awan!”

__ADS_1


Awan heran melihat reaksi Aurora. “Kenapa, Au?”


Pertanyaan Awan dijawab Aurora dengan cara memukul pelan dada Awan menggunakan kedua tangannya, tetapi setelah itu langsung memeluk Awan. Sempat kaget dan hampir limbung dari duduknya, Awan membalas pelukan Aurora sambil memperbaiki posisinya, tapi kebingungan tertera jelas dalam raut wajahnya. “Apa Au terharu karena aku udah lama banget suka sama dia?”


Aurora kembali memukul dada Awan dengan kepalan tangannya seperti kesal dan marah. Sebelum sempat melancarkan pukulan lain, Awan segera menangkap pergelangan tangan Aurora. “Kenapa, Au? Kok kamu malah jadi marah?”


Masih memeluk Awan, Aurora menjawab dengan suara sedikit memelas. “Enggak marah … tapi Mas Awan tau nggak? Aku tuh suka sama Mas Awan, ya juga sejak kita pertama ketemu di kampus dulu.”


Spontan Awan merenggangkan pelukan mereka, matanya melihat Aurora dengan ekspresi yang menggambarkan ketidakpercayaan. “Kamu suka aku sejak dulu kita di kampus? Waktu kamu baru masuk kuliah?” Kalimatnya terdengar terburu-buru karena cepatnya.


Aurora tersenyum malu. “Iya ….” Suaranya pelan, senyumnya masih membayang.


Awan kembali memeluk Aurora dengan sebelah tangan di punggung dan telapak tangan yang lain membelai lembut kepala Aurora. Terdiam sebentar, lalu Awan mengeluarkan rasa ingin tahunya atas reaksi Aurora sebelumnya. “Nah, kenapa tadi marah?”


Sambil tetap berada dalam pelukan Awan, Aurora menjawab, “Iya lah, kesal,” nada suaranya terdengar sebal, “kenapa gak dari dulu itu kita pacarannya? Kok baru sekarang?”


Kalimat Aurora menyadarkan Awan dan membuatnya tertawa.


“Wah iya ya … kalau dulu kita pacaran, sekarang mungkin kita sudah menikah dan sudah punya anak.” Aurora pun ikut tertawa semakin lama semakin keras hingga hampir mengeluarkan air mata, membayangkan penyesalan yang sudah tak bisa lagi disesali, nasi sudah menjadi bubur.


Awan melepaskan rangkulannya, memegang kedua tangan Aurora dalam genggamannya. Sambil menatap lekat manik mata Aurora, dia berkata, “Itu lah takdir, Aurora … jalan dari Sang Pemilik Kehidupan.” Awan terdiam sebentar lalu melanjutkan. “Kalau dipikir-pikir, kenapa bukan dulu kita pacaran, kenapa baru sekarang? Kenapa harus nunggu 5 tahun dan kenapa harus nunggu ketemu di sini?”


Awan tersenyum, tangannya mengangkat kedua tangan Aurora ke arahnya lalu mengecup lembut punggung tangan Aurora sambil tetap mempertahankan kontak matanya dengan Aurora.


“Apapun itu ... aku tetap bahagia, Aurora. Aku tetap bersyukur.” Dia menurunkan tangan Aurora.


“Iya mas, aku juga,” ucap Aurora sambil mengganti posisi tangan mereka, berbalik Aurora yang menggenggam tangan Awan dan memberikan remasan lembut di sana.


Setelah sempat hening sebentar, Awan tiba-tiba bertanya, “Etapi, kok kamu dulu sama sekali gak kelihatan suka sama aku ya?” Wajahnya menyelidik. “Malah aku pikir kamu dulu gak ada perasaaan apa-apa, makanya aku jadi gak berani deketin kamu, Au. Kamu kan dulu seringnya berdua sama temenmu itu ya … kayaknya kurang senang ngumpul ramai-ramai. Jadi aku juga diam-diam aja cuma lihatin dari jauh.”


Aurora tersenyum, teringat bagaimana dia dulu berusaha keras menyembunyikan isi hatinya.


“Tapi aku juga gak tau kalau Mas Awan suka lihatin aku. Soalnya Mas Awan kan dulu populer … banyak yang suka. Aku pikir, model orang gak gaul kayak aku ya gak akan mungkin lah dilirik Mas Awan.”


Awan mengacak pelan poni Aurora dengan gemas. Aurora tidak tahu saja kalau bagi Awan sosok Aurora sejak awal sudah menarik hatinya. Kembali tangannya menggenggam tangan Aurora. “Yah yang penting itu sekarang, akhirnya kan kita jadi pasangan juga.” Awan menarik ujung bibirnya tersenyum lebar.

__ADS_1


Aurora membalas kalimat Awan dengan anggukan dan senyuman yang dilengkapi dengan bayangan lesung pipinya. Namun, dalam hatinya Aurora tertawa geli. “Astaga, lucu banget ya kita, Mas. Kayak judul lagu aja, Jodoh Pasti Bersama.”


__ADS_2